Novel

Chapter 1: Ballroom Penghinaan

Arini menghadapi penghinaan publik di ballroom hotel saat mantan suaminya, Dito, memutarbalikkan fakta perceraian mereka. Di tengah kehancuran reputasinya, Bramantyo muncul menawarkan kontrak pertunangan palsu sebagai perisai strategis. Arini menyadari bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mempertahankan sisa aset dan martabatnya, meski harus terikat dengan pria yang lebih berbahaya daripada Dito.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Ballroom Penghinaan

Lampu kristal di Ballroom Grand Emerald memantul di permukaan lantai marmer, menciptakan ilusi ruang yang lebih luas dan lebih dingin. Arini berdiri di ambang pintu, jemarinya mencengkeram tas kopling hingga kulitnya memucat. Di dalam sana, ratusan pasang mata—kolega, investor, dan para predator sosial—menunggu untuk menyaksikan kejatuhannya.

Di atas panggung, Dito berdiri dengan setelan jas yang tampak seperti baju zirah. Ia tidak sedang memberikan pidato; ia sedang melakukan eksekusi publik.

“...dan inilah alasan mengapa integritas adalah fondasi perusahaan kami,” suara Dito menggema, tenang dan presisi. Di layar raksasa di belakangnya, dokumen perceraian yang telah dimanipulasi terpampang nyata. “Saya tidak bisa lagi menoleransi pengkhianatan yang dilakukan oleh seseorang yang dulu saya anggap mitra paling setia.”

Riuh rendah bisikan menyapu ruangan seperti gelombang pasang. Arini merasakan tatapan menghakimi itu menusuk punggungnya. Dito telah melangkah jauh melampaui perceraian; ia telah menghapus jejak Arini dari aset perusahaan dan kini, di depan para pemegang saham, ia sedang menuntaskan pembunuhan karakter. Oksigen di ruangan itu terasa menipis. Lima tahun membangun pijakan profesional, dan kini semuanya runtuh dalam satu pidato yang dirancang dengan cermat.

Arini memutar tubuh, berniat keluar sebelum ia benar-benar hancur di depan umum. Namun, sebuah tangan kokoh mencengkeram lengannya. Bukan cengkeraman kasar, melainkan tekanan otoritatif yang menuntut perhatian.

Bramantyo berdiri di sana. Setelan jasnya tampak lebih tajam, lebih gelap, dan lebih mahal daripada milik siapa pun di ruangan itu. Tatapannya dingin, namun ada urgensi yang terselubung di balik sorot matanya yang tajam.

“Ikut aku,” bisik Bramantyo. Suaranya rendah, namun memiliki gravitasi yang mustahil untuk diabaikan.

“Aku tidak butuh penyelamat, Bramantyo,” balas Arini, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang.

“Kau tidak butuh penyelamat, kau butuh perisai,” pria itu menariknya menjauh dari kerumunan, membawa Arini ke koridor VIP yang sunyi. Ia melepaskan cengkeramannya tepat saat mereka sampai di balik pintu kayu mahoni yang kedap suara. “Dito tidak hanya ingin menceraikanmu. Dia ingin memastikanmu tidak punya pijakan untuk bangkit kembali. Dia sudah mengosongkan rekening pribadimu sebelum pengumuman itu dibuat.”

Arini terdiam. Informasi itu menghantamnya lebih keras daripada pidato Dito tadi. Di ruang pertemuan privat yang dingin, Bramantyo menghamparkan selembar dokumen di atas meja kaca. Itu adalah draf pertunangan palsu—sebuah kontrak yang seputih salju dan sekejam vonis mati.

“Kenapa kau mau melakukan ini?” tanya Arini, suaranya kini dingin, mencoba memulihkan sisa martabatnya.

“Aku butuh citra pria yang sudah berkomitmen untuk memenangkan tender besar yang membutuhkan stabilitas keluarga,” jawab Bramantyo tanpa basa-basi. “Dan kau butuh seseorang yang bisa membuat Dito tidak berani menyentuh sisa asetmu lagi. Ini transaksi, Arini. Bukan amal.”

Arini menatap dokumen itu. Jika ia menandatangani kontrak ini, ia bukan lagi wanita yang dicampakkan; ia menjadi milik Bramantyo—pria yang reputasinya jauh lebih berbahaya daripada Dito. Namun, jika ia menolak, besok pagi ia tidak hanya akan kehilangan reputasi, tapi juga atap di atas kepalanya.

Bramantyo mendekat, aroma kayu cendana dan maskulinitas yang tajam menguar darinya. Ia menunduk, berbisik tepat di samping telinga Arini, membuat napasnya tertahan.

“Biarkan mereka melihatmu bersamaku, dan Dito akan kehilangan segalanya.”

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced