Bukti Publik Pertama
Cermin setinggi langit-langit di suite pribadi Bramantyo bukan sekadar alat pemantul bayangan; itu adalah saksi bisu transformasi Arini. Gaun sutra midnight blue yang dipilih Bramantyo—potongan asimetris yang mengekspos bahu kirinya—terasa seperti zirah yang dingin. Ia bukan lagi wanita yang dipermalukan di ballroom dua hari lalu. Ia adalah aset yang sedang dipoles untuk sebuah transaksi.
Bramantyo melangkah masuk, setelan jasnya tampak seperti kulit kedua yang tak tertembus. Ia berhenti tepat di belakang Arini, menatap pantulan mereka di cermin. "Riasanmu terlalu tipis," ujarnya datar, jemarinya yang dingin menyentuh bahu Arini, menyesuaikan letak gaun itu dengan presisi seorang pengusaha yang memeriksa kualitas barang investasi. "Malam ini, kau tidak datang sebagai korban perceraian. Kau datang sebagai wanita yang memegang kartu as."
Arini menegakkan punggung, menatap tajam pantulan Bramantyo. "Aku tidak butuh topeng, Bram. Aku butuh Dito kehilangan akses ke seluruh aset yang ia curi dariku."
Bramantyo tersenyum tipis, sebuah gerakan yang nyaris tak terlihat. "Maka berikan mereka pertunjukan yang layak. Mereka akan melihat wanita yang kupilih, bukan wanita yang mereka buang."
Ballroom Grand Emerald dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan desas-desus yang menyesakkan. Saat mereka melangkah masuk, percakapan di sekitar mereka mereda seketika. Bramantyo berjalan dengan tenang, bahu lebarnya menjadi dinding kokoh yang memisahkan Arini dari tatapan sinis para kolega. Di sudut ruangan, Dito berdiri bersama sekelompok investor. Saat melihat mereka, Dito membeku, lalu mendekat dengan senyum yang dipaksakan.
"Arini? Menarik sekali melihatmu di sini," sapa Dito, suaranya sarat nada merendahkan. "Kau benar-benar punya cara untuk bangkit dari kubur, ya?"
Sebelum Arini sempat membalas, Bramantyo melingkarkan lengannya di pinggang Arini, menariknya rapat hingga bahu mereka bersentuhan. Cengkeramannya posesif, sebuah klaim yang terlihat nyata di mata para tamu. "Dito," sapa Bramantyo dingin. "Sepertinya kau terlalu fokus pada mantan istriku sampai lupa bahwa audit keuangan perusahaanmu akan mencapai meja direksi besok pagi."
Wajah Dito memucat. "Kau tidak bisa melakukan itu. Itu rekaman pribadi!"
"Rekaman?" Bramantyo terkekeh, suaranya rendah dan tajam. "Aku tidak bicara tentang rekaman suara yang kau edit dengan ceroboh. Aku bicara tentang bukti pengalihan aset ilegal yang sudah kuserahkan pada pihak berwenang. Nikmatilah pestanya, Dito. Ini mungkin yang terakhir bagimu."
Arini menatap Dito yang terpojok, lalu beralih pada Bramantyo. Pria itu tidak sedang melindunginya karena simpati; ia sedang menyingkirkan hambatan. Namun, saat Bramantyo menatapnya, ada kilatan yang berbeda—sebuah kepuasan yang lebih dari sekadar urusan bisnis. Bramantyo meraih tangan Arini, jari-jarinya yang hangat menggenggam jemari Arini dengan erat di depan para investor yang mulai memperhatikan mereka.
"Senyum, Arini," bisik Bramantyo di dekat telinganya, napasnya terasa hangat di kulit leher Arini. "Sandiwara ini baru saja dimulai, dan kau adalah pemeran utamanya."
Arini terdiam, menyadari bahwa ia telah masuk ke dalam permainan yang lebih besar. Ia telah mendapatkan perlindungan, namun ia mulai mempertanyakan apakah ia baru saja menukar satu penjara dengan penjara lainnya yang lebih mewah. Di saku jas Bramantyo, ia melihat sekilas sudut dokumen yang tertinggal—sebuah kunci rahasia yang mungkin bisa mengubah segalanya.