Novel

Chapter 11: Pertemuan Terakhir dengan Alia

Raka tiba di ruangan persembunyian terakhir Alia di pinggir gudang Jalan Melati 27 dengan waktu satu hari tersisa sebelum arsip dibakar. Alia mengungkap motif lengkap di balik hilangnya—melindungi Buku Hitam yang menghubungkan skandal lama Pak Hadi dengan kekuasaan politik sekarang, termasuk keterlibatan ibu Raka. Ia menyerahkan salinan digital terakhir. Saat suara mobil orang suruhan Pak Hadi mendekat, mereka terpaksa berpisah: Alia mengalihkan perhatian agar Raka bisa meloloskan bukti. Raka berhasil kabur membawa flashdisk, tapi kehilangan kontak dengan Alia dan menerima ancaman baru, memperketat pilihan akhir yang harus diambil dalam hitungan jam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pertemuan Terakhir dengan Alia

Raka mendorong pintu kayu reyot di belakang gudang tua Jalan Melati 27 tepat pukul 02.17 dini hari. Dada masih sesak setelah lari dari studio Mira yang kacau. Dua lembar paling berbahaya dari Buku Hitam menempel lengket di kulitnya di bawah jaket, seolah membakar. Satu hari tersisa sebelum arsip tersegel dibakar besok malam. Satu hari sebelum seluruh kebenaran lenyap selamanya.

Ruangan kecil itu lembab, bau cat mengelupas dan tanah basah. Tempat masa kecil mereka dulu. Kini hanya ada bayang-bayang dan detak jam yang tak terlihat.

"Raka." Suara pelan tapi tajam memecah keheningan.

Alia melangkah keluar dari balik tirai compang-camping. Wajahnya lebih kurus, mata merah karena kurang tidur, tapi tatapannya masih membara seperti dulu. "Aku hampir yakin kau tak akan datang setelah apa yang terjadi di studio."

Raka menutup pintu pelan, napasnya masih pendek. "Pesan suaramu bilang sebelum pagi. Aku datang. Sekarang katakan semuanya, Alia. Aku tak punya waktu lagi untuk teka-teki."

Alia mengangguk sekali. Mereka duduk di dua kursi plastik reyot yang sudah usang. Di luar, hujan gerimis mengetuk atap seng. Raka merasakan dua lembar Buku Hitam di dadanya seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya.

"Ini bukan sekadar hilangnya aku," kata Alia, suaranya rendah tapi jelas. "Buku Hitam itu mencatat aliran uang keluarga selama dua puluh tahun. Dari skandal lama yang menutupi kematian ayahku—yang sebenarnya diperintahkan Pak Hadi—sampai ke rekening-rekening yang masih mengalir ke jaringan politik sekarang. Ibumu juga terlibat, Raka. Kau sudah lihat bukti itu di gudang. Aku menghilang bukan karena takut mati. Aku menghilang supaya bukti ini selamat. Kalau aku muncul terlalu cepat, mereka akan bunuh aku dan bakar semuanya. Kau satu-satunya yang bisa bawa keluar."

Raka merasa dada sesak. Gambaran ibunya di entri terakhir Buku Hitam masih terbayang. "Lalu kenapa kau percaya padaku sekarang?"

Alia tersenyum tipis, pahit. "Karena kau sudah memutar cuplikan itu di siaran Mira. Kau sudah bakar jembatan. Tak ada jalan kembali."

Ia mengeluarkan flashdisk kecil berbalut kain hitam lusuh dari saku jaketnya. "Ini salinan digital terakhir. Semua halaman yang hilang, semua nama, semua transfer. Kalau arsip asli terbakar besok malam, ini satu-satunya yang tersisa."

Raka mengambil flashdisk itu. Jari-jarinya dingin. Beratnya bukan pada plastik kecil itu, melainkan pada pilihan yang kini tergeletak di telapak tangannya.

Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar samar dari jalan berdebu di luar. Lambat, tapi mendekat. Raka menegang. Alia langsung berdiri.

"Pak Hadi," bisik Alia. "Dia tahu aku di sini. Orang suruhannya sudah bergerak sejak kau keluar dari studio."

Suara mobil semakin jelas. Ban berdecit pelan di tanah basah. Lampu sorot menyapu dinding luar gudang sebentar sebelum padam. Raka merogoh jaketnya, memastikan dua lembar asli Buku Hitam masih menempel aman di dada. Flashdisk baru ini harus keluar hidup-hidup.

"Kita tak punya waktu," kata Raka cepat. "Kau ambil jalan belakang ke sungai. Aku keluar lewat depan, tarik perhatian mereka."

Alia menggeleng keras. "Tidak. Kau yang bawa flashdisk. Kau yang harus sampai ke tempat aman. Aku bisa hilang lagi—aku sudah latihan selama ini. Tapi kalau mereka tangkap aku malam ini, semuanya selesai."

Suara pintu mobil terbuka di luar. Langkah kaki berat mendekat. Dua, mungkin tiga orang. Raka merasakan detak jantungnya naik ke tenggorokan.

"Alia..."

"Dengar," potong Alia, tangannya mencengkeram lengan Raka kuat-kuat. "Aku tak pernah ingin warisan ini. Aku hanya ingin keadilan untuk ayahku. Dan untukmu. Kalau besok arsip terbakar, gunakan flashdisk ini. Publikasikan semuanya. Jangan biarkan Pak Hadi menang."

Langkah kaki sudah di depan gudang. Suara berbisik kasar terdengar: "Cek belakang. Dia pasti di dalam."

Alia melepaskan pegangannya. Matanya berkaca-kaca sebentar, lalu mengeras lagi. "Pergi sekarang. Aku akan buat mereka sibuk."

Raka ingin membantah, tapi waktu sudah habis. Ia menyimpan flashdisk ke dalam saku dalam jaket, tepat di samping halaman ledger asli yang sudah kusut. Lalu ia berlari ke pintu samping yang mengarah ke lorong gelap di antara gudang-gudang.

Di belakangnya, Alia membalikkan meja plastik dengan sengaja—suara keras menggema. "Sini!" teriaknya sengaja, suaranya mengalihkan perhatian.

Raka terus berlari. Kakinya menyentuh genangan air, napasnya memburu. Di belakang, terdengar teriakan pria-pria berjas hitam. Suara langkah mengejar. Satu tembakan peringatan mengudara, menggema di malam yang basah.

Ia melompat pagar rendah, mendarat di tanah lumpur, lalu terus berlari ke arah jalan raya kecil yang masih sepi. Flashdisk di saku jaketnya terasa panas. Dua lembar Buku Hitam di dada semakin lengket oleh keringat.

Alia sudah hilang lagi ke dalam kegelapan, seperti yang dia rencanakan sejak awal. Tapi kali ini Raka tahu motif lengkapnya. Dan tahu bahwa besok malam, arsip tersegel akan dibakar.

Satu hari tersisa.

Ponsel di sakunya bergetar sekali—pesan dari nomor tak dikenal: "Kami tahu kau bawa salinannya. Serahkan, atau Alia yang akan kami ambil pertama."

Raka tak berhenti berlari. Di dadanya, beban bukti terasa semakin berat. Besok ia harus memilih: selamatkan Alia, atau selamatkan kebenaran yang akan menghancurkan keluarganya selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced