Novel

Chapter 12: Sebelum Mereka Menyatakan Semuanya Hilang

Di babak terakhir ini, Raka dan Alia berhadapan langsung dengan ancaman orang suruhan Pak Hadi saat arsip tersegel mulai dibakar di gudang tua Jalan Melati 27. Alia mengalihkan perhatian agar Raka dapat meloloskan bukti Buku Hitam yang paling berbahaya. Raka menghadapi konfrontasi langsung dengan Pak Hadi di tengah asap dan api, menolak ultimatum menyerahkan bukti. Ia berhasil mengunggah salinan digital terakhir ke publik melalui studio livestream Mira, memicu kekacauan dan kemarahan keluarga Pak Hadi. Dalam pelarian, Raka harus memilih antara menyelamatkan Alia atau memastikan kebenaran tersebar sebelum arsip dibakar, sebuah keputusan yang akan menghancurkan kekuasaan keluarga sekaligus menentukan nasib mereka berdua.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Sebelum Mereka Menyatakan Semuanya Hilang

Langit malam di Jalan Melati 27 berubah menjadi lautan asap dan api, membakar sisa-sisa arsip tersegel yang akan hilang selamanya besok malam. Raka dan Alia tiba dengan napas terengah, membawa beban berat dua lembar Buku Hitam yang masih menempel di dada Raka dan flashdisk salinan digital terakhir yang tersembunyi dalam saku jaket. Waktu tinggal hitungan jam, dan bau terbakar yang menusuk hidung menandakan bahwa orang suruhan Pak Hadi sudah memulai misi penghancuran.

"Kita harus masuk sekarang," bisik Alia dengan mata yang tajam menelusuri kegelapan sekitar. Suara langkah berat dan bisikan anak buah Pak Hadi mulai mengelilingi mereka dari tiga sisi. Raka menelan ludah, menyadari betapa sempitnya ruang gerak mereka. Mereka menyelinap ke dalam gudang yang setengah terbuka, di mana tumpukan karton dan lembar arsip berserakan. Api kecil mulai menjalar dari sudut belakang, panasnya mulai terasa menyengat kulit.

Tiba-tiba, suara langkah mendekat dengan cepat. Anak buah berjas hitam muncul, mengepung mereka. "Mereka datang!" Alia mendesis sambil menarik Raka ke balik tumpukan kayu tua. Jantung Raka berdegup kencang, tapi ia memilih tenang, menyiapkan strategi terakhir. Dengan gerakan cepat, ia memanfaatkan api yang mulai membesar sebagai pengalih perhatian. Alia berhasil meloloskan diri ke kegelapan malam, sementara Raka menghadapi serbuan yang semakin rapat, terjebak dalam pilihan yang semakin sulit.

Asap hitam pekat membubung tinggi, membungkus seluruh gudang dalam gulungan kabut panas yang mengaburkan pandangan. Dari balik asap, muncul sosok Pak Hadi dengan wajah dingin dan tatapan tajam. "Serahkan bukti itu, Raka," suaranya menggelegar, menyiratkan ancaman yang tak bisa diabaikan. Dua orang berjas hitam mengapit Raka, mengurungnya dalam lingkaran tekanan yang kian memuncak.

Raka menatap balik dengan tekad membara. "Kebenaran bukan beban yang harus kalian sembunyikan," jawabnya tegas. Pak Hadi melangkah lebih dekat, suaranya menuntut pilihan yang mengerikan: "Kau bisa simpan nyawamu, atau hancurkan keluargamu."

Detik-detik berlalu. Raka menyalakan ponsel, tangannya gemetar namun penuh tekad. Dalam layar, unggahan digital terakhir Buku Hitam sudah siap disebarkan. Dengan satu sentuhan, video bukti tentang aliran dana gelap dan keterlibatan politik yang selama ini tersembunyi meledak ke publik. Suara Mira yang panik terdengar dari kejauhan, mencoba mematikan siaran di studio livestream yang selama ini digunakan keluarga Pak Hadi untuk menutupi kebenaran.

Di dalam studio, Mira berlari ke konsol, wajahnya diliputi panik dan ketakutan. Namun sebelum ia berhasil memutus siaran, layar besar menampilkan halaman terakhir Buku Hitam yang mengungkap rahasia gelap keluarga dan jaringan politiknya. "Tidak!" teriak Mira, namun Raka sudah memastikan bukti itu tersebar luas. Kekacauan meletus, orang-orang suruhan Pak Hadi mulai mengepung studio, tapi Raka berhasil meloloskan diri dengan bukti digital di tangan.

Malam itu, di lorong-lorong gelap dekat gudang, Raka berlari dengan napas terputus-putus. Suara langkah berat dari orang suruhan Pak Hadi semakin dekat. Alia, yang sengaja mengalihkan perhatian demi keselamatan Raka, menghilang ke kegelapan. Di benak Raka, gema kata-katanya terus menguat: "Kau harus selamatkan bukti itu. Jangan biarkan kebenaran lenyap bersama api."

Namun pilihan itu membebani Raka lebih dari sekadar lembaran kertas yang ia bawa. Dia harus memilih: mengejar Alia yang berisiko tertangkap, atau memastikan bahwa kebenaran yang selama ini tersembunyi dapat diungkap ke publik. Detik-detik terakhir sebelum pembakaran arsip tersegel semakin mendesak, dan keputusan ini akan menentukan nasib bukan hanya mereka, tapi masa depan kekuasaan keluarga Pak Hadi.

Dalam kepungan yang semakin rapat dan tekanan yang mencekam, Raka mengayunkan langkah pasti menuju masa depan yang penuh ketidakpastian. Api di belakangnya terus membakar, menghancurkan masa lalu yang penuh kebohongan, sementara di depan, kebenaran mulai terbuka dengan harga yang sangat mahal.

Dalam hitungan jam terakhir sebelum arsip dibakar, Raka harus memilih: selamatkan Alia atau selamatkan kebenaran yang akan menghancurkan keluarga selamanya.

---

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced