Novel

Chapter 10: Konfrontasi di Studio

Raka menyusup ke ruang kontrol studio livestream Mira, memutar cuplikan entri terakhir Buku Hitam di siaran langsung, memaksa publik melihat bukti keterlibatan Pak Hadi. Mira panik dan mencoba mematikan siaran sementara orang suruhan Pak Hadi menyerbu. Raka berhasil meloloskan diri setelah video menyebar luas. Ia menerima pesan suara terakhir Alia yang meminta pertemuan sebelum pagi di tempat masa kecil mereka. Hitungan mundur arsip tersegel tetap satu hari sebelum dibakar besok malam, dengan Raka kini semakin terpojok sebagai buronan.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Konfrontasi di Studio

Raka menekan punggung ke tumpukan kotak kabel di ruang kontrol studio livestream Mira, napasnya pendek. Dua lembar paling berbahaya dari Buku Hitam menempel ketat di dada di bawah kausnya, ujung-ujungnya menggigit kulit setiap kali ia bergerak. Satu hari. Besok malam arsip tersegel itu akan dibakar. Satu hari sebelum seluruh kebenaran lenyap selamanya.

Ia melirik jam tangan murahan. Siaran malam Mira sedang berlangsung di ruang utama. Dari monitor ruang kontrol, ia melihat wajah Mira tersenyum lebar di depan kamera, membahas “spekulasi menghilangnya pewaris” dengan nada sensasi yang sudah terlalu sering ia dengar. Raka tidak punya waktu lagi untuk ragu.

Langkah sepatu karet penjaga mendekat di lorong. Raka menyelinap masuk lewat pintu servis yang tak terkunci sepenuhnya, jarinya gemetar saat menyambungkan ponsel cadangan ke port USB cadangan. Layar utama ruang siaran masih menampilkan Mira.

“Sekarang,” bisiknya.

Ia menekan enter.

Di ruang siaran utama, layar besar di belakang Mira tiba-tiba berubah. Gambar halaman Buku Hitam muncul tajam: tinta pudar, cap stempel perusahaan ibu Raka, dan catatan tangan yang jelas. Suara rekaman Raka menggema keras:

“Ini bukan rumor. Ini entri terakhir Buku Hitam. Pak Hadi memerintahkan pembunuhan sopir yang tahu terlalu banyak. Dana mengalir melalui perusahaan ibu saya ke rekening politik lama. Alia melihat semuanya. Dan keluarga ini memilih membakar bukti daripada menghadapi kebenaran.”

Mira berbalik cepat, wajahnya memucat di bawah riasan tebal. “Matikan! Matikan siaran sekarang!” teriaknya ke kru, tangan meraih remote darurat.

Raka sudah mengunci akses dari ruang kontrol. Siaran tetap hidup. Kolom komentar langsung meledak:

“Ini asli?”

“Pak Hadi bunuh orang?”

“Alia masih hidup?”

Mira berlari ke arah ruang kontrol, sepatu haknya berdebam. “Raka! Kamu gila! Ini akan hancurkan semuanya!”

Pintu ruang kontrol didobrak keras. Dua pria berjas hitam—orang suruhan Pak Hadi—masuk. Yang pertama langsung menyambar bahu Raka. Raka memukul tangan itu, menyodok rusuk pria kedua dengan siku. Monitor bergoyang, salah satu kabel terlepas, tapi siaran masih berjalan.

“Lihat ini,” kata Raka sambil menunjuk layar yang terus memutar halaman demi halaman. “Ini bukti Alia tidak hilang diam-diam. Dia ingin kalian tahu sebelum arsip dibakar besok malam.”

Mira berhasil menekan tombol darurat. Lampu studio berkedip-kedip. Terlambat. Video sudah tersebar ke ribuan ponsel. Beberapa akun besar langsung membagikan ulang cuplikan itu.

Salah satu pria berjas hitam mengeluarkan pisau lipat. Raka mundur, meraih kursi putar dan melemparkannya. Kursi menghantam dada pria itu, membuatnya terhuyung. Raka melompat ke pintu samping yang mengarah ke lorong belakang.

“Berhenti!” teriak Mira, suaranya pecah. “Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan! Pak Hadi akan—”

Raka tidak menunggu. Ia berlari menyusuri lorong sempit, melewati rak peralatan cadangan, keluar melalui pintu darurat ke gang belakang gedung. Udara malam kota yang pengap menyambutnya, bercampur bau asap knalpot dan gorengan pinggir jalan. Sirene polisi sudah terdengar mendekat dari kejauhan.

Ia terus berlari, menyusup di antara mobil-mobil parkir, lalu masuk ke gang sempit yang dipenuhi kabel listrik tergantung rendah. Dada terasa panas di tempat lembar Buku Hitam menempel. Bukti itu masih utuh. Video siaran sudah meledak. Publik mulai meragukan narasi keluarga yang selama ini Mira jual sebagai hiburan.

Di ujung gang, ponsel cadangannya bergetar keras. Raka berhenti di bawah lampu jalan yang redup, napas tersengal. Nama Alia muncul di layar. Pesan suara baru.

Ia menekan play dengan jari yang masih bergetar karena adrenalin.

Suara Alia terdengar cepat, tegang, hampir berbisik: “Raka, dengarkan baik-baik. Ini bukan lagi soal warisan. Aku punya semua yang kita butuhkan di tempat aman. Tapi aku tak bisa lama-lama. Temui aku sebelum pagi, di tempat kita dulu sering main waktu kecil. Jangan percaya siapa pun selain aku. Mereka sudah dekat.”

Rekaman berhenti. Raka menatap ponsel sejenak. Pesan itu mengubah segalanya. Alia masih hidup. Tapi pertemuan itu berarti memasuki jebakan yang lebih besar—mungkin Pak Hadi sudah menunggu di dekat gudang lama.

Di kejauhan, lampu sorot mobil hitam menyapu gang. Raka menyelipkan ponsel ke saku, menarik jaket lebih rapat menutupi bukti di dadanya, dan berlari lagi ke dalam kegelapan kota. Siaran malam ini telah meledakkan kebenaran ke udara terbuka. Tapi besok malam arsip asli akan dibakar. Dan sekarang, ia harus menemui Alia sebelum pagi tiba—atau kehilangan segalanya selamanya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced