Gudang yang Akan Dibakar
Raka mendarat di tanah basah di balik pagar besi gudang tua Jalan Melati 27. Lututnya menghantam kerikil, nyeri menjalar hingga pinggang. Dua hari lagi arsip tersegel di dalam akan dibakar besok malam—artinya besok siang ia sudah kehabisan waktu. Pesan suara Alia yang baru diterimanya di pasar malam masih berputar di kepala: “Aku masih hidup. Gudang itu tempat terakhir. Ambil Buku Hitam sebelum mereka bakar semuanya.”
Lampu sorot mobil hitam menyapu pagar dari kejauhan. Raka menempelkan punggung ke dinding bata lembab, napasnya pendek-pendek. Deru mesin truk pembongkaran sudah terdengar samar di ujung jalan. Ia bukan satu-satunya yang datang malam ini.
Ia memanjat pagar kedua yang lebih rendah, telapak tangan mencengkeram besi berkarat hingga perih. Begitu kakinya menyentuh tanah di dalam, ia berlari membungkuk menuju pintu samping. Kunci cadangan yang dicurinya dari jas pengawal Pak Hadi kemarin masih hangat di saku jaket.
Klik.
Pintu besi terbuka pelan, terlalu keras di telinganya. Bau debu dan kertas lama langsung menyergap. Di sudut ruangan, kotak besi besar berdiri seperti peti mati. Raka berlutut, memutar kombinasi yang Alia sebutkan—tanggal lahir ibunya sendiri. Segel lilin retak saat tutup terbuka.
Tumpukan amplop cokelat rapi. Yang paling tebal bertuliskan tangan Alia: “Halaman Terakhir Buku Hitam – Jangan Baca di Depan Mereka.”
Raka merobeknya. Kertas tebal berderit. Tulisan tangan Alia langsung menusuk:
“Pak Hadi memerintahkan pembunuhan supir yang tahu terlalu banyak. Uangnya mengalir ke rekening politisi lama melalui perusahaan ibumu. Aku menyaksikan semuanya tahun lalu. Besok pagi aku akan siarkan semuanya di studio Mira. Kalau aku tidak muncul, berarti mereka sudah sampai duluan.”
Raka merasa dada sesak. Ibu yang dulu ia anggap korban ternyata roda penggerak yang sama. Pak Hadi bukan sekadar menutupi—ia yang memutar mesin itu. Setiap baris yang dibacanya memperjelas: Alia bukan korban hilang. Ia sedang memasang bom waktu.
Di luar, deru truk semakin dekat. Lampu sorot putih menyapu jendela berdebu. Raka buru-buru memotret halaman-halaman penting dengan ponsel cadangan. Dua lembar paling berbahaya—yang menyebut nama Pak Hadi dan aliran dana ke istana lama—ia lipat kecil, masukkan ke dalam kaus, menempel langsung ke kulit dada yang berkeringat.
Sisanya—arsip lengkap yang membuktikan niat Alia mempublikasikan besok pagi—masih tergeletak di lantai.
Langkah berat mendekat. Suara radio polisi berderak: “Target terlihat di area gudang. Buronan pembunuhan informan pasar malam.”
Raka menyumpah pelan. Mobil hitam Pak Hadi sudah tiba. Ia menyambar tas kecil, memasukkan tiga amplop lagi yang masih bisa dibawa, lalu meninggalkan sisanya. Tidak ada waktu menyelamatkan semuanya.
Ia meluncur ke balik tumpukan kardus tua, napas ditahan. Cahaya senter menyapu dinding tepat di atas kepalanya. Bau oli dan kertas basah bercampur dengan keringat yang dingin. Satu detik lagi, mereka akan masuk.
Raka merayap ke jendela belakang yang retak. Kaca pecah menggores lengannya saat ia menerobos keluar. Ia mendarat di semak-semak, jaket robek, tapi bukti di dada masih utuh.
Di belakangnya, pintu gudang dibuka paksa. Teriakan perintah terdengar. Truk pembongkaran sudah parkir di depan, lampunya membakar malam.
Raka berlari menyusuri gang sempit di antara rumah-rumah tua yang dindingnya penuh pengumuman pembongkaran. Sirene polisi meraung di kejauhan. Setiap langkah terasa seperti utang yang semakin besar.
Ia berhenti sejenak di balik tiang listrik, mengeluarkan ponsel. Layar menunjukkan pukul 01.47. Hitung mundur kini tinggal satu hari penuh—besok malam gudang ini akan jadi abu, dan besok pagi Alia rencananya akan bicara di depan kamera Mira.
Tapi sekarang ia tahu: Pak Hadi sudah selangkah di depan. Dan ibunya sendiri pernah menjadi bagian dari mesin itu.
Raka menekan dada, merasakan kertas yang menempel di kulit seperti bara api. Bukti ini sekarang adalah satu-satunya harapan—sekaligus target pembunuhan berikutnya.
Ia melanjutkan lari, bayangan mobil hitam masih mengikuti di ujung jalan.
Satu hari lagi. Segala sesuatu akan hancur besok.
Atau justru terungkap.