Jejak Suara di Pasar Malam
Raka baru saja keluar dari rumah Pak Hadi ketika ponsel cadangannya bergetar di saku jaket. Ia belum sempat menjauh dua puluh langkah dari pagar besi yang masih berderit itu. Malam sudah larut, tapi jantungnya masih berdegup kencang karena penolakan tawaran terakhir sang paman.
Ia menekan play dengan jari yang masih gemetar.
"Raka... aku masih hidup." Suara Alia terdengar parau, hampir hilang di tengah deru angin dan suara klakson jauh. "Aku bersembunyi dekat gudang tua di pinggir Jalan Melati 27. Koordinatnya aku kirim sekarang. Tapi dengar baik-baik—mereka sudah tahu kamu dengar ini. Polisi akan mengejarmu sebagai tersangka kematian informan yang belum terjadi. Waktu tinggal dua hari sebelum arsip asli dibakar. Jangan percaya siapa pun. Termasuk keluarga."
Pesan itu berakhir dengan bunyi klik pendek. Raka langsung membuka lampiran: satu set koordinat GPS yang berkedip di layar. Ia menelan ludah. Dua hari. Hitungan mundur yang tadinya tiga hari di rumah Pak Hadi kini menyusut tanpa ampun.
Ia mematikan suara ponsel, menyimpannya ke dalam jaket yang masih lembab dari hujan semalam, dan langsung berbalik menuju pasar malam yang tak pernah tidur di ujung jalan. Tempat itu satu-satunya rute tercepat menuju gudang tanpa melewati jalan utama yang sudah penuh kamera.
Pasar malam menyambutnya dengan ledakan cahaya neon dan bau sate kambing yang gosong. Kerumunan padat mendorong-dorong, tapi Raka tidak berhenti. Ia menyelinap di antara gerobak mie ayam dan tenda baju bekas, telinga tetap waspada terhadap setiap langkah di belakang. Setiap detik di sini berarti risiko: wajahnya sudah muncul di berita Mira sejak siaran malam itu. Satu orang mengenalinya, dan polisi akan datang dalam hitungan menit.
Di sudut dekat panggung dangdut yang masih ramai, ia melihat sosok yang ditunggu. Seorang pria paruh baya bertopi lusuh berdiri di bawah lampu kuning redup, tas kain di bahunya tampak berat. Informan yang pernah dihubungi kerabat jauh minggu lalu.
"Kamu datang," kata pria itu pelan saat Raka mendekat. "Arsip tersegel ada di gudang barat gudang tua itu. Koordinat yang sama dengan pesan Alia. Tapi ada satu lagi—halaman terakhir Buku Hitam yang asli. Aku simpan di sini." Ia menyodorkan amplop cokelat tipis yang sudah kusut.
Raka meraihnya cepat. "Apa isinya?"
"Bukti aliran uang ke jaringan politik lama. Nama Pak Hadi dan... ibumu juga ada. Alia tahu ini semua. Dia sengaja hilang untuk mengumpulkannya, bukan diculik." Pria itu melirik ke belakang. "Tapi sekarang mereka sudah tahu aku bicara denganmu."
Belum sempat Raka membuka amplop, suara tembakan pecah di atas keramaian pasar. Peluru mengenai dada informan dengan bunyi basah. Pria itu terhuyung, tangannya masih mencengkeram amplop. Raka menunduk refleks, darah hangat menyemprot lengan jaketnya.
Kerumunan langsung berubah jadi lautan panik. Teriakan dan dorongan tubuh memenuhi udara. Raka meraih amplop dari tangan yang sudah lemas, menyimpannya ke dalam jaket bersama halaman ledger lama yang sudah basah dari dead drop sebelumnya. Ia berlari membelah kerumunan, bahu menabrak bahu, napasnya terengah.
Di belakang, sirene polisi mulai meraung. Bukan sirene biasa—ini sudah ditargetkan. "Tersangka pembunuhan di pasar malam!" terdengar dari pengeras suara jauh. Nama Raka disebut dua kali.
Ia menyelinap ke gang sempit di belakang tenda sate, sepatunya menginjak genangan air kotor. Amplop di dada terasa panas seperti bara. Setiap langkah membawa konsekuensi baru: reputasinya yang sudah hancur kini resmi menjadi buronan. Kepercayaan pada keluarga yang retak di rumah Pak Hadi kini terbakar habis. Dan Alia—ia masih hidup, tapi petunjuk ini justru membuat Raka semakin dekat dengan bahaya yang sama.
Dua hari. Jika arsip dibakar besok malam, semua bukti lenyap. Termasuk nama ibunya yang kini terikat dengan skandal yang sama.
Raka keluar dari gang dan langsung berlari ke arah gudang tua. Lampu neon di belakangnya semakin redup, digantikan kegelapan pinggiran kota. Ia tidak berani berhenti meski paru-parunya terasa terbakar. Di saku, ponsel cadangan masih menyimpan suara Alia—pesan yang seharusnya memberi harapan, tapi kini terasa seperti jebakan yang sempurna.
Di ujung jalan menuju gudang, ia sempat melihat bayangan mobil hitam melintas pelan di jalan paralel. Orang suruhan Pak Hadi. Atau yang lebih buruk. Raka mempercepat langkah, tangan kanannya menekan amplop di dada, seolah bisa melindungi isinya dari peluru berikutnya.
Malam ini bukan lagi pencarian. Ini sudah perburuan.
---
Waktu tersisa: 2 hari.