Pertemuan dengan Pak Hadi
Genangan air hujan semalam masih mengkilap di aspal ketika mobil hitam berhenti di depan gerbang besi rumah Pak Hadi. Tiga hari lagi arsip asli Buku Hitam akan dibakar. Raka merogoh jaket lembapnya, merasakan ujung kertas ledger yang tinta sebagian luntur dan foto lama yang sudutnya melengkung. Bukti itu satu-satunya yang tersisa setelah ponselnya mati total semalam.
Pengawal membuka gerbang tanpa kata. Dua orang langsung mengapitnya, tangan kanan mereka tetap dekat pinggang. Raka melangkah melewati halaman marmer yang dingin, sepatunya meninggalkan jejak basah yang cepat hilang.
Di ambang pintu, suara Pak Hadi terdengar datar.
"Masuk, Raka. Kau akhirnya datang juga."
Ruang tamu megah itu berbau kayu mahoni dan kopi pahit. Pak Hadi duduk di kursi kulit hitam, jasnya rapi, tapi urat lehernya menonjol. Map tebal sudah terbuka di meja kayu.
"Kau pikir aku tidak tahu kau masih menggali?" tanyanya pelan sambil mendorong map itu. "Lihat sendiri."
Raka membuka map. Laporan polisi, surat keterangan hilang sukarela, foto Alia bertanggal kemarin—semuanya rapi, siap disebar. Dokumen itu menyatakan Alia telah memilih menghilang, dan keluarga siap mengumumkan pemakaman jika perlu. Raka merasakan dingin merayap di tulang punggungnya.
"Keluarga ini sudah membersihkan jejak bertahun-tahun," kata Pak Hadi sambil menyandarkan punggung. "Kau cuma anak kecil yang tak paham aturan. Berhenti sekarang. Aku beri kau uang cukup untuk hidup tenang di Singapura atau Kuala Lumpur, plus jabatan di cabang perusahaan. Tak ada yang akan ganggu lagi."
Raka menatap mata pria yang dulu ia panggil paman. "Dan Alia? Dia bukan hilang begitu saja. Dia tahu sesuatu tentang Buku Hitam."
Pak Hadi tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. "Alia tahu terlalu banyak. Sama seperti ibumu dulu."
Udara seolah berhenti. Raka merasa napasnya tertahan.
Pak Hadi membuka laci, mengeluarkan amplop kuning tua. Foto-foto lama, surat-surat, dan kliping koran usang ia sebarkan di meja seperti kartu remi.
"Ibumu bukan korban skandal itu, Raka. Dia ikut terlibat. Uang keluarga yang mengalir ke jaringan politik lama… dia yang membantu menyembunyikan sebagian besar. Kami yang membersihkan namanya, mengorbankan banyak. Kalau bukan karena kami, nama keluargamu sudah hancur sejak dua puluh tahun lalu."
Raka menatap foto ibunya yang muda, berdiri di samping Pak Hadi di sebuah ruangan berpanel kayu. Tangan ibunya memegang map yang sama dengan yang ada di meja sekarang. Setiap detail masuk seperti jarum: senyum lelah ibunya saat ada tamu keluarga, cara ia selalu memalingkan muka ketika nama Pak Hadi disebut, dan kenapa ia sering menatap foto lama dengan mata kosong.
"Alia tahu rahasia yang sama," lanjut Pak Hadi, suaranya pura-pura lembut. "Dia tak mau kau terjebak seperti ibumu. Berhenti. Ambil tawaran ini. Atau kau kehilangan segalanya—reputasi yang sudah hancur di livestream Mira, kebebasan, bahkan nyawa. Mobil hitam yang mengawasimu bukan main-main."
Raka berdiri perlahan. Tangan kanannya mengepal di saku jaket, merasakan ujung foto dari dead drop yang menunjukkan Pak Hadi berdiri di lokasi kecelakaan lama, tangannya memegang dokumen yang sama. "Bapak takut Buku Hitam itu keluar, kan? Entri terakhir yang menghubungkan skandal lama dengan kekuasaan sekarang. Alia tak hilang diam-diam. Dia sedang mengumpulkan semuanya. Dan aku tak akan berhenti."
Wajah Pak Hadi mengeras. "Kau memilih jalan yang salah, Nak."
Raka berbalik. Pengawal membuka pintu lebih lebar, tatapan mereka kini dingin dan terbuka—ancaman yang tak lagi disembunyikan. Saat melangkah keluar ke halaman, angin malam menusuk jaket lembapnya. Rahasia tentang ibunya terasa lebih berat daripada kertas basah di dadanya. Kepercayaan pada keluarga besar retak total.
Di gerbang, ia berhenti sejenak, menoleh ke belakang. Rumah megah itu kini terlihat seperti benteng yang pondasinya sudah retak. Pak Hadi telah memainkan kartu terkuatnya—rahasia lama yang seharusnya tak pernah terbongkar. Tapi Raka tak mundur.
Saat ia berjalan menyusuri trotoar menuju jalan raya yang ramai, ponsel cadangan di sakunya bergetar. Nomor tak dikenal. Raka ragu sejenak, lalu menekan tombol terima.
Suara Alia yang samar, terengah-engah, terdengar jelas.
"Raka… aku masih hidup. Tapi polisi sekarang memburumu. Mereka bilang kau terlibat dalam 'kematian' seseorang. Waktu tinggal dua hari. Jangan percaya siapa pun. Buku Hitam… arsip itu…"
Sinyal putus mendadak. Raka berdiri membeku di pinggir trotoar. Lampu mobil lewat cepat menerangi wajahnya yang pucat. Tawaran Pak Hadi masih bergema, rahasia ibunya masih menusuk dada, tapi pesan Alia ini mengubah segalanya. Harapan dan bahaya datang sekaligus. Dan waktu yang tersisa kini hanya dua hari.