Dead Drop di Bawah Hujan
Hujan deras menghantam aspal Jakarta seperti ribuan jarum. Raka berlari menyusuri Jalan Melati, jaket tipisnya sudah menempel ke kulit sejak ia meninggalkan studio Mira. Empat hari. Hanya empat hari lagi sebelum arsip asli dibakar. Pesan suara Alia yang masuk diam-diam saat siaran kemarin masih berputar di kepalanya: "Besok malam. Bawah jembatan tua. Tas hitam. Jangan percaya siapa pun."
Ia melompat melewati genangan air yang memantulkan lampu neon warung kopi. Setiap langkah membuat banjir kecil menyembur ke celana jeans-nya. Dua kali ia melihat bayangan mobil hitam yang sama sejak keluar dari gedung studio—mobil yang sama dengan yang mengancam kerabat jauh di toko jahit kemarin. Reputasinya sudah hancur di depan ribuan penonton Mira. Satu-satunya harapan tinggal bukti fisik yang Alia tinggalkan.
Jembatan tua muncul di depan, besi berkaratnya mengkilap basah di bawah lampu jalan kuning redup. Raka memperlambat langkah, napasnya tersengal. Hujan semakin deras, suaranya menenggelamkan segala. Ia merayap ke bawah jembatan, tangan menyentuh beton berlumut yang licin. Jari-jarinya menemukan plastik hitam yang diselipkan rapat di celah antara dua balok beton.
Ia menyambar tas itu dan langsung berlari ke gang sempit di samping jembatan, tempat atap rumah panggung tua memberi sedikit teduh. Di bawah cahaya ponsel yang sudah mulai berkedip karena air, Raka membuka tas plastik. Di dalamnya: tiga lembar ledger asli, tinta biru tua yang sebagian luntur. Angka, nama, tanggal. Dan sebuah foto lama yang terlipat rapat.
Raka membuka foto itu dengan tangan gemetar. Pak Hadi—sepuluh tahun lebih muda—berdiri di lokasi kecelakaan yang dulu disebut "tragis". Di belakangnya, mobil mewah keluarga yang sama. Tangan Raka mengepal kuat. Ini bukan sekadar catatan. Ini bukti Alia sedang mengumpulkan berkas untuk melaporkan semuanya: skandal lama yang masih mengalirkan uang keluarga ke jaringan politik sekarang. Buku Hitam bukan lagi teka-teki. Ia nyata, dan Alia berniat membongkarnya.
"Kau benar-benar melakukannya," gumam Raka pelan, suaranya hilang ditelan hujan.
Ia buru-buru mengeluarkan ponsel, mencoba memotret setiap halaman sebelum tinta semakin kabur. Layar berkedip-kedip. "Cepat..." Tapi lampu sorot mobil menyapu gang dari ujung jalan. Mobil hitam yang sama. Mesinnya meraung pelan.
Raka menekan tombol rekam video. Satu detik. Dua detik. Layar membeku. Kemudian mati total. Air sudah merembes masuk ke casing yang retak sejak siaran tadi. Semua rekaman—potongan ledger dari toko jahit, kaset dari rumah tua Jalan Melati 27, suara Alia—lenyap dalam sekejap.
"Sialan!" Ia memukul ponsel ke dinding gang hingga casingnya retak lebih parah. Tidak ada waktu menyesal. Lampu mobil semakin dekat. Raka menyumpal lembar-lembar ledger basah ke dalam jaket, menekannya erat ke dada, lalu berlari ke lorong gelap di belakang.
Sepatu sneakers-nya tergelincir di lumpur. Suara pintu mobil terbuka terdengar di belakang, diikuti langkah kaki berat yang menyusul cepat. Raka berbelok tajam ke gang yang lebih sempit, melewati tumpukan kardus basah dan motor-motor parkir yang sudah karatan. Hujan menyapu matanya, membuat penglihatan kabur, tapi ia terus berlari.
Jantungnya berdegup bukan hanya karena lari. Kesadaran baru menusuk tajam: Alia tidak hilang karena diculik. Ia menghilang karena sedang membangun kasus ini. Dan sekarang Raka memegang potongan terbaru—bukti yang membuatnya menjadi target berikutnya.
Akhirnya ia muncul di jalan kecil di belakang pasar malam yang sudah sepi. Napasnya tersengal-sengal. Ia menyentuh jaket; lembar ledger masih utuh, meski basah dan kusut. Tapi ponselnya sudah mati total. Tidak ada cadangan cloud. Tidak ada bukti digital. Hanya kertas ini yang tersisa.
Raka bersandar di dinding bata basah, air hujan mengalir deras dari rambutnya. Hitungan mundur yang tadinya empat hari kini terasa menyusut jadi tiga. Setiap detik yang ia buang di sini berarti arsip asli semakin dekat untuk dibakar. Orang-orang Pak Hadi sudah tahu ia ada di sini malam ini.
Ia menatap kegelapan, tangan masih menekan bukti di dada. Bukti fisik yang mahal harganya. Keamanannya sudah hilang. Reputasinya sudah hancur di depan publik. Tapi ia tak bisa berhenti.
Di bawah hujan deras yang tak kunjung reda, Raka tahu: ia baru saja membayar harga yang lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Dan besok, ketika Pak Hadi memanggilnya, pilihan yang tersisa akan semakin sempit.