Livestream yang Berubah Ancaman
Raka mendorong pintu kaca studio Mira tepat saat layar lobi menampilkan hitungan mundur digital: lima hari lagi sebelum arsip asli dibakar. Angka merah itu berkedip seperti denyut nadi yang semakin cepat. Ia belum sempat membersihkan lumpur dari sepatu setelah kabur dari toko jahit tadi pagi, tapi sudah tak ada waktu lagi untuk ragu.
Mira menyambutnya di pinggir panggung dengan senyum lebar yang terlatih. Rok hitamnya rapi, rambutnya tertata sempurna. "Raka, akhirnya. Kita buat wawancara eksklusif ini bermanfaat untuk semua orang—termasuk Alia." Genggaman tangannya hangat, tapi terlalu kuat.
Raka menarik tangan pelan. "Aku di sini karena pesan suara Alia. Dia bilang ada Buku Hitam dan arsip tersegel yang harus diselamatkan sebelum lenyap selamanya. Bukan untuk ratingmu."
Lampu sorot menyala bertubi-tubi. Kamera berputar pelan. Angka penonton online di layar samping melonjak dari 87 ribu ke 312 ribu dalam hitungan detik. Mira mengangguk ke kursi tamu, suaranya lembut saat mikrofon menyala. "Teman-teman semua, hari ini kita kedatangan Raka, sahabat dekat Alia. Raka, ceritakan lagi soal pesan suara itu. Benarkah Alia bilang dia sengaja menghilang?"
Raka duduk. Keringat dingin menjalar di tulang punggungnya. Ia tahu ini jebakan, tapi ini juga kesempatan terakhir bicara di depan publik sebelum narasi keluarga mengubur segalanya. "Pesan itu nyata. Alia menyebut Buku Hitam yang menghubungkan skandal lama dengan uang yang masih mengalir ke jaringan politik sekarang. Dia tak diculik. Dia merencanakan ini enam bulan lalu untuk melindungi bukti."
Mira tersenyum tipis, lalu memberi isyarat ke teknisi. Layar besar di belakang memutar klip Alia yang sudah diedit halus. Suara Alia dipotong-potong, matanya dibuat terlihat liar, gerakannya gelisah. "Lihat sendiri, teman-teman. Apakah ini tanda seseorang yang sedang tidak stabil? Atau ada yang lebih dalam?"
Chat meledak. "Kasihan Alia..." "Raka cemburu warisan ya?" "Drama keluarga kaya lagi."
Raka merasa dada sesak. Ia membuka mulut, tapi Mira sudah memotong. "Raka, kau juga bawa potongan kertas dari toko jahit tadi pagi, kan? Ceritakan ke kita. Bukti atau cuma kertas sobek?"
Jari Raka mencengkeram lengan kursi hingga memutih. "Itu bukti aliran dana ilegal yang masih aktif. Alia bukan korban hilang biasa. Dia saksi hidup yang sekarang bersembunyi untuk melindungi—"
Ponselnya bergetar keras di saku. Bukan panggilan biasa. Layar terkunci, tapi notifikasi muncul di sudut: pesan suara dari nomor tak dikenal. Suara Alia berbisik cepat, putus-putus. "Raka, jangan percaya studio ini. Mereka kerja sama dengan Pak Hadi. Entri terakhir Buku Hitam ada di dead drop Jalan Melati besok malam. Hati-hati..."
Pesan itu langsung hilang, seolah tak pernah ada. Raka menatap Mira yang masih tersenyum manis ke kamera. Wanita itu tahu. Atau paling tidak, ia bagian dari jaringan yang mengawasi setiap geraknya.
Siaran berlanjut. Setiap kali Raka mencoba membuka mulut soal ledger, Mira memutar klip Alia yang lain atau membaca komentar penonton yang semakin kasar. Narasi berputar: Raka digambarkan sebagai sahabat yang terobsesi, tak terima kehilangan, mungkin sedang mengalami gangguan jiwa karena tekanan.
Ketika lampu merah siaran akhirnya padam, Raka bangkit cepat. Mira mengikutinya ke lorong belakang. Langkahnya ringan, tapi tatapannya dingin. "Kau hampir menghancurkan semuanya tadi. Pak Hadi sudah mengirim utusan. Mereka siap menuntutmu atas pencemaran nama baik dan tuduhan palsu. Tapi aku masih bisa bantu. Kita ubah cerita ini jadi kau pahlawan yang menyelamatkan Alia dari 'tekanan mental'. Asal kau berhenti menggali Buku Hitam."
Seorang pria berjas hitam muncul dari bayangan lorong. Wajahnya datar. "Kau bukan lagi sahabat keluarga, Raka. Satu langkah lagi, nama baikmu lenyap. Bukti-bukti itu juga bisa hilang begitu saja."
Raka menatap Mira lurus. "Aku tak butuh perlindungan yang mengubur kebenaran. Alia mempercayaiku untuk menyelesaikan ini, bukan untuk jadi bagian sandiwara kalian."
Mira menghela napas panjang. Senyumnya lenyap. "Kau baru saja membakar jembatan terakhirmu di depan ratusan ribu orang. Besok pagi, berita akan bilang kau yang tidak waras."
Raka berbalik dan mendorong pintu keluar. Udara malam menyambut dengan hembusan angin dingin bercampur bau asap knalpot dan hujan yang mulai turun lagi. Ponselnya langsung berdering—notifikasi berita: "Sahabat Keluarga Hadi Sebut Alia Sengaja Hilang, Diduga Alami Gangguan Jiwa".
Reputasinya sudah hancur di mata publik. Ancaman hukum dari Pak Hadi kini resmi. Dan hitungan mundur yang tadi lima hari kini terasa menyusut menjadi empat hari sebelum arsip asli lenyap selamanya.
Ia meremas potongan ledger sobek di dalam jaketnya, langkah semakin cepat menyusuri trotoar basah. Besok malam ada dead drop di Jalan Melati. Tapi malam ini, ia harus bertahan hidup dulu dengan nama yang sudah tercoreng dan musuh yang semakin terang-terangan.
Di kejauhan, lampu neon studio Mira masih berkedip, mengubah kebenaran menjadi tontonan yang laris. Raka tahu: mulai sekarang, setiap langkah bukan lagi pencarian—melainkan perang terbuka.