Toko Jahit yang Tak Lagi Diam
Raka mendorong pintu kayu toko jahit tepat saat hujan mulai turun lagi. Genangan air di gang sempit memantulkan cahaya neon kuning dari pasar malam yang sudah sepi. Bau kain basah bercampur minyak mesin lama langsung menyerang hidungnya. Mesin jahit Singer hitam di sudut ruangan masih sama seperti yang pernah diceritakan Alia—tua, diam, tapi siap menusuk siapa saja yang mendekat.
Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih di pelipis bangkit dari balik tumpukan kain batik lusuh. Matanya menyipit tajam.
"Kau benar-benar datang, Raka. Aku sudah dengar kau kabur dari rumah tua Jalan Melati semalam. Masih bernapas rupanya."
Raka tidak membuang waktu. "Potongan yang kau janjikan di telepon. Mana? Waktu tinggal lima hari sebelum arsip asli dibakar."
Pria itu—kerabat jauh dari pihak ibu Alia—melirik ke luar gang, lalu menarik Raka ke sudut gelap di belakang rak kain. Tangan kasar itu merogoh laci meja jahit dan mengeluarkan selembar kertas sobek yang tepinya robek kasar. Tinta biru pudar masih jelas: deretan angka transfer bank, tanggal-tanggal baru-baru ini, dan nama-nama yang mengalir ke rekening-rekening politik lama.
"Ini bukan masa lalu," bisiknya sambil menyerahkan kertas itu. "Aliran dana ini masih berputar. Pak Hadi dan orang-orangnya masih memutar uang yang sama yang dulu membuat Alia ketakutan. Dia tahu semuanya. Dia sudah merencanakan hilangnya sejak enam bulan lalu—bukan diculik, tapi karena dia tak mau lagi jadi saksi yang bisa dibungkam kapan saja."
Raka merasakan dada sesak. Potongan ledger ini membuktikan bahwa skandal lama tidak pernah mati. Alia sengaja menghilang untuk melindungi rantai bukti yang menghubungkan uang keluarga dengan kekuasaan sekarang. Setiap angka di kertas itu menambah bobot di pundak Raka. Ia bukan lagi sahabat yang mencari teman—ia sekarang orang yang memegang benang yang bisa merobek seluruh keluarga.
Kerabat itu melanjutkan dengan suara gemetar, "Alia pernah bilang, warisan ini seperti mesin jahit tua ini. Sekali kau injak pedalnya, jarumnya akan terus menusuk jari siapa pun yang mendekat. Dia lelah dijadikan alat. Dia pilih hilang diam-diam supaya kau—atau siapa pun yang masih percaya—bisa menemukan Buku Hitam utuh sebelum semuanya dibakar."
Di luar gang, suara sepatu bot berat menggema di paving block basah. Dua bayangan muncul di mulut gang, jas hitam basah kuyup, wajah tersembunyi di bawah payung hitam. Salah satunya adalah pria yang sama yang mengancam Raka di depan rumah tua kemarin.
Kerabat langsung mendorong Raka ke belakang rak. "Mereka dari Pak Hadi. Sudah dua kali datang hari ini. Kalau mereka lihat kita bersama, aku yang kena duluan. Bawa kertas itu dan pergi. Sekarang!"
Raka menyimpan potongan ledger ke dalam jaket, tepat di samping kaset dari rumah tua. Jantungnya berdegup kencang. "Aku tak bisa tinggalkan kau sendirian."
"Kau sudah melibatkan aku begitu kau melangkah masuk," balas pria itu, mata penuh ketakutan yang nyata. "Ini bukan soal Alia lagi. Ini soal seluruh keluarga yang akan hancur kalau rahasia ini bocor. Pergi, Raka. Sebelum toko ini benar-benar tak lagi diam."
Langkah berat semakin dekat. Salah satu orang suruhan berhenti di depan pintu, tangan menyentuh gagang. Suaranya rendah tapi tajam, cukup keras untuk terdengar jelas di dalam. "Kami tahu kau di dalam, Raka. Pak Hadi bilang cukup sudah main detektif. Besok pagi namamu akan jadi tersangka utama hilangnya Alia. Reputasi 'sahabat keluarga'? Sudah habis."
Kerabat mendorong Raka ke pintu belakang kecil yang mengarah ke lorong sempit lain. "Lari! Jangan balik lagi ke sini."
Raka melangkah mundur, tangan masih mencengkeram kertas sobek yang terasa seperti bara. Pintu belakang tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan kerabat itu sendirian menghadapi bayangan yang mendekat.
Di ujung lorong, hujan semakin deras. Raka berlari kecil, napas tersengal. Potongan ledger di jaketnya membuktikan aliran dana ilegal masih hidup hingga hari ini. Alia telah merencanakan hilangnya selama berbulan-bulan. Dan dengan satu kunjungan ini, ia telah menyeret darah keluarganya sendiri ke dalam api yang sama.
Waktu tersisa lima hari. Tapi setelah malam ini, risiko yang harus dibayar sudah jauh lebih mahal daripada sekadar waktu.
Ia harus menemui Mira besok—meski itu berarti melangkah ke dalam studio yang siap mengubah segala kebenaran menjadi tontonan. Karena jika tidak, nama baiknya akan hancur sebelum arsip itu sendiri dibakar.