Entri Terakhir yang Sobek
Raka menekan tombol play di pemutar kaset tua tepat saat hujan menggelegar di atap seng rumah Jalan Melati 27. Bau minyak mesin jahit ibu Alia masih menyelimuti udara lembap, seolah rumah itu menolak dirobohkan besok pagi. Di ruang belakang yang gelap, hanya cahaya merah kecil dari alat rekam yang menyinari tangannya yang basah kuyup.
Suara Alia langsung memecah keheningan, serak dan terburu-buru. "Pak Hadi… transaksi itu bukan sekadar uang keluarga. Aku melihatnya sendiri. Uang mengalir ke jaringan politik yang sama dengan skandal sepuluh tahun lalu. Aku saksi hidupnya. Kalau aku hilang, itu karena mereka sudah merencanakan untuk membungkamku."
Raka menahan napas. Jantungnya berdegup lebih keras daripada derak kaset yang berputar pelan. Ini dia—entri terakhir Buku Hitam yang Alia sebut dalam pesan suaranya. Bukti yang mengaitkan kematian lama dengan kekuasaan hari ini.
Tiba-tiba langkah berat terdengar dari lantai atas. Satu. Dua. Tiga. Pelan tapi pasti, mendekati tangga. Raka langsung mematikan pemutar. Suara Alia terputus mendadak. Ia menyembunyikan kaset ke dalam saku dalam jaket lusuhnya, tangan sedikit gemetar. Langkah itu semakin dekat. Bau rokok murah menyusup dari celah pintu.
Raka merapat ke dinding, menahan napas sampai dada terbakar. Pintu berderit pelan. Bayangan hitam melintas di ambang pintu. Ia menghitung tiga detik yang terasa seperti tiga jam, lalu menyelinap keluar pintu belakang yang masih licin oleh hujan. Kaset itu kini terasa panas di dada—bukan hanya bukti, tapi target hidup.
Di trotoar basah depan rumah tua, hujan masih deras. Raka baru berjalan lima langkah ketika seorang pria berjas hitam muncul dari balik tiang listrik, menghalangi jalannya.
"Raka." Suara pria itu rendah dan tenang, tapi tajam seperti pisau. "Pak Hadi menyuruh saya sampaikan: berhenti menggali. Masa lalu sudah dikubur. Kalau kamu terus, reputasi kamu sebagai 'sahabat keluarga' akan hancur lebih dulu sebelum nyawa kamu menyusul."
Raka menatap mata pria itu tanpa berkedip. Air hujan mengalir deras di wajahnya. "Alia tidak hilang begitu saja. Dan aku punya yang bisa membuktikannya."
Pria berjas hitam tersenyum tipis, mengeluarkan rokok dan menyalakannya meski hujan. Asapnya langsung hilang ditelan angin. "Bukti bisa hilang, Raka. Seperti Alia. Pilih: mundur sekarang, atau besok pagi nama kamu sudah jadi tersangka yang iri warisan."
Raka merogoh saku jaketnya, memastikan kaset masih ada. Ia melangkah maju, melewati pria itu tanpa menjawab lagi. Setiap langkah terasa lebih berat. Kepercayaan keluarga yang dulu ia anggap rumah, kini retak di bawah kakinya.
Sepuluh menit kemudian, di kafe kecil remang-remang dua blok dari studio livestream Mira, ponsel Raka bergetar. Layar menunjukkan nama Mira.
"Raka, aku dengar kamu sudah dapat kasetnya," suara Mira langsung menusuk, manis tapi tajam. "Studio kami bisa jadi pelindungmu. Tampil live besok malam. Kita buat sensasi besar—kamu cerita soal Alia, aku atur narasinya supaya keluarga tidak bisa sentuh kamu. Publik akan lindungi kamu."
Raka memandang lampu neon studio Mira yang berkedip di genangan air. "Dan kebenarannya? Akan jadi tontonan juga?"
Mira tertawa pelan. "Kebenaran butuh panggung, Raka. Tanpa panggung, kamu sendirian melawan Pak Hadi. Aku tawarkan perlindungan."
Raka menggenggam ponsel lebih erat. Tawaran itu menggoda, tapi ia tahu sekali masuk studio itu, narasi bukan lagi miliknya. Alia tidak mau jadi hiburan. "Terima kasih, Mira. Tapi aku tidak mau kebenaran ini dijual sebagai drama."
Ia memutus panggilan. Kafe terasa lebih dingin.
Di kamar kontrakan kecil yang hanya diterangi lampu meja usang, Raka memutar kaset sekali lagi. Suara Alia kembali, kali ini lebih jelas, lebih putus asa.
"…arsip asli akan dibakar dalam lima hari. Pak Hadi sudah siapkan semuanya. Kalau kamu dengar ini, Raka, artinya aku sudah tidak bisa lagi melindungi bukti. Aku sengaja hilang supaya mereka tidak menemukan ledger ini. Tapi sekarang… kamu yang memegangnya. Jangan biarkan mereka bakar semuanya."
Raka duduk tegak. Lima hari. Bukan enam lagi. Waktu menyusut begitu cepat.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari nomor tak dikenal: "Berhenti sekarang, atau kau akan kehilangan segalanya. Ini bukan peringatan. – H."
Raka menatap layar lama. Nama Pak Hadi tersirat jelas. Napasnya berat. Setiap petunjuk yang ia dapatkan bukan lagi memberi jawaban—tapi memangkas waktu dan menambah musuh.
Kaset itu kini bukan sekadar bukti. Ia adalah target hidup. Dan Raka tahu, besok pagi ia harus melangkah lebih dalam lagi—ke toko jahit yang masih menyimpan potongan terakhir dari Buku Hitam—meski itu berarti ia tak lagi bisa mundur.
Waktu tersisa: lima hari. Dan ia baru saja menjadi buruan resmi keluarga.