Di Balik Tirai Kekuasaan
Pukul delapan pagi, dan ruang kerja keluarga Adiwijaya terasa lebih dingin daripada ruang sidang.
Aurelia berdiri di balik pintu kayu mahoni yang sedikit terbuka, ponselnya bergetar di genggaman. Layar itu menampilkan notifikasi dari akun gosip yang memuat foto dirinya dan Rendra. Di bawahnya, sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal: Gambar itu baru permulaan.
Di dalam, suara Maya Adiwijaya terdengar teratur, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang memegang kendali atas kehancuran reputasi seseorang.
"Foto itu sudah beredar ke semua redaksi," ujar Maya. "Besok malam gala amal. Kau mau membawa perempuan itu ke depan para investor seolah tidak terjadi apa-apa?"
Nathanael menjawab dengan nada rendah yang justru memotong udara. "Aurelia bukan barang yang perlu disembunyikan. Yang perlu disembunyikan adalah kebiasaan Ibu menggerakkan orang lalu menyebutnya demi keluarga."
Aurelia merasakan panas naik ke tenggorokannya. Namanya dipertaruhkan di balik pintu itu, seperti aset yang masih bisa dinegosiasikan. Ia sudah cukup lama hidup dengan rasa malu untuk mengenali bentuk yang satu ini: malu yang dibungkus sopan santun agar korban tetap tampak tidak tahu diri bila melawan.
"Jangan sok membela," balas Maya. "Foto dengan Rendra sudah cukup buruk. Kalau kontrak dengan Aurelia tidak dibatalkan, media akan mencium bahwa dia tidak lebih dari pengganti darurat. Kau pikir dewan akan menerima itu?"
"Kalau dewan keberatan," sahut Nathanael, "maka biarkan mereka keberatan padaku, bukan pada dia."
"Kau lupa posisi kita?" Suara Maya menajam. "Kau masih hidup dari nama Adiwijaya. Dari warisan itu. Jangan konyol karena satu perempuan yang—"
"Jangan lanjutkan kalimat itu."
Hening panjang. Aurelia menggenggam ponselnya lebih erat.
"Kau pikir aku tidak melihat bagaimana skandal ini mengancam merger dan saham?" lanjut Maya. "Kalau aku harus memilih antara reputasi Adiwijaya dan satu orang yang baru beberapa minggu berada di rumah ini—"
"Dia tidak pernah hanya satu orang," potong Nathanael.
Kalimat itu membuat Aurelia terpaku. Di balik pintu, Maya menghembuskan napas pendek, kesal. "Kau bicara seolah lupa bahwa aku bisa membuka banyak hal. Termasuk mengapa utang keluarga Kirana lunas terlalu cepat. Termasuk siapa yang sebenarnya membiarkan Rendra lolos dari altar dengan dokumen itu."
Nama Rendra jatuh seperti gelas pecah. Aurelia menegang. Jadi ini yang memeras Nathanael. Ada sesuatu yang lebih tua, lebih kotor, dan Maya memegang ujungnya.
"Ibu bermain terlalu jauh," kata Nathanael.
"Aku bermain untuk keluarga ini. Kau yang terlalu sentimental."
"Kalau begitu, dengarkan baik-baik," suara Nathanael kini lebih keras, penuh penekanan. "Aku tidak akan membatalkan kontrak Aurelia. Aku tidak akan menyerahkannya untuk menenangkan redaksi atau investor yang ingin menonton perempuan itu dipersembahkan kembali ke altar sebagai solusi rapi."
"Kau mau menantangku?"
"Kalau perlu."
Aurelia tidak menunggu lagi. Ia mendorong pintu hingga terbuka lebar. Maya berdiri di seberang meja kerja, pakaian formalnya sempurna. Nathanael berada di samping meja, satu tangan bertumpu di permukaan kayu hitam, seperti seseorang yang baru saja memutuskan menahan badai dengan tubuhnya sendiri.
"Tentu saja kamu di sini," ujar Maya, matanya menyipit. "Dengarkan percakapan orang lain memang hobi keluarga baru?"
Aurelia menatapnya langsung. "Kalau saya tidak datang, saya akan terus diperlakukan seperti barang yang bisa dipindahkan dari satu meja ke meja lain." Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu membuka map krem yang ia bawa. "Saya tidak datang untuk membela siapa pun. Saya datang untuk memastikan saya tidak lagi jadi korban permainan yang dimulai jauh sebelum saya dipaksa memakai gaun itu."
Aurelia menarik keluar beberapa lembar fotokopi dan menggesernya ke arah Maya. Di atas kertas itu, tanda tangan Saraswati Kirana tampak jelas di bawah daftar instruksi yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan merger Adiwijaya. Di pojok kiri bawah, satu baris digaris tebal: pengarah tahap dua.
Maya tidak menyentuh kertas itu. "Kamu berharap ini menakutkanku?"
"Saya berharap Ibu cukup cerdas untuk tahu ini bukan foto gosip," jawab Aurelia. "Ini jejak. Nama ibu saya ada di sana. Nama orang-orang yang Ibu kirim untuk menutup skandal juga ada di sana. Kalau saya serahkan ini ke media, kita semua tahu siapa yang mengatur siapa."
Nathanael melangkah ke sisi Aurelia. Tanpa kata, ia berdiri di sana—dekat, namun tidak menyentuh. Itu lebih menghantam Maya daripada teriakan mana pun.
"Kau memilih dia daripada keluarga sendiri?" tanya Maya.
"Saya memilih batas," jawab Nathanael. "Dan Ibu sudah melewatinya."
Nathanael berjalan ke ujung meja, mengangkat map lain—yang tampak lebih tebal dan resmi. Ia menaruhnya di depan ibunya dengan sangat hati-hati. "Kalau Ibu memaksa Aurelia keluar dari perlindungan ini, saya akan mengajukan pelepasan hak waris saya. Hari ini juga."
Udara di ruangan seakan memadat. Maya terdiam, untuk pertama kalinya kehilangan ketenangannya.
"Kau tidak akan berani," ucap Maya pelan.
"Saya sudah menandatangani drafnya," Nathanael menatap lurus. "Kursi, saham, kendali atas cabang utama—ambil semuanya. Saya tidak peduli selama Aurelia tidak jadi alat tawar yang bisa Ibu lempar setiap kali ada masalah."
"Kau akan menyesal menantangku di rumah ini, Nathanael."
"Saya sudah menyesal membiarkan Ibu terlalu lama mengatur semuanya," jawabnya.
Maya memandang Aurelia sekali lagi, kali ini tanpa topeng ramah. "Dan kamu, kalau benar ingin selamat, pikirkan baik-baik seberapa jauh kamu mau menggali nama ibumu sendiri."
Aurelia tidak memberi Maya kepuasan melihatnya mundur. "Saya akan menggali sampai ke akarnya. Termasuk kalau akarnya ada di meja Anda."
Maya berbalik dan keluar. Setelah pintu tertutup, Nathanael menatap map warisannya sendiri lalu menutupnya tanpa ragu.
"Kau benar-benar akan menyerahkan warisan itu?" tanya Aurelia.
"Untuk pilihan saya sendiri," katanya. "Kau hanya kebetulan jadi alasan mengapa saya akhirnya mengucapkannya keras-keras."
Aurelia membuka kembali map krem itu. Di bagian bawah halaman, dengan tinta yang lebih pudar, ada catatan tangan: R. Maheswara setuju kabur setelah tahap dua diserahkan.
"Ini bukan hanya tentang ibu saya," Aurelia menggeser halaman itu ke arah Nathanael. "Ada orang yang memberi instruksi lebih tinggi. Seseorang memerintahkan pelarian Rendra, lalu memakai ibu saya sebagai penutup."
Nathanael mengulurkan tangan, jari-jari mereka sempat bersentuhan di ujung kertas. "Kalau kita bawa ini ke publik, nama ibumu ikut terbakar."
"Saya tahu," suara Aurelia mengeras. "Itu sebabnya saya belum memutuskan."
Nathanael mengangguk singkat. "Gala amal besok malam. Kalau Maya masih mencoba mendorongmu keluar, dia akan melakukannya di depan orang-orang yang sama yang baru saja melihatku membelamu. Kita tidak akan menunggu dia menyerang duluan."
Aurelia menatap map di tangannya. Ia memegang kunci yang bisa menjatuhkan mereka semua, namun harga yang harus dibayar adalah kehancuran keluarganya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa siap untuk membayarnya.