Skandal yang Meledak
Notifikasi itu muncul di layar ponsel Aurelia seperti dentuman meriam di tengah kesunyian penthouse. Di bawah tajuk portal berita ekonomi terbesar di Jakarta, wajahnya terpampang nyata—berdiri terlalu dekat dengan Rendra di lorong hotel, sudut pandang kamera yang diambil dengan sengaja untuk memicu imajinasi publik. Calon Pengantin Kabur: Skandal di Balik Merger Adiwijaya.
Di seberang meja sarapan, Nathanael Adiwijaya tidak bergeming. Ia menyesap kopi hitamnya, matanya menatap tajam ke arah tablet yang menampilkan grafik saham keluarga yang mulai terjun bebas. “Sudah melihatnya?” suaranya sedingin es yang retak.
“Ini bukan sekadar gosip, Nathanael. Ini senjata,” jawab Aurelia. Tangannya mencengkeram ponsel hingga buku jarinya memutih. “Mereka tidak hanya menyerangku, mereka menyerang validitas kontrak yang kau buat.”
Nathanael meletakkan cangkirnya dengan presisi yang menakutkan. “Tim hukumku sedang membendung arus, tapi kau harus siap. Foto itu adalah pembuka. Jika mereka punya satu, mereka punya lebih banyak.” Ia berdiri, berjalan mendekat, dan untuk sesaat, jarak di antara mereka terasa seperti medan magnet yang berbahaya. “Kau ingin tetap jadi pion atau mulai bermain di papan ini?”
*
Pintu ruang rapat utama Adiwijaya terbuka, namun dentumannya di telinga Aurelia terasa seperti lonceng eksekusi. Maya Adiwijaya duduk di ujung meja, tangannya melipat di atas tumpukan dokumen yang tampak sangat familiar: salinan foto-foto skandal tersebut.
“Duduk, Aurelia,” suara Maya memotong udara. “Saham kita anjlok tiga persen. Kau tahu apa artinya bagi keluarga yang sedang menutupi lubang di neraca keuangan?”
Aurelia duduk, punggungnya tegak. Ia tidak lagi memohon. Di balik meja ini, ia tahu ibunya, Saraswati, adalah pion yang dimainkan oleh Maya. “Saya tidak menyebarkan foto itu, Maya. Dan saya tidak akan mundur hanya karena reputasi keluarga sedang dipertaruhkan oleh skenario yang kau buat sendiri.”
Maya terkekeh sinis. “Tanggung jawab bukan soal siapa yang memotret, tapi siapa yang berdiri di depan kamera. Jika kau mundur sekarang, aku bisa mengamankan posisimu.”
“Saya tidak akan mundur,” potong Aurelia, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. “Sebagai penjamin aset yang sah, saya tahu persis apa yang ada di dalam dokumen merger itu. Jika Anda memaksa saya keluar, saya akan memastikan isi dokumen tersebut sampai ke tangan yang tepat.”
Nathanael, yang berdiri di balik bayang-bayang jendela, menatap Aurelia dengan tatapan yang sulit dibaca. Untuk pertama kalinya, ia melihat Aurelia bukan sebagai alat, melainkan sebagai seseorang yang memiliki harga diri yang jauh lebih mahal daripada saham perusahaan mana pun.
*
Di dalam limusin yang melaju menuju gala amal, ketegangan di antara mereka terasa menyesakkan. Nathanael menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya, mengaktifkan sistem keamanan mobil.
“Kau menantang ibuku secara terbuka,” kata Nathanael, matanya terkunci pada Aurelia. “Itu langkah yang berbahaya.”
“Lebih berbahaya jika aku diam dan membiarkan dia menghancurkanku,” balas Aurelia.
Nathanael mendekat, jemarinya menyentuh dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya. “Aku tidak akan membiarkanmu hancur. Aku sudah mengorbankan akses ke salah satu mitra bisnis terbesarku demi menutup jejak digital yang mengarah padamu.”
Aurelia tertegun. Ia mulai menyadari bahwa Nathanael tidak hanya melindunginya karena kontrak—ia melindungi Aurelia karena pria itu mulai melihat bahwa Aurelia adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai di tengah konspirasi keluarga ini.
*
Ballroom Hotel Mulia dipenuhi oleh kilatan lampu kamera yang menusuk. Nathanael menggandeng pinggang Aurelia dengan posesif, sebuah tindakan yang mematikan rumor di depan ratusan mata. Saat Maya mendekat dengan senyum dinginnya, Nathanael tidak membiarkan Aurelia bicara.
“Nathanael, apa kau yakin membawa pengantin bermasalah ini ke sini?” tanya Maya tajam.
Nathanael menatap ibunya, lalu menatap Aurelia. “Dia bukan masalah, Ibu. Dia adalah masa depan Adiwijaya.”
Di balik kerumunan, Aurelia menyadari bahwa skandal ini baru permulaan. Ia kini memegang bukti fisik keterlibatan ibunya dan ia tahu, malam ini, Nathanael baru saja memilih untuk berdiri di sisinya, meski itu berarti mempertaruhkan warisan keluarga.