Harga Sebuah Kejujuran
Penthouse Adiwijaya tidak pernah terasa seperti rumah. Pagi ini, udara di ruang makan terasa lebih tipis, seolah oksigen pun enggan beredar di antara meja marmer yang dingin. Di hadapan Nathanael, kopi hitamnya mengepul tanpa suara, kontras dengan map biru yang tergeletak di antara mereka—sebuah nisan bagi martabat keluarga Kirana.
Aurelia menatap dokumen itu. Inisial ibunya, Saraswati Kirana, tertulis dengan tinta hitam yang tak terbantahkan di lembar kesepakatan merger yang dibawa Rendra. Itu bukan sekadar kesalahan; itu adalah desain.
"Kau sudah melihatnya," suara Nathanael memecah keheningan. Datar. Tanpa nada simpati. "Ibumu bukan korban. Dia adalah arsitek di balik dokumen yang dibawa Rendra untuk menghancurkan stabilitas asetku."
Aurelia mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. "Kenapa kau menyembunyikannya? Kau membiarkanku merasa berhutang nyawa, membiarkanku merangkak di kakimu, sementara kau memegang kunci kehancuran keluargaku di saku jasmu."
Nathanael meletakkan pulpennya dengan presisi yang menyakitkan. Ia menatap Aurelia—bukan dengan tatapan pria yang jatuh cinta, melainkan dengan tatapan seorang ahli strategi yang sedang mengukur retakan pada fondasi lawan. "Aku tidak menyembunyikannya. Aku menunggumu cukup dewasa untuk menyadarinya sendiri. Ada perbedaan besar di sana. Aku tidak menginginkan merger ini sejak awal, Aurelia. Aku hanya butuh bukti untuk membersihkan aset Adiwijaya dari parasit yang mencoba menungganginya."
"Dan aku?" Aurelia menegakkan punggung, menolak untuk terlihat hancur di depan pria yang baru saja meruntuhkan dunianya. "Aku bukan pion yang bisa kau pindahkan untuk menutupi skandalmu. Aku adalah penjamin aset yang kau butuhkan untuk menjaga stabilitas pasar besok malam. Jika kau ingin kejujuran, berikan aku posisi yang setara dalam kesepakatan ini."
Nathanael terdiam. Di luar kaca setinggi langit-langit, Jakarta tampak sibuk, namun di dalam ruangan ini, waktu seolah membeku. "Kau menuntut kesetaraan di tengah badai?" Nathanael berdiri, langkahnya tenang namun mengintimidasi saat ia mendekat. "Baik. Aku akan membuka akses dokumen merger itu. Tapi ingat, Aurelia, setiap informasi yang kau pegang adalah beban yang bisa menghancurkanmu jika kau salah melangkah."
Mereka berpindah ke ruang kerja Nathanael. Di bawah sorotan lampu yang tajam, Nathanael menunjukkan deretan nama perusahaan cangkang. Aurelia terkesiap. Satu nama terhubung langsung ke lingkar dalam keluarga Adiwijaya. Ini bukan sekadar skandal keluarga Kirana; ini adalah konspirasi besar yang melibatkan fondasi Adiwijaya sendiri.
"Ibuku hanya pion, bukan?" suara Aurelia parau. "Kalian semua menggunakan keputusasaan keluargaku untuk menutupi borok yang lebih besar."
Nathanael tidak menjawab, namun tatapannya melembut sejenak saat ia menangkap getaran di tangan Aurelia. Sebelum Aurelia sempat memproses pengakuan tersebut, ponsel Nathanael bergetar keras. Sebuah notifikasi keamanan muncul—ancaman nyata terkait bocornya foto mereka.
"Seseorang baru saja mengirimkan foto kita ke media," ujar Nathanael, suaranya kini penuh kewaspadaan yang mematikan. Ia menarik Aurelia mendekat, melindunginya dari bayang-bayang di balik kaca. "Ini bukan lagi soal merger, Aurelia. Ini soal bertahan hidup."
Aroma kayu cendana dan kekuasaan yang dingin menyelimuti Aurelia. Ia menyadari satu hal: kemarahan Nathanael sama tajamnya dengan cara pria itu melindunginya. Namun, saat notifikasi berikutnya muncul—menunjukkan foto Aurelia bersama Rendra yang kini tersebar luas—Aurelia sadar bahwa statusnya telah berubah. Dari pengganti darurat, ia kini menjadi pusat skandal keluarga paling mahal di Jakarta.