Jejak yang Ditinggalkan
Aroma debu dan sisa parfum maskulin di apartemen lama Rendra Maheswara terasa mencekik. Aurelia Kirana tidak punya waktu untuk sentimentalitas. Di luar pintu yang disegel tim keamanan Adiwijaya, detak jam dinding adalah ancaman nyata; Nathanael telah memerintahkan penyapuan bersih sebelum gala amal besok malam.
Dengan tangan yang gemetar, Aurelia menggeser rak buku tua di sudut ruang kerja Rendra. Di balik panel kayu yang longgar, sebuah brankas logam kecil terselip. Saat jemarinya memasukkan kombinasi angka dari balik foto keluarga, klik itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ilusi masa lalunya. Di dalamnya bukan hanya dokumen merger, tetapi surat dengan amplop berlogo keluarga Kirana. Aurelia membuka lipatan kertas itu. Itu bukan surat cinta, melainkan daftar aset perusahaan Adiwijaya yang ditandatangani oleh ibunya, Saraswati Kirana, sebagai jaminan tambahan bagi Rendra.
Jantung Aurelia seolah berhenti. Ibunya bukan sekadar korban; Saraswati adalah kunci yang memberikan Rendra akses ke dalam sistem keamanan Adiwijaya. "Jadi, ini alasan Ibu memintaku diam," gumamnya, suaranya parau di tengah kesunyian apartemen yang berbau pengkhianatan.
Saat Aurelia melangkah keluar menuju lobi, ia berpapasan dengan Aris, asisten kepercayaan Nathanael. Pria itu berdiri di sana seperti bayangan tanpa emosi. "Nona Aurelia, Tuan Nathanael menunggu di penthouse. Beliau memerintahkan saya memastikan Anda tidak membuang waktu di tempat yang tidak semestinya."
Aris melangkah maju, mempersempit jarak hingga Aurelia bisa mencium aroma kayu cendana—parfum yang sama dengan Nathanael. "Tuan tidak menyukai kejutan, Nona. Terutama kejutan yang melibatkan properti pribadinya saat beliau sedang sibuk melunasi utang keluarga Anda." Kalimat itu adalah pengingat brutal akan posisinya sebagai pion yang kini terikat kontrak.
Kembali ke penthouse, meja makan kaca telah disiapkan seperti ruang sidang. Nathanael duduk di ujung meja, kemejanya digulung hingga siku, membaca dokumen merger dengan ketenangan yang menghakimi. "Kamu terlambat delapan belas menit," ucapnya tanpa menoleh.
"Aku tidak ingat menyetujui jadwal sarapan yang bisa diukur seperti audit," balas Aurelia, meletakkan surat bukti pengkhianatan ibunya di atas meja kaca.
Nathanael menoleh, tatapannya tajam namun tidak terkejut. Ia justru menyesap kopinya dengan tenang. "Kamu menemukannya. Bagus."
"Kau sudah tahu?" Aurelia menuntut, suaranya bergetar. "Ibu terlibat dalam skandal ini, dan kau membiarkanku menjadi penjamin asetmu seolah-olah keluargaku bersih?"
Nathanael berdiri, berjalan mengitari meja hingga ia berdiri tepat di belakang Aurelia. Ia meletakkan map kulit hitam di hadapannya. "Aku tahu sejak awal, Aurelia. Aku menutupi jejak ibumu dari polisi agar namamu tidak terseret kehancuran. Aku tidak butuh keluarga yang bersih; aku butuh seseorang yang mengerti harga sebuah loyalitas."
Ia mencondongkan tubuh, napasnya terasa hangat di dekat telinga Aurelia. "Di map itu, ada bukti pelunasan utang keluargamu. Sebagai gantinya, kamu adalah penjamin stabilitas aset Adiwijaya. Kamu tidak bisa mundur sekarang, karena jika ibumu jatuh, kamu jatuh bersamanya."
Aurelia menatap dokumen itu, menyadari bahwa ia bukan hanya terjebak dalam pernikahan sandiwara, tetapi dalam konspirasi yang lebih dalam. Nathanael bukan sekadar pelindung; ia adalah pemilik dari setiap langkah yang Aurelia ambil. Saat ia menatap pantulan mereka di meja kaca, ia menyadari sebuah nama baru yang terselip di dokumen merger—sebuah nama yang terhubung langsung ke meja makan keluarga Adiwijaya. Skandal ini jauh lebih besar dari sekadar pelarian Rendra, dan kini, Aurelia adalah satu-satunya orang yang memegang kunci untuk membongkarnya.