Retakan pada Topeng
Udara di ruang kerja Nathanael Adiwijaya terasa lebih tipis, seolah oksigen telah habis disedot oleh tumpukan dokumen merger yang berserakan di atas meja mahoni. Nathanael berdiri membelakangi Aurelia, menatap cakrawala Jakarta yang gemerlap namun dingin. Di tangannya, sebuah pena perak diputar perlahan—ritme yang konstan, tajam, dan mengintimidasi.
"Investor mulai menarik diri," suara Nathanael memecah kesunyian, datar namun bergetar dengan otoritas yang terancam. "Mereka tidak peduli pada alasan. Mereka hanya peduli pada angka yang tidak lagi stabil. Dan Rendra, dengan segala kelicikannya, membawa kunci dari ketidakstabilan itu keluar dari gedung ini."
Aurelia duduk di kursi kulit di hadapannya, punggungnya tegak. Ia tidak lagi merasa takut seperti hari pertama ia dipaksa menggantikan pengantin yang kabur. Ia merasa waspada. "Kau membiarkannya pergi, Nathanael. Kau tidak kehilangan dokumen itu; kau membiarkannya menjadi alat tawar."
Nathanael berbalik. Tatapannya menghujam, mencari celah di balik ketenangan Aurelia. "Aku membiarkannya pergi agar aku bisa melihat siapa saja yang akan mencoba memungut sisa-sisa kehancuran keluarga Adiwijaya. Termasuk keluargamu."
Kalimat itu adalah tamparan halus. Aurelia merasakan beban kontrak penjaminan aset yang ia tandatangani—sebuah jerat yang kini melilit lehernya. "Aku bukan pion yang bisa kau gerakkan sesukamu untuk memancing musuh."
"Kau adalah penjamin asetku, Aurelia. Itu bukan posisi untuk pion, itu posisi untuk sekutu," Nathanael melangkah mendekat, menghentikan langkah tepat di depan kursi Aurelia. Aroma kayu cendana dan kopi pahit yang menguar dari pria itu terasa menyesakkan. "Besok malam, di gala amal, kita akan tampil sebagai pasangan yang tak tersentuh. Jika kau ingin kebebasanmu kembali, kau harus memastikan dunia percaya bahwa aku memegang kendalimu sepenuhnya."
"Dan jika aku menolak?"
Nathanael membungkuk, menumpukan tangannya di sandaran kursi Aurelia, mengurungnya dalam ruang gerak yang sempit. "Maka utang keluargamu akan kembali menjadi beban yang harus kau tanggung sendiri. Tanpa perlindunganku, kau tahu apa yang akan dilakukan para kreditor itu pada ibumu."
Itu adalah ancaman yang nyata, terbungkus dalam nada bicara yang nyaris intim. Aurelia menatap mata pria itu, mencari keraguan, namun ia hanya menemukan dinding baja. Nathanael tidak sedang bermain-main; ia sedang membangun benteng, dan Aurelia adalah fondasinya.
Setelah Nathanael pergi untuk urusan mendesak, Aurelia menyelinap ke apartemen lama Rendra yang telah disegel oleh tim keamanan Adiwijaya. Dengan kunci cadangan yang ia ambil dari meja Nathanael, ia masuk. Ruangan itu berdebu, menyimpan sisa-sisa kehidupan pria yang seharusnya menikahinya. Di atas meja kerja yang berantakan, ia menemukan sebuah agenda kulit. Halaman terakhirnya terbuka, menampilkan inisial yang membuat napasnya tertahan: S.K.
Saraswati Kirana. Ibunya.
Suara langkah kaki di lorong membuat Aurelia membeku. Nathanael muncul di ambang pintu, napasnya sedikit memburu. Ia melihat agenda di tangan Aurelia, dan untuk pertama kalinya, topeng dingin itu retak. Nathanael tidak marah; ia tampak lelah, seolah beban yang ia pikul selama ini akhirnya menghancurkan pertahanannya.
"Kau seharusnya tidak menemukan itu," bisik Nathanael, suaranya serak. Ia mendekat, tangannya gemetar saat ia mengambil agenda itu dari tangan Aurelia. "Ini bukan sekadar merger, Aurelia. Ini adalah sejarah yang mencoba mengubur kita semua."
Nathanael kehilangan kendali—bukan karena amarah, melainkan karena ia menyadari bahwa perlindungan yang ia berikan pada Aurelia telah melampaui perhitungan bisnis. Ia menatap Aurelia dengan tatapan yang jujur, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa ia telah mengorbankan ketenangannya sendiri demi menjaga Aurelia dari kebenaran yang lebih gelap.
Di apartemen yang sunyi itu, Aurelia sadar: Nathanael bukan sekadar pewaris dingin. Ia adalah pria yang terjebak dalam perangkap yang ia bangun sendiri, dan kini, mereka berdua terikat dalam konspirasi yang menghubungkan masa lalu keluarga Kirana langsung ke jantung keluarga Adiwijaya.