Novel

Chapter 4: Bayang-bayang di Acara Gala

Aurelia dipaksa tampil di gala amal sebagai penjamin aset Adiwijaya untuk meredam spekulasi pasar. Di sana, ia berhadapan dengan Rendra yang mengancam dengan rahasia dokumen merger. Nathanael menunjukkan sisi posesif yang logis demi menjaga reputasi, sementara Aurelia mulai menyadari bahwa perlindungan Nathanael memiliki beban emosional dan rahasia yang dalam.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Bayang-bayang di Acara Gala

Pagi itu, meja sarapan di penthouse Nathanael terasa lebih dingin daripada ruang sidang. Tiga kotak bermerek diletakkan berurutan di atas marmer: gaun, sepatu, perhiasan, dan sebuah map krem berisi jadwal gala amal malam ini. Nathanael duduk di ujung meja, tablet di tangan, kemeja kerjanya digulung rapi hingga siku. Ia tidak menoleh saat Aurelia meletakkan cangkir kopinya.

“Aku tidak pernah setuju untuk datang,” ujar Aurelia, suaranya datar namun tajam.

Nathanael akhirnya menatapnya. Tatapan itu tenang, kalkulatif, dan sama sekali tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. “Kamu tidak diminta memilih, Aurelia. Kamu diminta hadir sebagai penjamin aset Adiwijaya. Jika kamu absen, pasar akan membaca ketidakhadiranmu sebagai tanda bahwa kontrak kita tidak stabil.”

Aurelia menggenggam pinggir meja hingga buku jarinya memutih. Ia membenci betapa masuk akalnya alasan itu. Nathanael tidak menggunakan ancaman kasar; ia menggunakan logika bisnis yang membuat setiap penolakan Aurelia terdengar seperti kekanak-kanakan di tengah utang keluarga yang telah pria itu lunasi.

“Jadi, aku hanya papan nama untuk menenangkan pemegang saham?”

“Kamu adalah perlindungan bagi dirimu sendiri,” jawab Nathanael, menutup tabletnya. “Orang akan berhenti merumorkan bahwa kamu bisa dipatahkan jika mereka melihatmu berdiri di sisiku tanpa gemetar.”

Proses persiapan setelahnya terasa seperti perakitan mesin yang mahal. Tim penata gaya bekerja dengan ketelitian bedah. Saat seorang stylist laki-laki merapikan gaun sampanye di bahu Aurelia dan menurunkan kain sedikit pada sisi kiri, Nathanael melangkah masuk. Ia tidak menyentuh, namun suaranya menghentikan seluruh ruangan.

“Cukup,” perintahnya. Ia mendekat, jemarinya menyapu ujung anting Aurelia untuk memperbaikinya. Gerakan itu formal, namun kedekatan sesaat tersebut membuat napas Aurelia tertahan. “Jangan bicara berlebihan malam ini. Jawab seperlunya. Mereka tidak mendengar perempuan yang bicara dengan tenang; mereka hanya mendengar peluang.”

*

Hotel tempat gala amal berlangsung adalah mesin tekanan sosial yang sempurna. Saat mereka memasuki ballroom, tatapan para tamu menghitung posisi Aurelia dengan presisi yang kejam. Nathanael tidak menawarkan lengan—ia memilih jarak yang tetap terasa seperti pengawasan ketat.

Di tengah kerumunan, Rendra Maheswara muncul. Setelan abu-abunya tampak terlalu sempurna untuk pria yang seharusnya menjadi skandal pelarian. Senyumnya tipis, penuh rahasia.

“Lia,” sapanya, mengabaikan kehadiran Nathanael. “Aku senang akhirnya kamu tampil sesuai skenario keluarga besar.”

“Kalau kamu datang untuk berbasa-basi, kamu salah ruangan,” balas Aurelia dingin.

Rendra tertawa kecil, melirik Nathanael yang rahangnya mengeras. “Aku hanya penasaran. Versi mana yang kamu ceritakan pada mereka malam ini? Atau mungkin, kamu belum tahu dokumen merger apa yang kubawa sebelum aku menghilang?”

Nathanael bergerak, menempatkan tubuhnya di antara Aurelia dan Rendra. Itu bukan sekadar gestur protektif; itu adalah klaim kekuasaan. “Kamu sudah tidak relevan, Rendra. Jangan bicara pada dia.”

“Atau apa?” tantang Rendra.

Ketegangan di antara mereka memuncak. Aurelia menyadari bahwa Nathanael tidak sedang melindungi reputasi keluarga—ia sedang melindungi rahasia tentang dokumen merger yang kini ia pegang. Saat petugas keamanan mendekat untuk mengarahkan mereka ke panggung foto, Nathanael tetap berdiri di samping Aurelia, memastikan kamera menangkap mereka sebagai satu kesatuan.

Di bawah sorot lampu kamera, Aurelia menoleh pada Nathanael. Pria itu berbisik, “Tetap tersenyum.”

Aurelia menurut. Bukan karena ia tunduk, melainkan karena ia baru saja menyadari bahwa di balik perlindungan dingin ini, Nathanael sedang membayar harga yang mahal untuk menjaga posisinya tetap utuh. Dan Rendra, yang menatap mereka dari kejauhan, kini tahu bahwa permainan mereka telah berubah menjadi ancaman nyata bagi siapa pun yang berani mengusik.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced