Kontrak di Balik Pintu Tertutup
Sarapan di penthouse Nathanael Adiwijaya bukan tentang nutrisi, melainkan tentang menjaga posisi. Di atas meja marmer hitam yang dingin, Aurelia Kirana menatap cangkir porselennya. Ia tidak menyentuh kopi itu. Ia hanya perlu memastikan tangannya tidak gemetar saat sorot mata Maya Adiwijaya, yang duduk di seberang, terus menguliti ketenangannya.
"Media mulai bertanya tentang keberadaan Rendra yang sebenarnya," suara Maya memecah keheningan, tajam dan terukur. "Aurelia, kau adalah wajah dari pernikahan ini sekarang. Jika kau tidak bisa meyakinkan publik bahwa dia hanya sedang dalam perjalanan bisnis mendesak, maka kontrak yang kau tandatangani kemarin hanyalah selembar kertas tak berharga."
Nathanael masuk ke ruangan, setelan jasnya yang sempurna tampak seperti baju zirah. Ia tidak duduk. Ia berdiri di belakang Aurelia, tangannya yang besar bertumpu pada sandaran kursi—sebuah gestur yang terlihat protektif bagi orang luar, namun bagi Aurelia, itu adalah penanda wilayah.
"Dia akan tampil di acara amal besok malam," sahut Nathanael dingin. "Aku sudah mengatur narasi bahwa Rendra sedang mengurus merger di luar negeri. Aurelia hanya perlu tersenyum dan memastikan tidak ada yang melihat keraguan di matanya."
Setelah Maya pergi, Nathanael menarik Aurelia berdiri. "Ikut aku ke ruang kerja. Ada berkas yang harus kau pelajari sebelum acara besok. Kau tidak boleh terlihat bodoh saat ditanya tentang bisnis keluarga."
Ruang kerja Nathanael adalah labirin kekuasaan. Saat pria itu menerima panggilan telepon di balkon, Aurelia mendekati meja kerja yang tertata rapi. Matanya tertuju pada sebuah map abu-abu yang sedikit terbuka. Di dalamnya, ia menemukan dokumen merger yang seharusnya dibawa Rendra saat kabur. Namun, yang lebih mengejutkan adalah catatan tangan Nathanael di margin dokumen tersebut—instruksi yang ditulis jauh sebelum hari pernikahan, yang memerintahkan Rendra untuk menghilang.
Nathanael kembali ke ruangan tepat saat Aurelia menutup map itu. Ia tidak terkejut. Ia justru melangkah mendekat, memojokkan Aurelia ke rak buku hingga jarak mereka hanya menyisakan udara yang menyesakkan.
"Kau sudah melihatnya?" bisik Nathanael. Suaranya rendah, tanpa nada marah, hanya ada kalkulasi dingin.
"Kau yang menyuruhnya pergi," suara Aurelia bergetar, namun ia menatap mata Nathanael dengan sisa keberanian yang ia miliki. "Pernikahan ini... ini bukan penyelamatan. Ini skenario yang kau buat untuk menguasai aset keluarga Kirana melalui diriku."
Nathanael menyentuh dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya. "Aku tidak hanya menguasai asetmu, Aurelia. Aku melindungimu dari kehancuran yang akan dibawa Rendra jika dia tetap di sini. Utang keluargamu lunas karena aku membelinya. Sekarang, kau adalah penjamin asetku. Jika kau ingin tetap aman, kau akan memainkan peranmu dengan sempurna."
Sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Nathanael yang tergeletak di meja: 'Rendra sudah di posisi. Apa kita lanjut ke tahap dua sesuai skenario awal?'
Aurelia mematung. Skenario awal. Seluruh sandiwara ini—pelarian Rendra, utang keluarganya, kontrak pernikahan—bukan sekadar upaya penyelamatan reputasi. Nathanael adalah dalang yang membiarkan Rendra menghilang untuk tujuan yang jauh lebih besar. Di balik pintu tertutup, Aurelia menyadari bahwa pria yang paling tenang di ruangan itu sudah lama tahu lebih banyak tentang pelarian pengantin asli daripada yang ia akui, dan ia kini berdiri tepat di pusat jebakan yang tak mungkin ia hindari.