Harga Sebuah Reputasi
Meja sarapan di penthouse Nathanael Adiwijaya bukan tempat untuk makan; itu adalah ruang negosiasi yang sunyi. Porselen putih, aroma kopi yang terlalu pekat, dan staf yang bergerak seperti bayangan—semuanya dirancang untuk menekan Aurelia Kirana agar tetap dalam batas yang ditentukan.
Nathanael, di seberang meja, menatap layar tabletnya. Wajahnya tidak menunjukkan sisa malam yang kacau. Ia adalah pria yang telah menghitung setiap sen dari kehancuran keluarga Kirana.
"Saya bisa makan di kamar," ujar Aurelia, suaranya datar meski tangannya mencengkeram cangkir hingga buku jarinya memutih. "Jika ini untuk citra, saya tidak perlu berada di sini."
Nathanael tidak mendongak. "Kau akan duduk di sini sampai kamera di luar sana berhenti mencari celah. Utang keluargamu sudah berpindah tangan, Aurelia. Kontrak itu bukan saran, melainkan batasan hidupmu."
Sebelum Aurelia sempat membalas, ponsel Nathanael bergetar. Satu bisikan dari staf, lalu rahang pria itu mengeras. Aurelia menangkap kata kunci yang membuat napasnya tertahan: foto, pengantin, kabur.
Seseorang telah membocorkan jejak Rendra di pintu layanan. Dalam dunia Adiwijaya, kebocoran tidak pernah terjadi secara kebetulan. Itu adalah serangan terukur.
"Kita berangkat sekarang," perintah Nathanael, berdiri dengan ketenangan yang mengintimidasi.
"Ke mana?"
"Lobi. Media sudah mengepung gedung. Kalau kita menunggu, mereka yang akan menulis narasi kehancuran kita." Nathanael menatapnya tajam. "Jika kau ingin mempertahankan sisa martabatmu, ikuti arahku."
Lobi kantor pusat Adiwijaya telah berubah menjadi ruang interogasi. Saat lift kaca terbuka, kilatan kamera menyambut mereka seperti hujan jarum. Maya Adiwijaya berdiri di dekat pilar marmer, sosoknya elegan sekaligus mematikan. Ia menatap Aurelia dengan penilaian dingin.
"Ingat posisimu," bisik Maya saat Aurelia melintas. "Kau adalah wajah kesepakatan ini. Jangan mempermalukan kami."
Nathanael merapat. Tangan hangatnya mendarat di pinggang Aurelia—bukan belaian, melainkan klaim publik yang terukur. Kamera menangkap momen itu, menciptakan ilusi pasangan yang serasi di tengah badai.
"Tersenyum," bisik Nathanael, suaranya rendah, nyaris tak terdengar oleh wartawan.
Saat mereka berdiri di depan mikrofon, Nathanael mengambil alih kendali. "Publik akan tahu apa yang perlu mereka tahu. Bukan sebelum saya mengizinkannya," ucapnya, mematikan spekulasi dengan satu kalimat dingin.
Kembali ke ruang kerja pribadi setelah sesi singkat itu, Nathanael melepaskan rangkulannya. Jarak kembali tercipta, sedingin es. Ia menyodorkan berkas di atas meja.
"Utang keluargamu sudah lunas," katanya. "Atas namamu. Melalui perantara pribadi, bukan dana perusahaan."
Aurelia menatap angka-angka itu dengan tidak percaya. "Kenapa?"
"Karena aku tidak suka orang lain memegang lehermu sebelum aku memutuskan batasnya," jawab Nathanael. Ia menggeser tablet yang menampilkan berkas merger yang dibawa Rendra. "Sekarang, berikan aku salinan dokumen yang dibawa Rendra. Kau tahu dia membawanya, Aurelia."
Aurelia terdiam. Ia menyadari bahwa perlindungan yang ia terima hanyalah pagar yang dipindahkan lebih dalam ke wilayah Adiwijaya. Saat ia melihat nama Rendra di daftar kontak eksternal yang bocor, ia sadar: Nathanael tahu lebih banyak tentang pelarian itu daripada yang ia akui. Dan di ruangan sunyi itu, Aurelia menyadari bahwa ia tidak sedang diselamatkan; ia sedang dikunci di dalam permainan yang jauh lebih besar.