Novel

Chapter 10: Pilihan Terakhir

Aurelia mengambil alih agensinya dengan menerima akses aset dari Nathanael untuk menghadapi ibunya, Saraswati, terkait konspirasi 'tahap dua' yang melibatkan Maya Adiwijaya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Pilihan Terakhir

Ruang kerja Nathanael di penthouse bukan sekadar ruang, melainkan sebuah ruang tunggu eksekusi. Di atas meja mahoni yang dingin, Aurelia menatap map kulit cokelat itu untuk kesekian kalinya. Jantungnya berdegup tenang—sebuah ketenangan yang lahir dari keputusasaan yang telah mencapai titik nadir. Di margin dokumen merger yang ditinggalkan Rendra, terdapat catatan tangan yang kini terasa seperti vonis mati: Tahap dua diserahkan, lalu dia kabur.

Pintu terbuka tanpa suara. Nathanael masuk, setelan jas kelabu gelapnya tampak seperti baju zirah. Matanya langsung mengunci map di pangkuan Aurelia.

"Kamu tidak menyentuh sarapanmu," suaranya rendah, memotong kesunyian dengan presisi bedah.

"Aku tidak lapar," jawab Aurelia. Ia tidak menutup map itu. Ia membiarkan Nathanael melihat catatan yang menjadi kunci kehancuran ibunya sendiri. "Aku menemukan pola. Rendra menulis 'tahap dua' di sini, dan di notifikasi yang dia tinggalkan sebelum menghilang. Ini bukan istilah acak, Nathanael. Ini adalah instruksi terencana."

Nathanael menarik kursi di seberang Aurelia. Ia duduk, menyilangkan kaki dengan elegan, lalu menatap Aurelia seolah sedang menimbang nilai dari sebuah aset yang paling berharga sekaligus berbahaya. "Aku sudah tahu sejauh mana keterlibatan Saraswati Kirana. Aku membelinya untuk melindungimu, bukan untuk menghancurkanmu."

Aurelia berdiri, kursi di belakangnya berderit tajam di lantai marmer. "Justru itu masalahnya! Kau menganggap perlindunganmu sebagai rantai. Aku tidak ingin menjadi pion yang diselamatkan hanya agar kau bisa memenangkan perang melawan ibumu. Aku ingin agensiku sendiri, Nathanael. Aku ingin memimpin konfrontasi ini."

Nathanael terdiam. Ia menatap Aurelia—bukan sebagai pengantin substitusi yang ketakutan, melainkan sebagai lawan yang setara. Ia bangkit, melangkah mendekat hingga jarak mereka menjadi negosiasi fisik yang menyesakkan. Ia mengeluarkan surat kuasa dari saku jasnya dan meletakkannya di antara mereka. "Jika kau ingin memimpin, pimpinlah dengan senjata yang tepat. Ini akses penuh atas aset pribadiku. Jika kau gagal, aku yang akan menanggung konsekuensi sosialnya. Jika kau berhasil, kau akan memiliki kedudukan yang bahkan Maya tidak bisa sentuh."

Aurelia menatap dokumen itu, lalu menatap mata Nathanael. Ada kompensasi emosional di sana—sebuah kepercayaan yang terasa jauh lebih berat daripada uang. "Aku akan menggunakannya," bisik Aurelia. "Tapi aku yang akan menghadapi Saraswati."

Satu jam kemudian, Aurelia tiba di kediaman keluarga Kirana. Rumah itu terasa mencekam. Saraswati duduk di ruang keluarga, mengenakan kebaya rumah yang rapi, wajahnya tenang dengan cara yang selalu membuat orang lupa bahwa ketenangan adalah bentuk manipulasi paling murni.

"Kau semakin dekat dengan Adiwijaya," ucap Saraswati tanpa menoleh. "Dia pria yang menuntut balasan, Lia. Jangan mengira kau bisa memenangkan permainannya."

Aurelia meletakkan map di atas meja kopi. "Aku tidak datang untuk membahas Nathanael, Bu. Aku datang untuk membahas 'tahap dua'."

Wajah Saraswati menegang, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Kau selalu mengira bisa memilih bagian yang ingin kau lihat. Jika kau menyerahkan dokumen itu ke publik, nama keluarga kita akan hancur. Dan kau tahu siapa yang akan diseret duluan."

"Aku tahu," potong Aurelia. Suaranya tidak bergetar. "Tapi aku juga tahu bahwa Ibu ditekan oleh Maya. Ibu bukan arsitek utamanya, tapi Ibu adalah orang yang membiarkan Rendra kabur untuk menyelamatkan diri sendiri. Aku punya bukti keterlibatan Ibu, dan aku punya bukti bahwa Maya yang merancang skandal ini."

Saraswati terdiam, matanya berkilat marah sebelum akhirnya meredup menjadi kekalahan yang nyata. "Kau tidak akan berani, Lia. Kau akan menghancurkan namamu sendiri."

"Namaku sudah hancur sejak aku berdiri di altar itu," balas Aurelia. "Tapi mulai besok, aku yang akan memegang kendali atas apa yang tersisa."

Aurelia melangkah keluar, meninggalkan Saraswati dalam kehampaan yang ia ciptakan sendiri. Di luar, ia menatap layar ponselnya. Bukti itu ada di tangannya—sebuah senjata yang bisa menjatuhkan Maya dan Rendra, namun juga bisa menghancurkan sisa-sisa martabat ibunya. Ia memiliki agensi penuh sekarang, dan besok, di depan para pemegang saham, ia akan memutuskan apakah ia akan membakar semuanya atau membangun kerajaan di atas abu skandal yang selama ini mencoba menguburnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced