Chapter 9
Dua puluh menit setelah palu lelang ditangguhkan, aula pesta elit kota masih terjebak dalam keheningan yang menyesakkan. Gelas-gelas kristal berisi sisa anggur mahal tergeletak di atas meja bundar, saksi bisu dari reputasi Tuan Hadi Wiranata yang baru saja hancur berkeping-keping. Di layar besar, wajah Hadi tampak pucat, membeku dalam sorotan kamera yang tak lagi memuja, melainkan memburu. Arga Pradipta berdiri di tengah aula, mengenakan pakaian sederhana yang tampak mencolok di antara jas-jas desainer yang kini terlihat seperti kostum sandiwara yang gagal.
Di seberang ruangan, Bu Ratna berdiri kaku, jemarinya mencengkeram erat tas kain lusuhnya. Baginya, ruangan ini adalah medan perang yang asing, namun ia melihat sesuatu yang lebih berbahaya daripada sekadar penghinaan: tatapan para investor yang mulai berbalik, bukan karena mereka mendukung Arga, melainkan karena mereka takut pada apa yang mungkin dilakukan Arga selanjutnya. Nadira bergerak mendekat, membawa map berisi bukti pemalsuan tender yang telah memutus loyalitasnya pada Hadi.
"Mereka tidak akan berhenti di sini," bisik Nadira, matanya memindai kerumunan. "Atasan Hadi sudah bergerak. Dia tidak peduli pada kerugian Hadi, dia peduli pada apa yang Hadi tahu tentang jalur logistik kota."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menatap layar yang tiba-tiba berkedip, menampilkan panggilan masuk dari nomor terenkripsi. Itu adalah tantangan langsung dari bayang-bayang yang selama ini mengendalikan Hadi. Arga membalikkan badan, meninggalkan aula tanpa sepatah kata pun, membawa beban baru yang jauh lebih berat dari sekadar lelang rumah makan.
*
Di dapur rumah makan leluhur yang remang-remang, lampu minyak berkedip tak stabil, seolah ikut menahan napas. Bu Ratna meletakkan teleponnya dengan tangan gemetar. Pesan dari pihak lelang masuk: jaminan tambahan harus segera dipenuhi sebelum pukul sembilan pagi, atau status penangguhan akan dicabut oleh otoritas yang lebih tinggi.
"Kalau mereka buka ulang, kita habis, Arga," suara Bu Ratna pecah. "Jangan bawa nama itu lagi ke sini. Kau tidak mengerti apa artinya menyeret dapur ini ke dalam perang orang-orang besar."
Arga meletakkan map yang dibawanya dari aula di atas meja bumbu yang berlumur sejarah. "Justru karena itulah aku di sini, Bu. Mereka tidak hanya mengincar tanah ini. Mereka mengincar jalur distribusi yang dulu dibangun kakek di bawah lantai dapur ini."
Bu Ratna tertegun. Ia menatap map tersebut, lalu beralih ke laci rahasia di bawah meja bumbu. Dengan ragu, ia mengeluarkan sebuah buku catatan tua yang sampulnya telah terkelupas. Itu bukan sekadar buku resep, melainkan catatan logistik yang mengaitkan rumah makan tersebut dengan jaringan pasok kota yang legendaris. Arga membuka halaman yang menghitam oleh minyak, memperlihatkan nama-nama sopir, gudang pusat, dan kode-kode distribusi yang masih berlaku hingga hari ini.
"Ini bukan nostalgia," kata Nadira yang berdiri di samping Arga, wajahnya mengeras saat menyadari implikasi dari catatan tersebut. "Ini adalah peta kuasa. Jika kita mempublikasikan ini, Hadi dan atasannya akan kehilangan akses ke jalur utama kota."
*
Suasana berubah drastis saat mereka tiba di kantor pengawasan kota. Petugas berseragam abu-abu menyodorkan map stempel merah kepada Arga. Ini bukan lagi tentang lelang, melainkan tentang legitimasi. Hadi masuk ke ruangan dengan langkah terseok, dikawal petugas, namun matanya masih memancarkan kebencian yang murni.
"Kau pikir kau menang, Arga?" desis Hadi. "Kau hanya pion kecil yang tidak tahu siapa yang sedang kau tantang."
Arga tidak membalas dengan kata-kata. Ia meletakkan buku catatan minyak tersebut di atas meja pejabat pengawasan. "Saya di sini bukan untuk berdebat tentang tender," ujar Arga tenang, suaranya menggema di ruangan yang mendadak sunyi. "Saya di sini untuk mengungkap siapa yang sebenarnya memegang kendali atas logistik kota ini. Rumah makan Pradipta bukan hanya aset, ini adalah saksi sejarah yang akan membongkar setiap lubang dalam sistem kalian."
Di ujung ruangan, seorang pria dengan setelan gelap—atasan Hadi—muncul dari balik tirai, menatap Arga dengan seringai dingin. "Kau berani menantang sistem, anak muda?"
Arga menatap pria itu tepat di matanya, tanpa gentar. "Saya tidak menantang sistem. Saya hanya mengambil kembali apa yang memang milik keluarga saya. Dan perang ini baru saja dimulai."