Chapter 8
Lampu kuning di dapur Rumah Makan Pradipta berkedip, menyoroti retakan di ubin yang telah menahan beban sejarah keluarga selama tiga generasi. Arga berdiri di depan meja prep, tangannya menekan amplop cokelat berisi bukti fisik pemalsuan tender. Di depannya, Bu Ratna baru saja mematikan kompor. Suara desis minyak yang mendingin adalah satu-satunya yang tersisa di ruangan itu.
Ponsel Arga bergetar. Sebuah undangan digital muncul—pesta kehormatan elit kota. Itu bukan undangan, melainkan jerat. Jika ia datang, ia akan menjadi tontonan; jika ia absen, keluarga Pradipta akan dicap sebagai pengecut yang melarikan diri dari dialog.
"Mereka ingin kau datang untuk menutup malu mereka," suara Bu Ratna serak, namun matanya tetap tajam. "Jangan biarkan nama kita jadi bahan tertawaan di sana, Arga."
"Mereka tidak akan tertawa," jawab Arga tenang. "Mereka akan gemetar."
Nadira masuk tanpa mengetuk. Wajahnya pucat, namun langkahnya mantap. Ia meletakkan map tipis di atas meja. "Aku sudah keluar dari kantor Hadi. Ini salinan lampiran yang dia sembunyikan. Nama vendor, jalur transfer, dan cap internal yang tidak sesuai periode. Ini cukup untuk menghancurkan seluruh jaringan tender mereka di depan forum malam ini."
Arga mengambil map itu. "Kau siap dengan risikonya?"
"Risikonya sudah aku ambil saat aku mencetak berkas ini," jawab Nadira.
Arga tidak berganti pakaian. Ia tetap mengenakan kemeja polos yang disetrika rapi. Ia tidak butuh setelan mahal untuk mendominasi ruangan yang dibangun di atas kebohongan. Saat mereka tiba di hotel tepi laut, ballroom itu sudah dipenuhi oleh para investor yang sibuk menjaga reputasi.
Raka Surya berdiri di meja registrasi, wajahnya penuh ejekan saat melihat Arga. "Salah alamat? Ini pesta orang penting, bukan tempat pengantar piring."
Arga tidak membalas. Ia menatap daftar tamu, lalu menatap Hadi Wiranata yang berdiri tak jauh dari sana, berusaha menjaga senyum di tengah kepanikan yang mulai merayap di matanya.
"Arga Pradipta," ucap Arga datar.
"Tidak ada dalam daftar," balas Raka.
"Daftar itu sudah kedaluwarsa," potong Arga. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk membuat beberapa tamu di dekat bar berhenti bicara. "Dua penawar utama sudah mundur siang tadi. Alasan mereka belum kalian hapus, tapi investor di ruangan ini sudah tahu kebenarannya."
Keheningan menyebar seperti racun. Hadi maju, mencoba mempertahankan wibawa. "Kau datang hanya untuk menyebar fitnah?"
Arga mengeluarkan dokumen dari amplop cokelatnya. Ia menaruhnya di atas meja registrasi, tepat di depan mata Hadi. "Saya datang untuk membacakan fakta. Surat penyegelan yang kalian pakai menggunakan format sistem lama. Kopnya diganti, tapi nomor registrasinya tidak. Kalian memalsukan prosedur untuk merampas aset yang bukan milik kalian."
Nadira melangkah maju, berdiri di samping Arga. "Sebagai notaris yang memverifikasi berkas tersebut, saya menyatakan bahwa tender ini cacat secara hukum. Saya sudah menyerahkan bukti ini kepada otoritas pusat."
Ballroom itu mendadak sunyi. Para investor yang tadi berdiri tegak kini mulai saling pandang. Pria yang tadi tampak loyal pada Hadi kini mundur selangkah. Hadi kehilangan muka di depan orang-orang yang selama ini menjadi sumber kekuasaannya.
Seorang pria berjas hitam melangkah dari sudut ruangan, menatap Arga dengan dingin. "Atasan saya ingin tahu siapa yang berani bermain di ruang ini."
Arga menatap pria itu tanpa gentar. Di sekelilingnya, para tamu yang pernah berutang budi pada keluarga Pradipta mulai menurunkan badan. Satu per satu, lutut mereka menyentuh lantai marmer. Penghormatan yang bukan diberikan karena uang, melainkan karena pengakuan atas otoritas yang lebih tinggi.
Arga berdiri tegak, sementara ancaman baru dari atasan Hadi mulai membayangi, siap mengubah perang ini menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.