Novel

Chapter 7: Chapter 7

Arga berhasil mengonsolidasikan posisinya dengan mengamankan bukti fisik pemalsuan tender dari Nadira, yang secara resmi memutus loyalitas Nadira kepada Hadi. Hadi mencoba menyuap Nadira namun gagal total, yang mengakibatkan posisi Hadi di kota semakin terisolasi. Arga kini memegang kendali penuh atas bukti yang akan digunakan untuk menghancurkan Hadi di pesta elit kota.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 7

Rumah Makan Pradipta tidak lagi sekadar tempat makan; malam ini, ia menjadi pusat gravitasi yang memaksa kota pesisir ini bergetar. Lampu neon di atas pintu masuk berkedip, bukan karena rusak, melainkan karena tegangan listrik yang tidak stabil akibat sabotase jaringan yang baru saja dipatahkan Arga.

Di dalam, suasana hening yang mencekam menyelimuti meja kayu tua. Bu Ratna berdiri di dekat dapur, napasnya tertahan. Di hadapannya, Nadira—notaris yang selama ini menjadi perisai administratif Tuan Hadi—kini duduk dengan tangan gemetar memegang map berisi bukti fisik pemalsuan tender.

"Jika berkas ini keluar, Hadi tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Nadira," suara Bu Ratna memecah kesunyian. Ia bukan lagi ibu yang ketakutan; ia adalah saksi yang mulai memahami bahwa anaknya, Arga, bukanlah pria biasa yang pulang untuk meminta perlindungan, melainkan seseorang yang sedang menarik kembali takhta yang pernah hilang.

Arga berdiri di dekat jendela, menatap jalanan yang sepi. "Hadi tidak akan menyerang secara fisik lagi. Dia terlalu pengecut untuk itu. Dia akan menggunakan jalur legal, mencoba membatalkan lisensi notarismu, dan menyebarkan fitnah bahwa berkas ini palsu."

Nadira menatap Arga. "Saya sudah mempertaruhkan segalanya. Karier, reputasi, bahkan keselamatan saya. Apakah ini cukup untuk menghentikannya?"

"Cukup untuk memulainya," jawab Arga dingin. Ia berbalik, matanya tajam seperti pisau bedah. "Hadi sudah kehilangan dua penawar elitnya hari ini. Jaringan lama yang dia kira sudah mati, kini mulai menagih utang budi mereka. Dia sedang panik, Nadira. Dan orang panik selalu melakukan kesalahan fatal."

Benar saja, pagi harinya, utusan Hadi datang dengan membawa tas kulit berisi slip transfer yang nilainya mampu melunasi utang rumah makan sepuluh kali lipat. Hadi sendiri muncul tak lama kemudian, mengenakan setelan jas yang tampak kusut di bagian kerah—tanda nyata dari malam tanpa tidur.

"Nadira, mari kita bicara sebagai orang dewasa," Hadi memulai, suaranya mencoba terdengar berwibawa meski matanya bergerak liar mencari jalan keluar. "Serahkan berkas itu. Kau bisa mendapatkan posisi di firma hukum besar di ibu kota. Jangan hancurkan masa depanmu demi rumah makan tua yang sudah bangkrut ini."

Nadira menatap tas berisi uang itu, lalu menatap Arga yang berdiri tegak di sampingnya. Arga tidak memberikan perintah, namun kehadirannya adalah dinding baja yang tak tertembus. Tanpa ragu, Nadira justru menyerahkan map cokelat yang berisi bukti korupsi itu langsung ke tangan Arga.

"Ini bukan soal karier, Tuan Hadi," ujar Nadira dengan suara yang kini stabil dan penuh keyakinan. "Ini soal kebenaran yang tidak bisa Anda beli dengan uang curian."

Wajah Hadi memucat. Kepanikan pecah di matanya saat ia menyadari bahwa ia telah kehilangan sekutu terakhirnya. Arga menggenggam bukti itu, menatap Hadi dengan tatapan yang membuat sang penguasa lokal merasa kecil di hadapan pria yang selama ini ia remehkan.

"Kau datang ke sini untuk menyuap, tapi kau lupa satu hal," Arga melangkah maju, suaranya rendah namun menggema di seluruh ruangan. "Di kota ini, reputasi dibangun di atas kepercayaan. Dan kau, Hadi, baru saja kehilangan segalanya."

Arga tidak lagi menatap Hadi. Ia berbalik, membiarkan Hadi berdiri mematung di tengah rumah makan yang kini terasa seperti penjara bagi sang pengusaha. Arga tahu, langkah selanjutnya bukan lagi mempertahankan rumah makan ini. Malam nanti, di pesta elit kota, ia akan membawa bukti ini ke hadapan orang-orang yang selama ini tunduk pada Hadi. Ia akan memastikan bahwa ketika ia melangkah masuk, setiap orang yang berutang budi padanya akan terpaksa memilih pihak—dan mereka akan berlutut.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced