Novel

Chapter 6: Chapter 6

Arga mematahkan upaya penyegelan paksa dengan mengungkap cacat administrasi pada surat perintah Hadi. Ia menggunakan daftar utang budi untuk membubarkan blokade Raka, sementara Nadira menyerahkan bukti fisik pemalsuan tender. Kemenangan ini memicu mundurnya penawar elit dari pihak Hadi, dan Bu Ratna akhirnya menyadari otoritas tersembunyi Arga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 6

Bau minyak panas dan kaldu yang mengental di dapur Rumah Makan Pradipta mendadak terasa menyesakkan. Di depan meja kasir, seorang petugas kepatuhan kota dengan seragam abu-abu kaku berdiri tegak, memegang map dokumen seolah itu adalah surat perintah eksekusi mati. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berjaga, memastikan tidak ada jalan keluar bagi Bu Ratna.

“Operasional ditutup mulai detik ini,” suara petugas itu datar, tanpa emosi. “Ibu bisa tanda tangan sekarang, atau kami segel paksa dengan denda akumulatif yang akan melumpuhkan aset ini selamanya.”

Bu Ratna memegang pinggiran meja, buku-buku jarinya memutih. Ia menatap formulir itu—sebuah jebakan administrasi yang dirancang untuk menghancurkan sisa-sisa martabat keluarganya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan suara, sebuah tangan yang tenang mengambil map tersebut dari tangan petugas.

Arga Pradipta berdiri di sana, mengenakan kemeja polos yang tampak tidak berarti di tengah ketegangan kelas sosial ini. Matanya menyapu baris-baris teks dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia tidak membaca; ia sedang membedah kebohongan.

“Cap waktu ini menggunakan alur indeks yang sama dengan berkas valuasi yang hilang kemarin,” ujar Arga, suaranya rendah namun memotong udara seperti pisau bedah. “Sistem baru sudah diluncurkan sore tadi, namun surat ini masih menggunakan format lama. Anda bekerja untuk Hadi, bukan untuk kantor kota. Katakan padanya, jika dia ingin menutup tempat ini, dia harus membawa surat yang sah, bukan sampah administrasi yang bisa membuat kantornya sendiri diselidiki dalam hitungan jam.”

Petugas itu tersentak, wajahnya memucat. Ia mencoba menarik kembali map tersebut, namun Arga menahannya dengan satu jari. Tekanan itu bukan fisik, melainkan otoritas yang tidak terbantahkan. Petugas itu mundur, gemetar, dan tanpa sadar menyebut nama kantor Hadi sebagai pihak yang memerintahkan penutupan kilat. Pengakuan itu adalah celah yang dicari Arga.

Di lorong samping, Raka Surya yang sedari tadi mengawasi dari bayang-bayang melangkah maju dengan senyum miring. “Jangan terlalu percaya diri, Arga. Akses pasokan sudah kami tutup. Tanpa bahan, dapur ini hanyalah gudang kosong.”

Arga tidak membalas dengan teriakan. Ia mengeluarkan secarik kertas kecil—daftar utang budi yang ia simpan sebagai kartu as. Ia menyebut satu nama, seorang pria yang pernah ia selamatkan dari kebangkrutan total lima tahun lalu, yang kini berdiri di antara anak buah Raka. Pria itu mematung, menatap Arga dengan rasa hormat yang bercampur takut, lalu berbalik menatap Raka dengan pandangan yang membuat nyali sang eksekutor ciut. Blokade itu pecah seketika.

Di ruang makan utama, Nadira membuka map cokelat berisi bukti fisik pemalsuan tender. Di bawah lampu gantung yang meredup, ia menunjukkan anomali pada cap tanggal penangguhan. “Ini buktinya, Arga. File valuasi asli dipindahkan sebelum tender dimulai,” bisik Nadira. Arga menekan ujung jarinya pada dokumen itu. “Bukan hilang, Nadira. Mereka memindahkannya agar kita terlihat tidak memiliki dasar hukum. Sekarang, kita balikkan skenarionya.”

Nadira sadar, jika ia mengikuti jalur resmi tanpa perlindungan, namanya akan menjadi kambing hitam. Ia menatap Arga, mencari kepastian. Arga hanya mengangguk tipis, sebuah isyarat bahwa ia memegang kendali atas papan catur ini.

Malam turun, dan ponsel Bu Ratna bergetar. Kabar itu datang seperti petir: dua penawar elit mundur dari jalur Hadi. Nama Hadi kini menjadi bahan pembicaraan di jaringan elit kota sebagai pihak yang gagal. Bu Ratna menatap putranya yang masih duduk tenang dengan seragam polosnya. Ia baru saja menyadari bahwa pria di depannya bukanlah putra biasa yang selama ini ia lindungi dari kerasnya dunia, melainkan seseorang yang mampu menggerakkan kota dengan satu pesan pendek. Keheningan di meja belakang itu terasa berat oleh pengakuan yang baru saja pecah di kepala sang ibu: Arga adalah pusat dari badai yang sedang menghancurkan musuh-musuh mereka.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced