Novel

Chapter 5: Chapter 5

Arga menahan tekanan audit baru di rumah makan, membongkar anomali berkas valuasi yang dipindahkan, lalu mematahkan sabotase Raka tanpa kekerasan terbuka dengan memanfaatkan daftar utang budi dan bantuan teknis lama. Saat Nadira datang membawa bukti fisik pemalsuan tender, Arga menyusun ulang urutan berkas untuk membuka jalur lapor yang aman sekaligus mengarahkan kecurangan itu kembali ke Hadi. Di akhir chapter, pesan tentang dua penawar elit yang mundur memicu desas-desus bahwa Arga adalah pemilik asli jaringan tender kota, membuat Bu Ratna mulai menyadari bahwa putranya bukan lelaki biasa yang ia kira.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Chapter 5

Telepon itu bergetar di atas meja plastik tepat saat Bu Ratna menata lima lembar uang lusuh hasil hitungan terakhir. Ruang depan rumah makan masih berbau kaldu malam dan minyak goreng yang sudah mendingin; dari dapur tua, bunyi sendok logam beradu pelan, seperti orang-orang di dalam bangunan itu sedang menahan napas bersama-sama.

Nomor tak dikenal.

Bu Ratna menatap Arga lebih dulu, bukan layar itu. Seolah kalau ia menatap anaknya, masalah bisa pindah tangan. Arga baru saja selesai membersihkan sisa debu dari ujung kemejanya setelah pergerakan Raka di belakang tadi dipatahkan. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tetap tajam, seperti sedang menghitung lebih banyak hal daripada jumlah uang di meja.

"Angkat," kata Bu Ratna, suaranya serak tapi tidak minta izin.

Arga mengambil ponsel, menyalakan speaker.

"Saudara Arga Pradipta?" Suara laki-laki muda di seberang terdengar rapi, terlalu rapi untuk kabar baik. "Ini dari kantor audit pusat. Berkas penangguhan rumah makan Pradipta belum bisa diproses lanjut sebelum ada verifikasi fisik terakhir. Besok pukul sepuluh, wajib hadir dengan penanggung jawab dan satu saksi netral. Kalau terlambat, status tangguh bisa berubah jadi pencabutan sementara aset usaha."

Bu Ratna mengangkat kepala. Tangannya, yang tadi menghitung, kini diam di atas tumpukan uang seperti tertangkap basah.

"Saksi netral siapa?" tanya Arga.

Ada jeda singkat, lalu nama itu keluar.

"Nadira Sari."

Nadira yang duduk di kursi plastik dekat pintu dapur tidak bergerak. Tas kerja hitam di pangkuannya menutup rapat sesuatu yang jauh lebih berat daripada kain. Sejak tadi ia tidak banyak bicara, hanya mengamati meja, hitungan uang, dan wajah Bu Ratna yang makin keras. Kini alisnya bergerak tipis.

"Ada perubahan jam tenggat?" Arga lanjut.

"Ada permintaan verifikasi tambahan dari unit atas. File valuasi asli tidak ada di map utama. Harus dicocokkan dengan registrasi keluar-masuk berkas."

"Siapa yang minta?"

"Nama pemohon internal tidak dibuka lewat telepon. Besok saja dibawa semua dokumen. Jangan terlambat."

Panggilan putus.

Hening yang tersisa bukan hening biasa. Itu hening orang-orang yang tahu satu kalimat bisa mengubah harga satu rumah, satu warung, satu nama keluarga.

Bu Ratna akhirnya bersuara, pelan tapi tajam. "Mereka sengaja bikin kita lari-lari. Besok bisa mereka bilang dokumen kurang, lusa bilang saksi belum sah."

Arga menaruh ponsel di meja. "Karena file aslinya dipindah."

Bu Ratna menatapnya. "Kamu yakin?"

Arga tidak menjawab cepat. Ia meraih map tipis di samping piring kosong, membuka lembar paling atas, lalu menunjuk cap kecil di sudut formulir penangguhan. Tanggal keluar berkas, jam registrasi, urutan paraf. Matanya berhenti di satu angka yang tidak cocok dengan catatan salinan yang tadi Nadira sempat tunjukkan diam-diam.

"Cap ini baru dibuat dua jam sebelum kantor audit menelepon," kata Arga. "Tapi laporan masuknya sudah ditandatangani sejak pagi. Artinya ada yang memindahkan file valuasi asli sebelum pengesahan terakhir."

Nadira mengangkat muka. Kini perhatiannya benar-benar tertarik.

"Kalau file itu dipindah, siapa yang pegang?" tanyanya.

"Orang yang tidak mau lelang ini berhenti hanya setengah jalan," jawab Arga.

Bu Ratna menyandarkan tangan ke meja. “Hadi?”

Nama itu jatuh ke ruang makan seperti piring pecah. Bukan karena orang di sana terkejut, melainkan karena semua orang tahu Hadi tidak akan bergerak sendiri tanpa orang dalam. Tidak untuk tender sebesar ini. Tidak dengan rumah makan tua yang dulu pernah jadi simpul pengaruh keluarga Pradipta.

Bu Ratna mengusap dahi, lalu berkata lebih pelan, hampir seperti pengakuan, “Kita sudah selamat dari lelang. Harusnya cukup.”

Arga menatapnya, tidak keras, tapi juga tidak memberi ruang untuk pura-pura aman. “Kalau mereka bisa memindah file asli, lelang hanyalah pintu. Yang mereka cari rumah makan ini, Bu. Bukan sekadar tanahnya.”

Kalimat itu membuat Bu Ratna diam. Di matanya ada sesuatu yang lama: rasa bersalah, takut, dan kebiasaan bertahan terlalu lama tanpa tahu kapan harus menyerang balik.

Nadira menutup mapnya setengah. Ia tahu satu nama bisa menjatuhkan kariernya jika salah diucapkan. Namun kini suaranya lebih mantap. “Unit atas mulai curiga. Mereka minta verifikasi fisik terakhir karena ada perbedaan jalur berkas. Kalau besok ada yang memindahkan atau mengganti lampiran, aku tak bisa menutupinya lagi.”

Arga mengangguk sekali. Itulah yang ia butuhkan: waktu, jalur, dan titik lemah yang resmi.

Dari luar, suara motor berhenti mendadak di gang.

Semua orang di ruangan itu tahu siapa yang datang, bahkan sebelum langkah sepatu berat menyentuh paving.

Bu Ratna memucat. “Raka.”

Arga sudah berdiri sebelum nama itu selesai disebut.

---

Di lorong samping, bau selokan banjir bercampur minyak tua dari gudang belakang. Raka Surya muncul di ujung lorong dengan dua orang bawahan, wajahnya sudah dipakai untuk menakut-nakuti orang sejak lama, tapi malam ini ada retak kecil di bawah percaya dirinya. Ia membawa dua map kusam, satu tangan lagi menyentuh meteran listrik di dinding seolah sedang menilai apakah rumah makan ini pantas disayat dari luar.

"Kalau meteran itu padam, aku yang disalahkan duluan," suara Bu Ratna pecah dari ambang pintu dapur. Bukan marah. Panik yang disusun terlalu lama.

Raka tertawa pendek. “Kalau tempat ini macet, memang pantas diputus. Besok aud—”

"Besok audit pusat datang," potong Arga.

Raka menoleh. Anak buahnya ikut berhenti, seperti ditarik tali tak terlihat.

Arga berjalan keluar dari bayang pintu. Tidak cepat. Tidak menantang. Hanya cukup dekat untuk membuat lorong sempit itu terasa lebih sempit lagi.

"Kamu telat," kata Arga.

Raka menggeser bahu, berusaha tetap santai. "Aku cuma cek kondisi aset yang mau ditertibkan. Ada laporan gudang minyak bocor. Ada kabel tua. Ada kemungkinan ini bahaya publik."

Bu Ratna mendengus, tak percaya. “Kau datang bawa orang, bukan bawa laporan.”

Raka mengangkat map. “Semua yang perlu dibawa ada di sini. Tagihan gudang. Surat akses. Dan kalau kalian bikin susah, aku bongkar meteran dulu. Biar laporan kerusakannya masuk.”

Itu taktiknya: bukan memukul dulu, tapi membuat rumah makan tampak gagal secara teknis sehingga pihak atas bisa bilang tempat ini memang tidak layak bertahan.

Arga memandang map itu lama. Lalu ia mengeluarkan ponselnya.

Satu panggilan masuk ke tukang ledeng lama di ujung kota, orang yang pernah berutang budi karena pipa air keluarganya diselamatkan dari kebocoran besar saat banjir tahun lalu. Panggilan kedua ke penjaga toko material yang masih punya akses ke panel cadangan. Hanya dua kalimat pendek, tanpa ancaman, tanpa suara tinggi.

"Sekarang kirim orang. Bawa sekring cadangan. Jangan lewat depan."

Raka menyipit. "Kamu pikir dua telepon bisa nahan aku?"

Arga menoleh sekilas. "Bukan untuk nahan kamu. Untuk bikin kamu gagal total."

Tak sampai lima menit, suara kendaraan kecil berhenti di ujung gang. Seorang tukang ledeng tua, yang berjalan dibantu tongkat, muncul bersama pemuda kurus membawa kotak peralatan. Bu Ratna tampak makin bingung melihat mereka benar-benar datang. Arga tak menjelaskan. Ia hanya menunjuk meteran, lalu menunjuk panel cadangan.

Raka memaki pelan. Anak buahnya mulai gelisah karena lorong sempit itu kini punya saksi, punya alat, punya rute keluar yang tidak mereka kuasai.

Tukang ledeng tua membuka panel, memeriksa sambungan, dan menggeleng. “Ini cuma mau dicabut paksa. Kalau diputus, bukan rumah makan ini yang kena, tapi yang narik kabelnya yang kelihatan bodoh.”

Salah satu bawahan Raka menatap Raka dengan wajah mulai surut. Panggung yang semula direncanakan untuk sabotase berubah jadi pemeriksaan teknis yang memalukan.

Arga melangkah setengah pace ke depan. Di tangannya bukan senjata, melainkan selembar kertas yang sudah dilipat rapi: daftar utang budi. Nama Raka ada di sana. Bukan sekali. Ada tiga catatan lama—kontrakan ibu, biaya sekolah adik, dan satu pengurusan perkara yang diselamatkan keluarga Surya bertahun lalu.

Arga tidak mengangkat suara. “Kamu datang ke sini atas perintah orang yang sedang diburu audit. Kalau aku bacakan isi lembar ini di depan semua orang, kamu bukan sekadar gagal pasang kerusakan. Kamu akan jadi orang yang menagih perintah pada waktu yang salah.”

Raka menegang. Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi bahunya kehilangan sebagian keberaniannya.

Bu Ratna menatap Arga, kali ini bukan sebagai ibu yang takut rumahnya disita, melainkan sebagai orang yang mulai sadar anaknya sedang membaca papan kuasa yang tak terlihat orang lain.

Arga menatap Raka terakhir kali. “Pergi. Kalau mau menyelamatkan nama, bilang ke Hadi: jangan kirim orang lapangan kalau kantor pusat sudah mengawasi.”

Raka ragu hanya sebentar. Itu cukup untuk membuat dua bawahannya mundur satu langkah. Mereka pergi tanpa drama, tanpa ancaman tambahan. Hanya suara sepatu yang menghilang di gang basah. Kegagalan itu jauh lebih memalukan daripada perkelahian, karena semua orang melihat ia datang untuk merusak, lalu pulang dengan tangan kosong.

Bu Ratna menghela napas panjang, belum sepenuhnya lega. Rumah makan tetap berdiri, meteran tetap hidup, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ancaman fisik di belakang berhasil dipatahkan tanpa memberi lawan panggung.

Tapi wajah Nadira saat keluar dari pintu dapur membuat suasana berubah lagi.

"Kita punya masalah yang lebih besar," katanya.

---

Nadira turun dari mobil dinas dengan map cokelat di dada, bukan karena percaya pada siapa pun, tetapi karena jarinya masih terasa dingin oleh ancaman pagi tadi. Di teras rumah makan Pradipta, lampu neon yang redup memantul di lantai semen basah. Bu Ratna berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya tegang, sementara Arga sudah menunggu di sisi jalan sempit, seperti orang yang memang tahu kapan sebuah langkah palsu akan datang.

"Kalau ini salah alamat, aku bisa kehilangan jabatan," kata Nadira pendek, tanpa basa-basi.

"Kalau dibuka dengan urutan yang benar, yang hilang bukan jabatanmu," jawab Arga.

Bu Ratna menatap map itu seperti menatap pisau. “Berkas apa lagi yang kalian bawa ke rumah makan saya?”

"Yang semestinya disembunyikan orang seperti Hadi," kata Nadira. Ia menggeser map itu ke atas meja sempit di ruang samping—ruangan yang biasanya dipakai menghitung uang dan membungkus nota, sekarang dipenuhi bau kaldu malam dan kertas lembap. “Bukti fisik. Ada ketidaksesuaian cap, nama saksi, dan lampiran valuasi. Tapi kantor sudah bergerak menutup jejak. Ada instruksi supaya berkas ini tidak keluar dari sistem.”

Bu Ratna menarik napas pendek. “Jadi kamu datang untuk apa? Menitipkan masalah?”

Nadira membuka map sedikit, lalu menahan tangannya sendiri. Ragu itu nyata; di kantor, satu nama yang salah disebut bisa membuatnya dipindah, dibekukan, atau dijadikan kambing hitam. “Aku datang untuk memastikan ini tidak dipakai untuk menenggelamkan orang yang salah,” katanya.

Arga menggeser kursi, duduk tanpa tergesa. Ia mengambil lembar-lembar itu satu per satu, membacanya bukan seperti orang awam, melainkan seperti seseorang yang mengenali kesalahan struktural dari cara kertas dicetak. Cap keluar-masuk, tanda tangan saksi, urutan lampiran valuasi, bahkan jam arsip.

"Nama saksi ini beda gaya tulisannya," kata Arga. "Dan nomor lampiran ini milik berkas yang seharusnya ada di file asli, bukan salinan."

Nadira menatapnya tajam. “Kamu bisa lihat itu dari sekali lihat?”

"Bisa kalau orang yang memalsukan terlalu percaya kota ini bodoh." Arga menaruh lembar terakhir kembali. "Mereka sengaja memindah file asli setelah penangguhan turun. Kalau besok unit atas datang dan tidak menemukan valuasi asli, mereka bisa bilang rumah makan ini sengaja menahan dokumen, lalu menekan penutupan lewat jalur lain."

Bu Ratna menutup mulutnya sebentar. Jadi lelang yang sudah ditangguhkan belum benar-benar selesai. Mereka sedang mencari jalan belakang untuk memutar kembali keputusan itu.

Nadira merapatkan map ke dada. Kini ia lebih gelisah daripada saat datang. “Kalau begini, aku harus lapor. Tapi kalau aku lapor dengan nama yang terlalu jelas, Hadi tahu siapa yang buka jalur.”

Arga tidak mendesak. Ia hanya menggeser catatan kecil ke hadapannya: urutan cap, jam anomali, dan satu nomor rekening penampung yang sudah ia cocokkan dengan jaringan lama. “Lapor tanpa menyebut kesimpulan. Buka lewat ketidaksesuaian waktu. Biar mereka sendiri yang menemukan arah ke Hadi.”

Nadira menatap daftar itu lama. Cara Arga mengatur berkas membuatnya paham satu hal: pria di depannya bukan cuma tahu jalan belakang kantor, tapi tahu bagaimana sebuah kota melindungi orang-orang pentingnya.

"Kalau aku jalan dengan cara ini," katanya akhirnya, "aku akan diburu dua sisi. Kantor karena bocorkan prosedur. Hadi karena jadi saksi yang sulit dibungkam."

"Itu sebabnya kamu harus memilih sisi yang bisa bertahan," kata Arga.

Kalimatnya sederhana, tapi Bu Ratna mendengar sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Nada itu bukan nada orang kampung yang mendadak beruntung. Itu nada seseorang yang terbiasa membuat keputusan di atas meja yang lebih besar daripada ruang makan ini.

Bu Ratna menatap wajah putranya lama sekali. Lalu map di meja. Lalu ponsel Arga yang layar retaknya kembali menyala dengan notifikasi masuk.

Bukan dari kontak biasa.

Satu pesan pendek, masuk dari nomor yang disamarkan.

Dua penawar elit mundur dari jalur Hadi. Sumber lama aktif lagi.

Nadira melihat isi layar itu sekilas dan wajahnya berubah. “Dua penawar mundur?”

Arga tidak langsung menjawab. Matanya malah turun ke daftar utang budi yang tadi digunakan untuk memadamkan Raka. Ada koneksi lebih besar di balik nama-nama itu. Jaringan tender kota bukan cuma arena Hadi; ada jalur lama yang pernah bergerak di bawah tangan orang lain, dan sepertinya Arga masih diingat di sana.

Bu Ratna menyadari Arga membaca pesan itu tanpa terkejut. Itu yang membuat dadanya mengeras. Kalau anaknya hanya orang biasa, ia akan kaget. Kalau ia tidak kaget, berarti selama ini ada ruang hidup yang tidak pernah ia ceritakan.

Dari luar, terdengar suara mobil melintas pelan di gang. Sebuah bisik-bisik dari warung sebelah menyebut nama yang sama berulang kali: Pradipta, tender, Hadi, jaringan lama.

Desas-desus itu bergerak lebih cepat daripada langkah manusia. Satu keputusan audit, satu penangguhan lelang, satu file yang dipindah, dan kini kalangan elit mulai menghubungkan semuanya dengan nama Arga—bukan sebagai pria biasa yang kebetulan menyelamatkan rumah makan, tetapi sebagai pemilik asli dari jaringan tender kota yang selama ini orang kira sudah lama mati.

Bu Ratna memandangnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan di wajahnya berubah bentuk menjadi pengenalan yang lambat dan pahit.

Anaknya bukan pria biasa.

Dan rumah makan leluhur yang selama ini ia jaga dengan hitungan uang receh, ternyata berdiri di atas nama yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia berani pikirkan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced