Chapter 4
Lampu neon di ruang notaris berkedip, memantul di permukaan meja kaca yang dingin. Nadira menatap tumpukan berkas tender yang kini terasa seperti bom waktu. Di seberangnya, Tuan Hadi Wiranata duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk meja dengan ritme yang dipaksakan tenang.
"Kembalikan berkas itu, Nadira," suara Hadi rendah, tajam seperti silet. "Kau tahu konsekuensinya jika dokumen yang belum diverifikasi ini keluar dari ruangan ini. Kariermu, reputasi kantor ini—semuanya bisa habis dalam satu malam."
Nadira tidak berkedip. Ia teringat tatapan Arga Pradipta di ruang lelang tadi pagi—tatapan seorang pria yang tidak sedang memohon, melainkan sedang menagih utang sejarah. Arga tidak sekadar menghentikan lelang; ia membongkar fondasi sistem yang selama ini Hadi bangun di atas manipulasi.
"Audit pusat sudah turun, Tuan Hadi," jawab Nadira, suaranya stabil meski jantungnya berdegup kencang. "Saya memiliki kewajiban hukum untuk melaporkan ketidaksesuaian valuasi ini. Bukti pemalsuan di berkas tender ini sudah terlalu nyata untuk diabaikan. Saya tidak akan menghancurkan karier saya hanya untuk melindungi kesalahan yang Anda buat sendiri."
Hadi berdiri perlahan. Wajahnya yang biasanya elegan kini tampak pucat, dikhianati oleh otot rahang yang mengeras. "Kau pikir pria seperti Arga itu penyelamat? Dia hanya sisa masa lalu yang mencoba menarikmu ke dalam kuburan yang sama."
Nadira menutup brankas pribadinya, mengunci bukti tersebut dengan bunyi dentuman logam yang final. Hadi pergi dengan ancaman terselubung yang tertinggal di udara, namun Nadira tahu, permainan ini telah berubah. Ia bukan lagi notaris yang sekadar mencatat; ia adalah saksi yang memegang kunci kejatuhan seorang penguasa tender.
Sementara itu, di Rumah Makan Pradipta, suasana jauh dari tenang. Bu Ratna menghitung uang receh dengan jari gemetar di meja kasir. Rumah makan yang dulu menjadi simpul kekuatan keluarga kini terasa seperti bangkai yang dikerubungi lalat. Supplier sayur menelepon, menuntut pembayaran tunai di muka karena rumor kebangkrutan yang disebar kaki tangan Hadi.
"Kita ini belum jatuh, Ga," suara Bu Ratna serak. "Tapi orang-orang sudah memperlakukan kita seperti sampah. Kalau Raka kembali, kita tidak punya apa-apa lagi untuk ditawarkan."
Arga berdiri di ambang dapur, menatap rak panci yang ditata rapi. Ia tidak menjawab dengan kata-kata penenang yang kosong. Ia justru membuka buku kas besar, mencatat setiap transaksi, dan menyusun daftar nama-nama supplier yang berani memeras mereka. Arga tidak sedang mempertahankan rumah makan; ia sedang memancing lawan keluar dari persembunyiannya. Ia menutup buku kas dengan dentuman pelan, sebuah tanda bahwa persiapan telah selesai.
Tak lama kemudian, pintu kayu rumah makan dibanting terbuka. Raka Surya melangkah masuk bersama tiga orang berbadan tegap, membawa linggis kecil yang berkilau di bawah lampu temaram.
"Ratna!" teriak Raka. "Lelang mungkin ditunda, tapi utangmu tidak pernah tidur. Kalau kau tidak bisa membayar dengan uang, kami akan mengambilnya dengan kayu dan besi!"
Raka mengayunkan linggisnya ke arah meja kayu tua—warisan kakek Arga—hingga retak. Namun, ayunan berikutnya tidak pernah mencapai sasaran. Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangan Raka dengan kekuatan yang membuat pria itu memucat seketika. Arga Pradipta berdiri di sana, tanpa ekspresi, seolah ia baru saja menghentikan lalat yang mengganggu.
"Kau merusak meja yang bahkan tidak pantas kau sentuh, Raka," suara Arga dingin dan mematikan. "Dan kau, Raka Surya, punya utang budi pada keluarga ini yang bunganya sudah menumpuk selama sepuluh tahun. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang menyuruhmu?"
Arga membisikkan satu nama—sebuah nama yang membuat Raka gemetar hebat hingga linggisnya jatuh ke lantai. Arga tidak sekadar mematahkan intimidasi fisik; ia baru saja menunjukkan bahwa ia memegang daftar dosa-dosa yang bisa menghapus eksistensi siapa pun di kota ini. Raka mundur ketakutan, menyadari bahwa ia bukan berhadapan dengan pria biasa, melainkan seseorang yang selama ini ia remehkan, namun kini memegang tali kendali atas nasibnya.