Novel

Chapter 3: Terms Rewritten

Arga berhasil menghentikan lelang dengan membongkar pemalsuan dokumen tender Tuan Hadi di depan publik, memaksa otoritas pusat turun tangan. Namun, kemenangan ini memicu balasan dari Hadi yang mengirim Raka untuk menyerang rumah makan Pradipta.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Terms Rewritten

Ruang lelang itu membeku. Palu kayu di tangan juru lelang menggantung di udara, seolah tertahan oleh gravitasi yang baru saja berubah. Di baris depan, kartu akses emas milik Arga Pradipta tergeletak di atas meja notaris, memantulkan cahaya lampu ruangan dengan kilau yang terasa menghina bagi siapa pun yang mencoba bermain curang.

Tuan Hadi Wiranata memaksakan senyum, namun otot di sudut matanya berkedut. "Ini hanya masalah administratif kecil, Nadira. Jangan biarkan kartu yang... entah dari mana asalnya ini, menghentikan proses yang sudah sah secara hukum." Suaranya terdengar terlalu keras, sebuah upaya putus asa untuk mengembalikan otoritas yang baru saja luruh.

Nadira tidak menoleh. Jemarinya menekan map cokelat yang disodorkan Arga. Ia membandingkan angka-angka di berkas tender Hadi dengan catatan audit gudang yang baru saja ia buka. "Tuan Hadi," suaranya tenang, membelah keheningan aula, "kode valuasi ini tidak cocok. Dan cap verifikasi ini berasal dari register yang sudah dinyatakan nonaktif tiga tahun lalu."

"Itu kesalahan teknis!" potong Hadi, wajahnya memerah. "Kita bisa memperbaikinya setelah lelang selesai."

"Bukan kesalahan teknis," sahut Nadira dingin. Ia menoleh ke staf notaris. "Tunda palu. Segel berkas tender ini. Sekarang."

Staf itu ragu, melirik Hadi, namun kartu emas Arga tetap di sana—sebuah simbol otoritas yang tak terbantahkan. Dengan tangan gemetar, staf itu menarik map tender dari tangan Hadi. Ruangan itu pecah dalam bisik-bisik panik. Investor yang tadi yakin akan kemenangan Hadi kini saling menjauh, takut terseret dalam skandal yang mulai tercium baunya.

Arga akhirnya bersuara, suaranya rendah namun tajam. "Buka lampiran tiga, Nadira."

Nadira membuka halaman yang dimaksud. Di sana, ia menemukan pola valuasi yang dimanipulasi—angka-angka yang terlalu bulat, terlalu rapi untuk sebuah aset yang seharusnya dinilai berdasarkan kondisi pasar. "Ini tanda tangan pejabat yang sudah pensiun," gumam Nadira, matanya membelalak.

"Dan ini," Arga menunjuk baris terakhir, "adalah bukti bahwa rumah makan kami dipaksa masuk ke jalur tender tanpa persetujuan keluarga. Ada halaman yang hilang, Hadi. Halaman yang menjelaskan siapa sebenarnya yang memerintahkanmu menyusun skema ini."

Hadi menggeram, "Siapa pun kau, jangan coba-coba mengajari saya soal dokumen!"

Arga berdiri, menatap Hadi tepat di mata. Tidak ada kemarahan, hanya ketenangan yang dingin dan berbahaya. "Kau masih belum sadar, Hadi? Kau bukan pemain utama di ruangan ini. Kau hanya eksekutor yang disuruh mengotori tangan. Dan sekarang, tanganmu sudah kotor di depan semua orang."

Kalimat itu menghantam Hadi lebih keras daripada bentakan. Di saat yang sama, ponsel seorang petugas administrasi berdering. Wajahnya memucat setelah mendengar instruksi di seberang sana. "Ada pemeriksaan dari otoritas pusat," bisiknya gemetar. "Mereka meminta salinan proses dan verifikasi kartu akses. Sekarang."

Kepanikan Hadi mencapai puncaknya. Ia mundur selangkah, menyadari bahwa permainannya bukan lagi soal lelang, melainkan soal kelangsungan hidupnya sendiri. Nadira menutup berkas dengan bunyi dentum yang final. "Tender ini cacat. Seluruh proses ditangguhkan hingga audit otoritas kota selesai."

Arga merasakan getar di ponselnya. Satu pesan singkat: Raka bergerak ke dapur.

Arga tidak berkedip. Hadi memilih balasan kotor. Jika lelang gagal, ia akan menghancurkan tempat yang paling rentan. Arga menatap Hadi sekali lagi, sebuah tatapan yang menjanjikan bahwa ini hanyalah awal. Kemenangan kecil di ruang lelang ini hanyalah pembuka; pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai di dapur rumah makan leluhurnya.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced