Novel

Chapter 2: The First Lever

Arga mematahkan intimidasi Raka di dapur dengan membongkar pemalsuan dokumen tagihan. Ia kemudian membawa bukti tersebut ke rumah lelang, di mana ia menggunakan kartu akses emas untuk memaksa Nadira memverifikasi kejanggalan tender Tuan Hadi, mengungkap skema pemalsuan sistematis tepat sebelum palu lelang jatuh.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The First Lever

Aroma kaldu sapi yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik di dapur rumah makan Pradipta. Arga berdiri di sudut, memperhatikan Bu Ratna yang gemetar hebat. Di hadapan mereka, Raka Surya—pria dengan setelan jas mahal yang tampak janggal di tengah kepulan uap dapur—melemparkan map merah ke atas meja kayu yang sudah lapuk.

“Tanda tangani sekarang, Bu Ratna. Ini tagihan gudang logistik yang tertunggak dua bulan. Atau, saya pastikan truk pengangkut bahan baku besok pagi tidak akan pernah sampai di depan pintu ini,” ujar Raka dengan senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia melirik Arga, lalu tertawa kecil. “Oh, dan kau, Arga? Masih berharap bisa menyelamatkan tempat sampah ini dengan tatapan dinginmu?”

Bu Ratna memegang pulpen dengan tangan pucat. “Kami sudah melunasi sebagian besar cicilan bulan lalu, Raka. Jangan menekan kami seperti ini.”

Arga melangkah maju. Gerakannya tenang, nyaris lambat, namun kehadirannya membuat Raka refleks menegakkan punggung. Arga menarik map itu dari tangan ibunya sebelum pena menyentuh kertas. Ia membalik halaman demi halaman dengan saksama. Matanya yang tajam menangkap kejanggalan: stempel resmi gudang itu tidak sejajar dengan garis margin, dan nomor seri tagihan tidak tercatat dalam log audit yang ia ingat dari masa kejayaan keluarga mereka.

“Tagihan ini palsu,” ucap Arga datar. Ia meletakkan map itu kembali, tidak di tangan Raka, melainkan di atas tungku yang masih panas. “Kau tidak hanya menagih utang, kau memalsukan dokumen untuk mempercepat penyitaan. Jika aku melaporkan ini ke otoritas lelang, bukan hanya rumah makan ini yang selamat, tapi kau yang akan berakhir di sel tahanan.”

Keheningan menyelimuti dapur. Raka tertegun, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Arga tidak menunggu jawaban; ia menarik lengan ibunya dan melangkah keluar, meninggalkan Raka yang terpaku dengan ancaman yang kini berbalik menjadi bumerang.

Di rumah lelang, udara dingin ruang arsip terasa seperti peringatan lain. Nadira, notaris yang bertugas, menatap mereka dengan skeptis. “Akses reguler tutup. Berkas tender utama sedang diperiksa. Jangan bikin ribut.”

Arga tidak memohon. Ia mengeluarkan kartu akses emas dari saku dalam kemejanya. Benda kecil itu tidak berkilau berlebihan, tapi cukup untuk membuat warna wajah staf di loket memudar. Nadira yang melihat kartu itu dari balik meja verifikasi segera mendekat. Tangannya yang gemetar memegang sebuah bundel berkas yang baru saja ia tarik dari laci terkunci. Matanya bertemu dengan tatapan Arga—ada pengakuan di sana, bahwa apa yang ia temukan bukan sekadar kesalahan administratif, melainkan skema besar untuk merampas tanah leluhur keluarga Pradipta.

“Tuan Arga,” bisik Nadira, suaranya nyaris tak terdengar. “Ada ketidaksesuaian mendasar pada dokumen tender Tuan Hadi. Angka valuasi ini... tidak memiliki jejak audit digital yang sah. Ini pemalsuan sistematis.”

Di ruang lelang utama, Tuan Hadi Wiranata berdiri di podium dengan senyum penuh kemenangan, memegang palu kayu. “Waktu hampir habis, Ibu Ratna. Jika bid tidak diselesaikan dalam dua menit, aset ini resmi berpindah tangan.”

Arga berdiri tegak, wajahnya sedatar permukaan air laut. Ia tahu Hadi merasa aman karena mengira notaris sudah berada dalam genggamannya. Namun, saat Nadira melangkah ke tengah ruangan dengan berkas yang sudah ditandai, Hadi menyadari bahwa kartunya telah terbaca. Arga menatap Hadi dengan tatapan yang membuat sang pengusaha gemetar—sebuah tatapan yang bukan milik pria biasa, melainkan milik seseorang yang baru saja membuka pintu menuju perang yang jauh lebih besar.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced