Novel

Chapter 1: The Public Slight

Arga Pradipta menghadapi ancaman pengosongan paksa rumah makan leluhurnya oleh kaki tangan Tuan Hadi. Di tengah penghinaan publik saat lelang aset, Arga membongkar kecacatan prosedur dokumen Tuan Hadi dan memicu kebingungan notaris Nadira dengan kartu akses emas yang tak terduga.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

The Public Slight

Dapur Rumah Makan Pradipta tidak lagi berbau rempah yang menjanjikan kejayaan. Ruangan itu kini hanya menyisakan aroma tengik minyak jelantah dan debu yang menempel di dinding-dinding kusam. Arga Pradipta berdiri di depan tungku, mengaduk sisa kaldu dengan gerakan lambat yang nyaris ritualistik. Di belakangnya, Bu Ratna tidak lagi mampu menyembunyikan gemetar di jemarinya saat ia membanting map lusuh ke atas meja stainless.

"Listrik diputus besok, Arga. Tuan Hadi sudah memastikan tidak ada pemasok yang berani mengirim bahan baku ke sini," suara Bu Ratna pecah, sarat akan kelelahan yang telah ia pikul bertahun-tahun. "Kita bukan lagi pemilik rumah makan ini. Kita hanya menunggu waktu untuk diusir."

Arga tidak menoleh. Ia mematikan api, menyeka uap dari kaca jam dinding yang retak. Di dinding belakang, foto kakeknya—pendiri dapur yang dulu menjadi simpul pengaruh kota—menatap ruangan dengan keangkuhan yang kini terasa seperti ejekan bagi kemiskinan mereka.

"Besok?" tanya Arga datar.

"Siang ini mereka datang untuk pengosongan paksa," jawab Bu Ratna. "Tuan Hadi tidak akan membiarkan kita bertahan sampai lelang besok. Dia ingin kita hancur sebelum palu itu jatuh."

Arga tahu apa artinya. Jika rumah makan ini jatuh, bukan hanya dapur yang hilang. Kredit keluarga akan hangus, pemasok akan memutus akses, dan nama Pradipta akan menjadi bahan tertawaan di setiap sudut pasar. Ini bukan sekadar utang; ini adalah penghapusan jejak sejarah.

Pintu dapur terbuka kasar. Raka Surya melangkah masuk, sepatunya yang mengilap tampak menghina lantai semen yang kusam. Ia membawa map kulit cokelat, simbol kuasa yang ia gunakan untuk menundukkan orang tanpa perlu berteriak.

"Mas Arga," sapa Raka dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Saya bawa surat sita eksekusi. Tuan Hadi ingin tempat ini kosong sebelum lelang dimulai besok."

Bu Ratna melangkah maju, namun Arga menahannya dengan satu isyarat tangan. Arga mengambil map itu, matanya memindai isi dokumen dengan kecepatan yang membuat Raka sedikit tertegun.

"Salah tanggal," ucap Arga tenang. "Pemberitahuan ini diterbitkan setelah pengesahan. Ini cacat prosedur. Kau tidak punya hak eksekusi hari ini."

Raka tertawa, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir orang kota peduli urutan tanggal di kertas orang yang bangkrut?"

"Aku peduli," sahut Arga. "Dan kau masuk tanpa saksi independen. Satu langkah lagi, dan aku akan memastikan ini menjadi bumerang bagi Tuan Hadi."

Raka terdiam sejenak, senyumnya memudar. Ia tidak menyangka Arga akan melawan dengan detail, bukan dengan emosi. "Besok, lelang tetap jalan. Rumah makan ini akan jatuh. Siapkan dirimu untuk diseret keluar dengan malu."

*

Gedung Lelang Kota berbau apek, campuran karpet tua dan parfum mahal yang disemprotkan untuk menutupi kerak keserakahan. Tuan Hadi Wiranata berdiri di panggung, memegang palu lelang dengan angkuh. Di sampingnya, Nadira, notaris yang tampak netral, memegang map valuasi dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Objek nomor empat puluh dua," suara Tuan Hadi menggema. "Aset properti kawasan lama. Harga pembuka lima ratus juta."

Ruangan diam. Semua orang tahu ini adalah lelang sandiwara. Arga melangkah keluar dari bayangan, mengenakan jaket polos yang membuatnya tampak seperti orang asing di tengah para pengusaha berjas.

"Arga," Tuan Hadi tersenyum sinis. "Datang untuk melihat kehancuranmu sendiri?"

Arga berjalan lurus ke meja lelang. Ia menatap Nadira. "Berkas itu palsu."

Nadira menoleh, matanya menatap Arga dengan rasa ingin tahu yang tertahan. Ia membalik halaman valuasi. Jemarinya berhenti pada cap yang ganjil. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan: dokumen itu memang tidak sinkron dengan arsip induk.

"Tuan Hadi," suara Nadira terdengar tegas. "Saya perlu verifikasi ulang. Ada ketidaksesuaian nomor seri."

"Lanjutkan lelangnya!" bentak Tuan Hadi, wajahnya memerah.

Arga tidak menunggu. Ia mengeluarkan kartu akses emas dari saku jaketnya dan meletakkannya di atas meja lelang yang kotor. Kartu itu memantulkan cahaya lampu, membuat tawa Tuan Hadi seketika membeku. Ruangan itu mendadak sunyi, bukan karena takut pada palu lelang, melainkan karena menyadari bahwa Arga Pradipta bukanlah pria biasa yang bisa mereka injak.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced