Chapter 10
Pukul sembilan lewat dua puluh malam, lobi Kantor Pengawasan Kota terasa seperti ruang tunggu eksekusi. Arga Pradipta berdiri di depan meja resepsionis, map tua berisi catatan logistik keluarga di tangan kiri, dan kartu akses emas yang memancarkan kilau dingin di tangan kanan. Di belakangnya, Bu Ratna memeluk buku catatan lusuh itu—benteng terakhir mereka. Nadira berdiri satu langkah di samping Arga, tatapannya tajam, tidak lagi menyembunyikan keberpihakannya.
Petugas resepsionis, seorang pria muda dengan dasi yang terlalu ketat, menatap Arga dengan tatapan meremehkan yang sudah sangat familiar. "Nama?" tanyanya datar, tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.
"Arga Pradipta," jawab Arga. Suaranya rendah, namun memiliki resonansi yang membuat dua satpam di sudut lobi menoleh secara refleks.
Petugas itu mengetik sesuatu, lalu mengangkat alisnya. "Jadwal Anda tidak ada. Rapat pengawasan malam ini tertutup. Tamu tanpa undangan tidak diperbolehkan masuk ke lantai audit." Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang dirancang untuk mempermalukan orang tanpa harus bersuara keras.
"Saya bukan tamu," potong Arga. Ia meletakkan kartu akses emasnya di atas meja marmer. Bunyi denting logam itu bergema di lobi yang luas. "Saya datang untuk memverifikasi penangguhan lelang dan membuka dokumen jalur distribusi yang dipalsukan untuk dasar valuasi tanah saya."
Respon petugas itu berubah dari meremehkan menjadi pucat saat melihat kartu di depannya. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, Arga sudah melangkah melewati meja resepsionis. Nadira mengikuti dengan langkah mantap, meninggalkan petugas yang kini tergagap mencoba menghubungi atasan.
Di dalam ruang rapat pengawasan yang diterangi lampu neon pucat, suasana seketika hening saat Arga masuk. Tuan Hadi Wiranata duduk di ujung meja, jas mahalnya tampak tidak rapi, dan wajahnya pucat pasi. Di hadapannya, pejabat pengawasan senior sedang membolak-balik berkas tender yang sudah terbukti bermasalah.
"Anda tidak seharusnya ada di sini, Arga," desis Hadi, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan.
Arga tidak menghiraukan Hadi. Ia menarik kursi kayu dan duduk, lalu membuka buku catatan logistik tua milik keluarga Pradipta di atas meja. "Dapur bukan sekadar tempat memasak, Tuan Hadi," ujar Arga, suaranya memenuhi ruangan. "Di rumah makan keluarga saya, dapur adalah simpul logistik kota. Setiap karung beras yang masuk, setiap bumbu yang dikirim, semuanya tercatat di sini dengan presisi yang tidak bisa dibeli oleh uang suap Anda."
Nadira mulai membacakan ketidaksesuaian data. "Ada selisih masuk dan keluar barang yang masif, dengan cap gudang pusat yang digunakan tanpa izin. Tiga rute pengiriman yang Anda klaim sebagai milik perusahaan Anda, sebenarnya menggunakan jalur distribusi yang sudah dipegang keluarga Pradipta selama tiga generasi. Ini bukan sekadar kesalahan administratif. Ini adalah pencurian aset negara."
Pejabat pengawasan senior itu menyentuh kaca matanya, wajahnya berubah pucat saat melihat cap arsip pusat yang hilang pada halaman yang ditunjuk Nadira. "Ini... dokumen ini memiliki otoritas hukum yang lebih tinggi daripada tender lelang," bisiknya.
Arga menatap Hadi tepat di mata. "Rumah makan itu bukan hanya aset properti. Itu adalah kunci yang memegang kendali atas alur distribusi logistik kota ini. Anda mencoba menyita kunci tersebut tanpa sadar bahwa Anda sedang mencoba memutus nadi ekonomi kota sendiri."
Hadi mencoba berdiri, namun kakinya seolah terpaku ke lantai. "Ini jebakan!" teriaknya, namun suaranya terdengar hampa di hadapan para pejabat yang kini mulai menjauhkan diri darinya.
Arga menggeser lembar audit silang ke arah pejabat pengawasan. "Hadi Wiranata terjebak dalam perangkap hukum yang ia buat sendiri. Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang lelang, melainkan seberapa dalam Anda, Tuan Hadi, akan tenggelam saat otoritas pusat mulai mengaudit siapa saja yang membantu Anda memalsukan dokumen ini."
Arga berdiri, menatap Hadi yang kini benar-benar terisolasi. "Rumah makan leluhur bukan sekadar sejarah, Tuan Hadi. Itu adalah fondasi yang akan mengubur ambisi Anda."