Wajah di Balik Topeng
Bau asap sisa pembakaran di Restoran Kencana masih menempel di dinding kayu jati, namun bagi Arjuna, itu adalah aroma kemenangan yang tertunda. Ia berdiri di meja dapur, menyusun tiga map berisi sertifikat asli Kencana dan bukti manipulasi tender yang ia ambil dari arsip kota. Di bawah lampu gantung yang remang, dokumen-dokumen itu bukan sekadar kertas; itu adalah kunci yang akan meruntuhkan fondasi kartel properti yang selama ini mencekik napas keluarga Maya.
Langkah kaki terhenti di ambang pintu. Maya berdiri di sana, wajahnya pucat namun matanya menyala dengan intensitas yang belum pernah Arjuna lihat. Di tangannya, ia memegang laporan intelijen yang tadi tertinggal di dekat lemari bumbu—sebuah dokumen yang merinci jalur rekening, kode operasi, dan nama sandi 'K'.
“Siapa kamu sebenarnya, Jun?” Suara Maya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Ia melempar map itu ke atas meja stainless. “Ini bukan data yang bisa diakses oleh seorang menantu yang hanya tahu cara mencuci piring. Bramantyo hanyalah pion, dan kamu... kamu tahu persis siapa yang menarik tali di atasnya.”
Arjuna tidak berpaling. Ia meletakkan kain lapnya dengan gerakan tenang yang presisi. “Aku adalah pria yang berjanji menjaga Kencana, Maya. Dan Kencana tidak akan aman selama sosok di balik ‘Tuan K’ masih memegang kendali atas tender kota.”
“Aku bukan lagi wanita yang bisa kamu bohongi dengan diammu,” potong Maya, melangkah mendekat. “Bramantyo sudah jatuh, tapi tender itu tetap berjalan dalam dua belas jam. Jika kita tidak membalikkan keadaan sekarang, semua yang kita perjuangkan akan sia-sia.”
Arjuna menatap istrinya. Ia melihat ambisi yang kini sejajar dengan kecerdasannya. Ia menarik tumpukan berkas tender dan membukanya. “Mereka memalsukan file penilaian, tapi mereka terlalu serakah. Lihat aliran dana ini—semuanya bermuara pada perusahaan cangkang yang dikendalikan langsung oleh Tuan K.”
Selama tiga jam, dapur itu berubah menjadi ruang komando. Arjuna tidak lagi menyembunyikan kemampuannya; ia membedah pola pergerakan ekonomi kartel, menunjukkan pada Maya bagaimana cara memanipulasi celah hukum dalam dokumen tender. Maya menyerap setiap detail, menyadari bahwa suaminya adalah seorang ahli strategi yang selama ini menahan diri demi melindunginya dari bayang-bayang perang yang lebih besar.
“Kamu akan menjadi wajah publik dalam tender besok,” ujar Arjuna dingin. “Aku akan memastikan setiap jebakan yang mereka pasang berbalik menghancurkan mereka sendiri.”
Saat fajar menyentuh cakrawala, sebuah notifikasi terenkripsi muncul di perangkat Arjuna. Pesan itu singkat: ‘Langkahmu terbaca. Perang baru saja dimulai.’
Arjuna menatap layar itu. Kemenangan atas Bramantyo hanyalah pembukaan. Di atas sana, Tuan K telah menyadari kehadirannya. Ia tidak lagi bisa bersembunyi di balik topeng menantu yang tidak berguna. Papan catur telah berubah, dan ia harus memegang kendali penuh sebelum musuh yang jauh lebih kuat menghancurkan segalanya.