Siasat Terakhir Bramantyo
Jam 22:41. Layar monitor CCTV di ruang belakang Restoran Kencana menampilkan sosok yang seharusnya sudah hancur: Bramantyo. Ia tidak lagi mengenakan setelan jas mahal, melainkan jaket kurir lusuh. Di dapur, aroma kunyit dan arang yang biasanya menenangkan kini terasa mencekik. Maya berdiri di samping Arjuna, jemarinya mencengkeram map sertifikat Kencana hingga buku jarinya memutih.
“Dia masuk lewat jalur servis timur,” bisik Darman, matanya terpaku pada tablet yang menampilkan denah keamanan. “Dua orang di parkir belakang. Mereka bukan sekadar preman, mereka tim pembersih.”
Arjuna tidak menoleh. Ia menggeser tampilan kamera, mengunci pergerakan Bramantyo yang berhenti di balik tumpukan kardus minyak goreng. Pria itu membawa karung hitam yang terlihat kaku—bukan paket, melainkan jeriken bensin. Bramantyo tidak lagi mencari negosiasi; ia mencari abu.
“Kalau dia menyalakan api, sertifikat ini tidak akan ada gunanya,” suara Maya bergetar, namun matanya tajam.
“Dia tidak akan sempat,” jawab Arjuna datar. Ia menekan satu tombol pada panel kontrol. Klik. Pintu akses lorong servis terkunci otomatis. Sistem keamanan restoran yang selama ini dianggap kuno kini menjadi penjara bagi Bramantyo.
Arjuna melangkah keluar menuju lorong servis yang lembap. Di sana, Bramantyo sedang menuangkan cairan berbau tajam ke lantai. Ia menoleh, wajahnya yang hancur oleh kekalahan di lelang tadi siang kini digantikan oleh seringai gila.
“Kau pikir mengunci asetku dan memblokir rekeningku sudah cukup?” Bramantyo mendesis, tangannya merogoh saku jaket. “Aku masih punya cara untuk menghanguskan warisan ini sebelum tender ditutup besok pagi.”
Arjuna berhenti dua meter di depannya. Tidak ada emosi di wajahnya, hanya ketenangan yang justru membuat Bramantyo mundur selangkah. “Kamu bukan pemain, Bramantyo. Kamu hanya pion yang dikirim untuk mengotori tangan, lalu dibuang saat tidak lagi berguna.”
“Kau tidak tahu siapa yang ada di belakangku!”
Arjuna mengeluarkan ponselnya, menunjukkan tangkapan layar data transaksi kartel yang menghubungkan Bramantyo dengan sosok misterius berkode ‘K’. “Aku tahu. Dan aku tahu kamu terlalu takut menyebut namanya karena dia akan menghapusmu lebih cepat daripada aku.”
Bramantyo terdiam. Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada ancaman fisik. Arjuna maju, gerakannya secepat kilat. Sebelum Bramantyo sempat menarik benda tajam dari sakunya, Arjuna sudah menekan pergelangan tangan pria itu ke dinding stainless. Botol bensin jatuh, pecah di lantai, namun Arjuna sudah memutus jalur api dengan sistem sprinkler yang ia aktifkan dari jarak jauh.
“Sudah selesai,” suara Maya terdengar dari ambang pintu. Ia memegang map berisi bukti manipulasi tender yang sudah disahkan notaris. “Asetmu sudah saya ambil alih. Kamu tidak punya apa-apa lagi untuk dibakar.”
Bramantyo menatap layar ponsel Arjuna, lalu ke arah Maya. Kesadaran bahwa ia telah dipreteli secara hukum membuat bahunya merosot. Saat petugas kepolisian yang dipanggil Darman masuk melalui pintu belakang, Bramantyo tidak lagi melawan. Ia hanya pion yang jatuh.
Setelah petugas membawa Bramantyo pergi, Darman menyerahkan sebuah map hitam yang terjatuh dari mobil Bramantyo. “Ini tertinggal.”
Arjuna menyerahkannya pada Maya. “Baca ini.”
Maya membuka map itu. Di dalamnya terdapat laporan intelijen mengenai jaringan properti kota dan satu nama yang membuat napasnya tertahan. Ia menatap Arjuna, bukan lagi dengan keraguan, melainkan dengan pemahaman baru yang mengguncang dunianya. Suaminya bukan sekadar menantu yang rajin mencuci piring; ia adalah arsitek dari setiap kehancuran yang menimpa musuh mereka.
Arjuna menatap Maya, tahu bahwa rahasia terbesarnya kini berada di ambang keterbukaan. Perang melawan kartel baru saja dimulai, dan kini, Maya memegang kunci untuk melihat siapa sebenarnya pria yang berdiri di sampingnya.