Konfrontasi di Puncak Menara
Lampu pemindai di ruang bawah tanah Gedung Arsip Kota menyapu wajah Arjuna, berhenti satu detik terlalu lama. Di sampingnya, Darman berdiri mematung, napasnya teratur, seolah otot-ototnya memang dilatih untuk tidak meninggalkan jejak. Di depan mereka, pintu besi bertanda A-17 membisu. Di lorong luar, langkah sepatu petugas keamanan yang disewa kartel bergema, ritmis dan mengancam. Waktu tersisa kurang dari dua puluh empat jam sebelum tender ditutup.
“Sistem ini punya celah di protokol verifikasi lama,” bisik Darman, suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi kalau kita salah langkah, alarm senyap akan langsung terhubung ke kantor pusat.”
Arjuna tidak menjawab. Ia mengeluarkan sarung tangan tipis, lalu menempelkan perangkat peretas kecil ke panel biometrik. Ia tidak menggunakan kekerasan; ia menggunakan otoritas administratif yang ia pelajari dari skema korupsi Bramantyo. Saat lampu panel berubah hijau, pintu besi itu berderit terbuka. Di dalamnya, tumpukan berkas tender asli—yang seharusnya sudah dimusnahkan—tersimpan rapi. Arjuna menarik satu map biru. Inilah buktinya: pemalsuan tanda tangan Maya dan sertifikat Kencana yang digadaikan secara ilegal. Bukti fisik ini bukan sekadar kertas; ini adalah senjata yang akan merobohkan kredibilitas tender Bramantyo di depan publik.
*
Di depan Restoran Kencana, suasana jauh dari kata tenang. Maya berdiri di tangga masuk, rambutnya diikat rapi, menatap puluhan pedagang lokal yang kini berkumpul dengan wajah penuh tekad. Mereka bukan lagi sekumpulan orang yang ketakutan; mereka adalah saksi yang siap bersuara. Saat Arjuna tiba, ia tidak membawa keributan, hanya langkah tenang yang membelah kerumunan. Ia menyerahkan map arsip kepada Maya di depan kamera ponsel warga yang merekam setiap detiknya.
“Ini bukan lagi soal utang,” ujar Arjuna, suaranya dingin dan dominan. “Ini soal siapa yang berhak atas tanah ini.”
Seorang preman kartel yang berdiri di dekat mobil hitam mencoba mendekat, namun Arjuna meliriknya sekali—sebuah tatapan yang membuat pria itu membeku di tempat. Maya segera mengambil alih, membacakan poin-poin manipulasi tender tersebut ke arah kerumunan. Dukungan publik terkunci. Kartel kehilangan ruang gerak di distrik tersebut, dan untuk pertama kalinya, mereka yang berada di atas angin mulai merasa terancam.
*
Dua jam kemudian, Arjuna berdiri di puncak menara, di kantor pusat Bramantyo. Ruangan itu luas, dingin, dan penuh dengan layar yang memantau aliran dana kota. Bramantyo berdiri membelakangi jendela, menatap kota dengan angkuh. “Menantu restoran itu datang juga,” ejeknya, meski tangannya sedikit bergetar. “Kamu kira dengan segelintir kertas, kamu bisa menghentikan saya?”
Arjuna meletakkan map arsip itu di atas meja marmer. “Saya tidak datang untuk bernegosiasi. Saya datang untuk memastikan kamu tahu bahwa setiap sen yang kamu alirkan melalui tender ini sudah terlacak.”
Bramantyo tertawa, mencoba menyuap Arjuna dengan angka fantastis. Arjuna menolak dengan tatapan yang mematikan. Ia membongkar detail koneksi Bramantyo dengan pihak yang lebih tinggi—sosok misterius yang dikenal sebagai 'K'. Bramantyo terhenyak. Wajahnya pucat saat menyadari bahwa Arjuna bukan sekadar orang rendahan; ia adalah ancaman yang telah memegang kendali atas aliran dana kartelnya.
*
Saat lift turun meninggalkan puncak menara, Arjuna merasakan getaran di ponselnya. Pesan dari Darman masuk: 'Aset mereka sudah kita kunci.' Namun, saat ia melangkah keluar menuju parkiran, seorang pria berambut cepak dengan setelan sipil mahal berdiri di sana. Letnan Kolonel (Purn) Wiryawan. Pria itu memegang foto Arjuna di ruang arsip, menatapnya dengan kecurigaan yang tajam.
“Kau main terlalu jauh untuk orang yang katanya cuma mengurus dapur, Arjuna,” ucap Wiryawan datar.
Arjuna berhenti, tidak sedikit pun terlihat gentar. Ia tahu Wiryawan mencium identitas militernya, namun ia tidak akan melarikan diri. Ia justru memancing mereka masuk ke dalam jebakan hukum yang telah ia susun. Saat Bramantyo panik mencoba membakar jejak terakhirnya, Arjuna sudah memindahkan aset dan menyiapkan penangkapan besar-besaran. Perang ini baru saja naik ke level yang tidak bisa lagi disembunyikan oleh siapa pun.