Dewa Perang yang Kembali
Sepuluh jam menuju penutupan tender properti kota, suasana di dapur Restoran Kencana tidak lagi berbau keputusasaan. Arjuna berdiri di depan meja kayu jati, memetakan alur dana kartel 'K' yang selama ini mencekik leher ekonomi kota. Di sampingnya, Maya tidak lagi menatap tumpukan tagihan dengan mata sembab. Ia memegang laporan intelijen yang mengungkap siapa sebenarnya sosok di balik inisial 'K'—sebuah nama yang membuat napasnya tertahan.
"Mereka mengira kita akan hancur setelah Bramantyo jatuh," ujar Maya, suaranya dingin dan terukur. Ia meletakkan dokumen sertifikat asli yang telah Arjuna amankan dari arsip pemerintah. "Mereka tidak tahu bahwa kita memegang kunci untuk meruntuhkan seluruh struktur tender ini."
Arjuna mengangguk. Ia tidak membuang waktu dengan kata-kata motivasi. Baginya, ini adalah operasi presisi. "Bawa bukti ini ke ruang lelang. Saat palu akan jatuh, tunjukkan sertifikat asli dan laporan transaksi ilegal mereka. Jangan beri mereka ruang untuk menyangkal."
*
Lobi Gedung Lelang Kota dipenuhi oleh para predator yang merasa sudah memenangkan segalanya. Saat Arjuna dan Maya melangkah masuk, kerumunan yang biasanya mencemooh kini terdiam. Wiryawan, yang berdiri di barisan depan, mencoba melontarkan ejekan, namun kata-katanya tertelan oleh aura dominasi yang Arjuna pancarkan. Arjuna tidak menoleh; ia berjalan lurus, setiap langkahnya adalah pernyataan bahwa hierarki kota telah berubah.
Di dalam ruang lelang, perwakilan kartel mencoba memanipulasi prosedur administratif. Namun, sebelum Hakim Lelang sempat mengetuk palu, Maya berdiri. Ia tidak berteriak. Ia hanya meletakkan dokumen bukti di atas meja podium dengan dentuman yang mematikan.
"Tender ini cacat secara hukum," tegas Maya. "Kami memiliki bukti manipulasi berkas dan sertifikat kepemilikan yang sah. Jika lelang ini diteruskan, setiap pihak yang terlibat akan terseret dalam investigasi kriminal."
Keheningan menyelimuti ruangan. Bukti itu tak terbantahkan. Ketukan palu lelang yang akhirnya mengesahkan kemenangan Maya bukan sekadar kemenangan bisnis; itu adalah pembalikan status yang absolut. Musuh-musuh yang dulu meremehkan mereka kini tertunduk, menyadari bahwa mereka baru saja berhadapan dengan kekuatan yang tidak bisa mereka lawan.
*
Malam itu, di Restoran Kencana, kemenangan terasa nyata. Namun, saat Arjuna duduk di meja kayu jati, sebuah amplop hitam polos tergeletak di sana. Tidak ada pengirim, hanya segel lilin merah dengan simbol yang sudah lama tidak ia lihat—simbol dari masa lalunya sebagai Dewa Perang.
Arjuna membuka amplop itu. Pesan terenkripsi di dalamnya bukan ancaman dari kartel lokal, melainkan peringatan dari entitas yang jauh lebih besar. Ia menyadari bahwa kartel 'K' hanyalah pion dalam permainan yang lebih luas.
"Arjuna?" Maya mendekat, merasakan perubahan aura suaminya. "Apa itu?"
Arjuna menatap cakrawala kota yang gemerlap. Ia tahu badai yang sebenarnya baru saja dimulai. Ia berdiri, bukan lagi sebagai menantu yang diremehkan, melainkan sebagai pelindung yang siap menghadapi perang sesungguhnya. Dunia luar belum menyadari bahwa Dewa Perang telah kembali, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh apa yang menjadi miliknya.