Novel

Chapter 11: Runtuhnya Menara Gading

Arjuna berhasil melumpuhkan aset digital Hendra Wiryawan dan mengungkap bukti korupsi Bramantya di depan publik. Bramantya dan Hendra ditangkap, sementara Citra resmi menguasai Sindikat Wiryawan. Arjuna menyadari bahwa kemenangan ini hanyalah awal dari ancaman faksi elit yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Runtuhnya Menara Gading

Layar monitor di ruang kendali bawah tanah memancarkan cahaya biru yang tajam, memantul di wajah Arjuna yang tenang. Tidak ada gema di ruangan ini selain dengungan kipas pendingin server yang bekerja di ambang batas. Di depannya, barisan kode enkripsi milik Hendra Wiryawan melompat-lompat, mencoba melakukan handshake terakhir dengan jaringan perbankan luar negeri untuk melarikan sisa aset sindikat. Hendra, taipan yang dulu memegang kendali atas urat nadi keuangan kota, kini hanya menjadi deretan angka yang sedang diburu.

Arjuna menekan tombol override. Jemarinya bergerak efisien, memasukkan kode akses militer yang memiliki otoritas mutlak atas protokol keamanan nasional. "Upaya enkripsi ulang terdeteksi," suara sintetis sistem bergema pelan. "Memerlukan otorisasi level tertinggi." Arjuna memasukkan kunci enkripsi yang ia ambil dari jejak digital Bramantya—kunci yang telah ia modifikasi untuk mengunci balik sang pemilik. Layar berubah menjadi merah pekat. Akses ditolak. Di layar utama, saldo rekening pribadi Hendra Wiryawan terjun bebas, ditarik paksa oleh sistem yang Arjuna tanamkan. Zero. Zero. Zero. Menara gading finansial keluarga Wiryawan resmi runtuh.

Di Aula Utama Sindikat Wiryawan, suasana mencekam. Aroma kopi mahal dan keringat dingin memenuhi ruangan. Citra berdiri di depan mimbar dengan punggung tegak, sementara para pemegang saham yang biasanya angkuh kini terdiam, menatap layar lebar yang menampilkan data transaksi gelap. Bramantya, yang baru saja dilepaskan dari pengawasan ketat, menerobos kerumunan dengan wajah merah padam. Ia menunjuk Citra dengan tangan gemetar.

"Ini kudeta ilegal! Dokumen itu palsu!" teriak Bramantya.

Citra tidak bergeming. Ia mengetuk mikrofon, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan. "Bramantya, suaramu terdengar sangat putus asa untuk seseorang yang baru saja kehilangan segalanya." Citra menekan tombol di tabletnya. Seketika, rekaman suara Bramantya mengakui secara detail bagaimana ia memanipulasi tender rumah sakit dan menyuap pejabat kota bergema di seluruh aula. Setiap kata adalah paku bagi peti mati reputasi Bramantya. Kamera media berkedip liar, mengabadikan wajah pucat pria itu saat aparat kepolisian masuk, memborgol tangannya, dan menyeretnya keluar.

Arjuna menyaksikan dari bayang-bayang pilar lobi. Ia tidak butuh pengakuan. Baginya, melihat Hendra Wiryawan digiring keluar dengan tangan terborgol adalah notifikasi bahwa papan catur telah dibersihkan. Citra kini memegang kendali penuh atas Sindikat Wiryawan. Saat Hendra menoleh ke arah kerumunan, matanya menyapu lobi mencari dalang di balik kehancurannya. Arjuna tetap tenang, membiarkan tatapan itu melewatinya begitu saja.

Ponsel di saku Arjuna bergetar. Sebuah pesan singkat muncul dari nomor yang tidak dikenal: "Pembersihan yang rapi, Arjuna. Tapi jangan terlalu nyaman. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai." Arjuna menghapus pesan itu tanpa ekspresi.

Sore harinya, di balkon kantor direksi, Citra berdiri menatap cakrawala kota yang kini terasa tenang. Arjuna mendekat, menyodorkan secangkir kopi panas. Citra menoleh, matanya menyelidik. "Siapa kau sebenarnya, Arjuna? Pria yang kukenal tidak mungkin memiliki akses militer untuk membekukan aset sindikat dalam semalam."

Arjuna menyesap kopinya, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan. "Aku hanya pria yang menepati janji. Keamananmu adalah satu-satunya misi yang kupedulikan."

Citra terdiam, menyadari bahwa suaminya adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa ia bayangkan. Arjuna menatap cakrawala, bersiap menghadapi badai yang lebih besar yang kini mulai mengintai dari balik bayang-bayang kota.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced