Novel

Chapter 10: Badai Terakhir

Arjuna berhasil mematahkan serangan siber Hendra Wiryawan yang mencoba melumpuhkan infrastruktur kota untuk menutupi jejak korupsinya. Dengan mengungkap bukti kejahatan perang dan korupsi Hendra di depan publik, Arjuna menghancurkan reputasi dan kekuasaan Hendra secara permanen, sekaligus menyerahkan kendali penuh Sindikat Wiryawan kepada Citra.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Badai Terakhir

Layar monitor di ruang kendali pusat Sindikat Wiryawan berkedip merah, memuntahkan deretan kode enkripsi yang bergerak liar seperti cacing dalam tanah. Arjuna berdiri tegak, tangannya bergerak lincah di atas keyboard mekanik. Di sampingnya, Citra menatap layar dengan napas tertahan, jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. Ini bukan lagi sekadar perebutan tender; ini adalah serangan siber sistemik yang melumpuhkan lampu lalu lintas, jaringan listrik rumah sakit, dan sistem perbankan kota.

"Mereka tidak hanya ingin menghancurkan kita secara finansial, Citra," ujar Arjuna dingin, suaranya tetap tenang meski di luar sana kota mulai menjerit dalam kepanikan. "Hendra Wiryawan sedang melakukan langkah putus asa. Dia membakar jembatan agar tidak ada yang bisa melewati jalan yang telah dia rampas."

Citra menatap suaminya, sosok yang selama ini ia anggap sebagai pecundang kota, kini sedang menaklukkan algoritma pertahanan paling canggih dengan kecepatan yang tidak masuk akal. "Apa yang mereka inginkan? Jika mereka melumpuhkan rumah sakit, pasien-pasien di sana..."

"Mereka ingin memicu anarki agar perhatian publik teralihkan dari bukti korupsi yang sudah kita kirim ke otoritas pusat," potong Arjuna. Ia menekan tombol enter dengan satu sentakan tegas. Sebuah pintu akses rahasia terbuka di layar—jalur pintas militer yang seharusnya tidak dimiliki oleh warga sipil mana pun. Arjuna berhasil mengisolasi serangan tersebut, namun ia menyadari bahwa ini hanyalah pengalihan. Hendra Wiryawan sedang menyiapkan langkah terakhirnya di balik bayang-bayang.

Lampu indikator di ruang kendali kembali berkedip dengan ritme yang memekakkan telinga. Di layar utama, peta digital kota berubah menjadi mosaik ancaman; sistem distribusi air di kawasan bisnis utama mulai mati satu demi satu. Arjuna tidak membuang waktu. Ia melacak jejak digital serangan tersebut hingga ke server tersembunyi milik Hendra Wiryawan. Pria itu mencoba menghapus jejak kejahatan perang sepuluh tahun lalu yang tersimpan di server bayangan ini. Jika mereka berhasil, mereka akan melumpuhkan seluruh infrastruktur kota agar kekacauan menutupi jejak mereka.

"Arjuna, sistem cadangan tidak merespons!" seru Citra, kepanikan mulai mewarnai suaranya.

Arjuna tidak menoleh. Ia memasukkan enkripsi terakhir yang ia ambil dari brankas pribadi Hendra. "Mereka sedang mencoba membakar masa lalu mereka. Tapi aku sudah memastikan api itu akan membakar mereka sendiri." Ia menekan tombol enter. Layar yang semula merah padam kini berubah menjadi deretan dokumen digital yang terurai secara otomatis. Itu adalah catatan transaksi ilegal dan daftar nama petinggi militer yang disuap Hendra untuk menutupi tragedi masa lalu. Secara otomatis, sistem perusahaan induk membekukan seluruh aset pribadi Hendra, mengunci pria itu di ruang rapatnya sendiri.

Di lobi utama Sindikat Wiryawan, lampu gantung kristal bergetar hebat. Arjuna melangkah keluar, diikuti Citra yang kini berdiri dengan otoritas baru. Di depan para investor dan media yang berkumpul untuk konferensi pers darurat, Arjuna muncul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai dalang yang mengembalikan ketertiban.

Hendra Wiryawan, yang baru saja berhasil keluar dari ruang rapatnya dengan pengawalan ketat, mencoba melakukan pembelaan terakhir. "Kau pikir kau siapa, Arjuna? Kau hanyalah pecundang yang beruntung! Bukti-bukti itu palsu!"

Arjuna tidak membalas dengan teriakan. Ia hanya melangkah maju, membiarkan sepatu pantofelnya beradu dengan lantai marmer, menciptakan suara dentuman ritmis yang mematikan. Ia mengeluarkan tablet dari saku jasnya dan menyentuh satu tombol. Seketika, rekaman audio percakapan Hendra dengan kontraktor fiktif dan data aliran dana ke rekening luar negeri muncul di layar raksasa lobi.

"Hendra," suara Arjuna rendah namun tajam, memotong kebisingan ruangan. "Menara gadingmu tidak runtuh karena konspirasi. Ia runtuh karena fondasinya terbuat dari darah dan kebohongan."

Saat pihak berwenang menyerbu masuk untuk membawa Hendra, Arjuna menatap Citra. Ia menyerahkan kendali penuh kepada istrinya. Menara gading sindikat telah runtuh, namun di balik layar, Arjuna tahu bahwa ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Sistem infrastruktur kota mulai pulih, namun sebuah pesan anonim muncul di ponselnya: Permainan baru saja dimulai, Komandan.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced