Harga Sebuah Kehormatan
Ruang rapat utama Sindikat Wiryawan tidak lagi berbau arogansi, melainkan aroma ketakutan yang dingin. Arjuna berdiri di depan meja mahoni panjang, tatapannya setajam belati. Di seberangnya, Hendra Wiryawan, pria yang selama ini memegang urat nadi ekonomi kota, menatap nanar ke layar raksasa yang menampilkan bukti pengkhianatannya.
"Ini bukan negosiasi, Hendra," suara Arjuna rendah, namun setiap suku katanya menghantam kesadaran para direksi. "Ini adalah audit kematian atas warisan yang kalian bangun di atas fondasi busuk. Hari ini, Sindikat Wiryawan bukan lagi milik kalian."
Arjuna mengetuk tabletnya. Seluruh aset, kontrak tender yang dimanipulasi, hingga rekam jejak aliran dana ilegal Hendra terpampang nyata. Seorang direktur senior mencoba berdiri, wajahnya merah padam. "Kau tidak punya hak! Kau hanya pecundang yang—"
Arjuna memutar rekaman suara Hendra yang memerintahkan sabotase tender rumah sakit. Ruangan itu seketika hening. Rekaman itu adalah vonis mati bagi reputasi Hendra. Tanpa membuang waktu, Arjuna menunjuk Citra yang berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh wibawa. "Mulai hari ini, Citra Wiryawan adalah Direktur Utama yang baru. Siapa pun yang menentang, silakan keluar sebelum aparat menjemput kalian di pintu depan."
Keheningan pecah oleh suara kursi yang ditarik. Para direksi yang tadinya angkuh kini menunduk, menyadari papan catur telah berubah total. Mereka tidak lagi melihat Arjuna sebagai suami yang tidak berguna, melainkan sebagai penguasa bayangan yang merobohkan singgasana mereka.
Beberapa jam kemudian, di lobi perusahaan yang dipenuhi awak media, Bramantya mencoba menyelinap. Wajahnya pucat, dasinya longgar. Arjuna sudah menunggunya. Dengan satu gerakan, Arjuna menampilkan profil kriminal Bramantya di layar lobi. Bukti suap tender rumah sakit terpampang nyata. Bramantya tersungkur saat aparat memborgol tangannya. Kehormatan yang ia agungkan hancur dalam hitungan detik.
Di ruang kerja Direktur Utama, Citra menatap Arjuna, matanya menyimpan ribuan pertanyaan. "Siapa kau sebenarnya? Pria yang kukenal tiga tahun ini tidak mungkin memiliki akses ke satelit dan kemampuan membekukan aset sebesar ini dalam satu malam."
Arjuna mendekat, menatap istrinya dengan ketenangan yang menakutkan. "Dunia ini bekerja berdasarkan siapa yang memegang kendali atas informasi dan modal. Selama ini, mereka memegang keduanya untuk menghancurkan kita. Sekarang, giliran kita."
Citra menghela napas panjang, ketakutan di matanya perlahan berubah menjadi tekad. Ia menyadari suaminya adalah pelindung yang kini memegang kunci masa depan kota. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat Arjuna kembali ke pusat data, layar monitornya berdenyut merah. Peta infrastruktur kota yang tadinya stabil tiba-tiba menunjukkan anomali sistemik yang berbahaya. Jaringan listrik, distribusi air, hingga server manajemen lalu lintas kota mulai lumpuh secara misterius. Ini bukan lagi ulah Hendra atau Bramantya. Ini adalah serangan dari faksi yang jauh lebih besar, faksi yang telah lama mengamati kejatuhan sindikat dari balik bayang-bayang. Arjuna menatap barisan kode yang bergerak liar, menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.