Dewa Perang di Ruang Rapat
Pintu mahoni ruang rapat utama terbuka tanpa suara, namun dentumannya di telinga para direksi Sindikat Wiryawan terasa seperti vonis mati. Arjuna melangkah masuk. Ia tidak terburu-buru, tidak pula ragu. Langkahnya tenang, membelah atmosfer ruangan yang kental dengan aroma cerutu mahal dan kepanikan yang tertahan.
Di sekeliling meja oval, dua belas direksi yang kemarin masih menertawakan kebangkrutan Arjuna kini membeku. Mereka adalah orang-orang yang menganggap Arjuna sebagai debu di bawah sepatu mereka. Sekarang, debu itu telah menjadi badai.
"Siapa yang mengizinkan pecundang ini masuk?" Gunawan, tangan kanan Hendra Wiryawan, berdiri dengan tangan gemetar yang ia sembunyikan di balik jas mahalnya. "Ini rapat internal perusahaan induk. Keamanan! Keluarkan dia sekarang juga!"
Arjuna tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju kursi utama—takhta yang selama ini menjadi simbol absolut kekuasaan Hendra Wiryawan di kota ini. Di layar monitor raksasa, wajah Hendra muncul via panggilan video terenkripsi. Wajah itu sedingin pisau bedah.
"Arjuna," suara Hendra menggema di ruangan, berat dan penuh ancaman. "Kau sudah melewati batas. Kau pikir dengan menghancurkan Bramantya kau bisa menyentuhku? Kau hanyalah pion yang lupa posisinya."
Arjuna berhenti tepat di belakang kursi utama. Ia meletakkan sebuah drive enkripsi perak di atas meja kaca. Bunyi dentingan logam itu terdengar nyaring, mematikan protes para direksi. "Aku tidak di sini untuk meminta izin, Hendra. Aku di sini untuk mengambil alih."
Arjuna menekan tombol pada tabletnya. Seketika, layar raksasa menampilkan alur transaksi ilegal yang menghubungkan dana operasional perusahaan dengan jaringan pencucian uang milik Hendra. Data itu bukan sekadar angka; itu adalah bukti otentik yang mencatat setiap suap, setiap tender yang dimanipulasi, dan setiap nyawa yang dikorbankan demi profit.
"Kalian punya dua pilihan," suara Arjuna datar, namun memiliki bobot yang menekan dada setiap orang di ruangan itu. "Mengakui keterlibatan dalam konspirasi ini, atau menunggu unit kepolisian khusus menyita aset pribadi kalian dalam satu jam ke depan. Saya sudah mengirimkan salinan data ini ke otoritas pusat dan media nasional. Timer sudah berjalan."
Di ambang pintu, Citra berdiri mematung. Matanya membelalak melihat pemandangan yang tak masuk akal: puluhan pria yang biasanya ia hormati di berita bisnis kini menunduk dalam-dalam, gemetar ketakutan di hadapan suaminya. Ketidakpercayaan di mata Citra perlahan luruh, digantikan oleh kekaguman yang bercampur dengan ngeri. Ia menyadari bahwa pria yang ia nikahi bukanlah pecundang yang ia kenal selama ini; ia adalah kekuatan yang selama ini menahan diri.
"Keamanan tidak akan datang," ujar Arjuna dingin, menatap lurus ke arah kamera. "Sistem keamanan gedung ini sekarang berada di bawah otoritas saya. Siapa pun yang mencoba keluar sebelum saya selesai bicara, akan menghadapi konsekuensi hukum yang tidak bisa kalian beli dengan uang."
Satu per satu, para direksi mulai menunduk. Mereka tidak lagi melihat Arjuna sebagai pria gagal, melainkan sebagai algojo yang memegang nasib mereka. Hendra Wiryawan di layar monitor tampak pucat, menyadari bahwa drive perak itu adalah bukti yang tak terbantahkan.
Arjuna menarik kursi utama, duduk dengan tenang, dan menatap seluruh ruangan yang kini sepenuhnya tunduk di bawah kendalinya. Ia telah menguasai mayoritas saham melalui akuisisi diam-diam. Dengan satu gerakan, ia telah menulis ulang hierarki kekuasaan kota ini.
Arjuna menoleh ke arah Citra, memberikan isyarat tenang. "Citra, kemarilah. Ada posisi yang harus kau isi."