Novel

Chapter 7: Membongkar Sarang Labah-Labah

Arjuna berhasil mengamankan bukti digital yang mengungkap keterlibatan Hendra Wiryawan, pemimpin sindikat nasional, dalam konspirasi tender. Di tengah proses ini, Citra mulai menyadari identitas asli Arjuna. Arjuna kemudian melakukan langkah berani dengan mengambil alih kursi utama di ruang rapat direksi perusahaan induk, menantang langsung sisa-sisa sindikat yang mencoba menghentikannya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Membongkar Sarang Labah-Labah

Bau antiseptik di kantor pribadi Bramantya kini bercampur dengan aroma apek dokumen yang dibakar terburu-buru. Arjuna berdiri di tengah ruangan, tatapannya dingin, memindai kekacauan yang ditinggalkan sang taipan. Bramantya telah melarikan diri, menyisakan tumpukan berkas tender yang berantakan di atas meja mahoni. Arjuna tidak membuang waktu. Ia menarik kursi kerja Bramantya, duduk dengan punggung tegak, dan menyambungkan perangkat enkripsinya ke server lokal.

Layar ponselnya menampilkan barisan kode militer yang mengalir deras, membalikkan skrip penghapus data yang dipasang kaki tangan Bramantya. Jemari Arjuna bergerak presisi, membedah direktori tersembunyi yang terkunci rapat. Saat firewall terakhir runtuh, sebuah nama muncul di layar: Hendra Wiryawan. Jantung Arjuna berdegup tenang, meski ia tahu nama itu adalah kunci dari sindikat nasional yang selama ini menarik tali kekuasaan di kota ini. Ini bukan lagi soal tender rumah sakit, melainkan perang terbuka.

Arjuna melangkah keluar menuju kafe di pinggiran distrik bisnis. Di sudut remang, seorang informan gemetar menyerahkan tablet berisi aliran dana sindikat. "Jika kau menarik benang ini, Arjuna, seluruh fondasi kota akan runtuh," bisik informan itu. Arjuna hanya mengangguk, menyimpan data tersebut ke dalam drive perak. Saat ia berbalik, ia membeku. Citra berdiri di ambang pintu kafe, matanya membelalak, menatap Arjuna dengan campuran antara ketakutan dan pencerahan yang menyakitkan. Ia telah melihat Arjuna menerima dokumen tersebut—bukan sebagai pria yang gagal, melainkan sebagai seseorang yang memiliki otoritas mutlak.

Arjuna menghampiri Citra, wajahnya tetap datar namun matanya menatap tajam. "Jangan mendekat ke tempat seperti ini lagi, Citra," ucapnya dingin. Citra meraih lengan Arjuna, merasakan getaran kekuatan yang tersembunyi di balik ketenangan suaminya. "Siapa kau sebenarnya? Bramantya hancur karena tanganmu, dan sekarang... orang-orang ini mencarimu." Arjuna tidak menjawab, namun ponselnya bergetar—sebuah peringatan anonim bahwa faksi elit telah melacak keberadaannya. Ia mengabaikannya. Ada satu langkah terakhir yang harus ia selesaikan.

Satu jam kemudian, pintu kaca tempered di lantai 42 Menara Korporasi terbuka tanpa suara. Arjuna melangkah masuk ke ruang rapat utama. Tujuh direktur utama yang biasanya memegang kendali atas aliran dana medis kota kini tampak seperti kerumunan tikus yang terpojok. "Arjuna? Apa yang kau lakukan di sini? Keamanan!" teriak Direktur Utama. Tidak ada yang datang. Hanya keheningan yang menyesakkan. Arjuna berjalan dengan ritme yang tenang, menarik kursi utama—kursi yang seharusnya hanya diduduki oleh sang pemimpin sindikat—dan duduk di sana dengan punggung tegak. Ia meletakkan drive enkripsi perak di atas meja. "Bramantya hanyalah pion yang gagal," suara Arjuna memecah kesunyian, dingin dan absolut. "Dan sekarang, saya di sini untuk memastikan kalian tidak akan menyusulnya ke sel tahanan atau ke dasar laut." Para direktur terdiam kaku. Di luar gedung, bayang-bayang faksi sindikat mulai bergerak menutup akses keluar, namun Arjuna hanya menatap lurus ke depan, siap untuk meruntuhkan hierarki yang telah lama menindas kota ini.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced