Novel

Chapter 6: Topeng yang Terlepas

Arjuna melumpuhkan ancaman Bramantya di ruang VIP rumah sakit dengan menunjukkan dominasi strategis dan membongkar pengkhianatan sindikat di balik Bramantya. Bramantya hancur secara mental dan melarikan diri, sementara Arjuna mendapatkan identitas pemimpin sindikat nasional yang sesungguhnya.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Topeng yang Terlepas

Aroma antiseptik di lantai VIP Rumah Sakit Medika Utama biasanya menenangkan, namun malam ini, udara terasa berat oleh kepanikan. Bramantya tidak lagi berjalan dengan langkah angkuh seorang pengusaha; ia menyeret kakinya, napasnya memburu, dan matanya liar mencari jalan keluar yang sudah tertutup rapat.

Di tangannya, sebuah pistol hitam legam teracung gemetar ke arah Citra yang terbaring lemah. "Mundur, Arjuna!" teriaknya, suaranya pecah. "Aku sudah kehilangan segalanya karena kau! Jika aku harus jatuh, aku akan menyeret istrimu ke neraka bersamaku!"

Arjuna berdiri sepuluh langkah di depannya. Tidak ada ketegangan di bahunya, tidak ada kilatan amarah di matanya. Ia justru terlihat seperti seorang pengamat yang sedang menilai kerusakan pada barang dagangan yang tidak berharga. Ia tidak mengangkat tangan, tidak pula memohon. Ia hanya melangkah maju, satu langkah demi satu langkah, dengan ritme yang menghancurkan mental Bramantya.

"Kau pikir kau memegang kendali?" suara Arjuna rendah, dingin, dan mutlak. "Lihat sekelilingmu, Bram. Kau tidak sedang menodongkan senjata ke arah mangsa. Kau sedang berdiri di tengah jebakan yang kau bangun sendiri."

Arjuna meletakkan ponselnya di atas meja nakas. Layar itu menampilkan live feed dari sistem keamanan rumah sakit. Dua belas layar kecil memperlihatkan koridor yang kosong, pintu masuk yang terkunci secara otomatis, dan para pengawal elit Bramantya yang telah dilumpuhkan tanpa suara di titik-titik strategis. Tidak ada baku tembak. Tidak ada teriakan. Hanya keheningan yang mencekam.

Bramantya limbung. Pistol di tangannya turun saat ia menyadari bahwa ia bukan lagi predator. Arjuna bergerak secepat kilat, merebut senjata itu dan membongkarnya menjadi bagian-bagian kecil di depan mata Bramantya hanya dalam hitungan detik. Bramantya jatuh terduduk, napasnya tersengal.

"Kau hanyalah pion, Bram," ucap Arjuna, suaranya kini setajam silet. "Sindikat yang kau layani bahkan tidak sudi menyebut namamu jika kau gagal. Dan kau baru saja gagal total."

Arjuna melemparkan sebuah tablet ke pangkuan pria itu. Layar menampilkan jejak digital aliran dana gelap yang menghubungkan Bramantya langsung dengan sindikat nasional. Itu bukan sekadar bukti korupsi; itu adalah surat eksekusi bagi reputasi dan nyawa Bramantya. Wajah pria itu memucat, menyadari bahwa ia telah dikhianati oleh pihak yang selama ini ia agungkan.

"Pergilah," perintah Arjuna, membalikkan punggungnya. "Berlari sekuat yang kau bisa. Bukan aku yang harus kau takuti sekarang, tapi mereka yang kau layani. Mereka tidak suka kegagalan."

Bramantya merangkak pergi, meninggalkan jejak ketakutan di lantai marmer. Arjuna memungut dokumen terenkripsi yang tertinggal. Di sana, tertulis satu nama: Pemimpin Sindikat Nasional. Arjuna menatap layar itu dengan tatapan yang tidak pernah dilihat Citra sebelumnya—tatapan seorang komandan yang siap memulai perang yang jauh lebih besar. Citra menatap suaminya dari ranjang, menyadari bahwa pria yang ia nikahi bukanlah pria yang ia kenal selama ini.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced