Novel

Chapter 5: Perang Aset dan Kepercayaan

Arjuna mengamankan lantai VIP rumah sakit dan membongkar kebangkrutan finansial Bramantya di depan direksi. Dengan memaparkan bukti audit, ia memaksa Bramantya menandatangani pengambilalihan aset, sementara Citra mulai menyadari perubahan drastis dalam status sosial mereka.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Perang Aset dan Kepercayaan

Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, membawa serta kepanikan yang menggantung berat di koridor VIP Rumah Sakit Medika Utama. Lantai marmer yang biasanya sunyi kini dipenuhi langkah terburu-buru para investor dan staf medis yang kehilangan arah. Bramantya, yang seharusnya menjadi penguasa di sini, tampak seperti bayangan dirinya sendiri—pucat, terpojok, dan dikelilingi oleh ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Arjuna melangkah tenang, sepatu kulitnya beradu dengan lantai, menciptakan irama yang kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Ia tidak memakai jas mahal, namun aura dingin yang terpancar dari punggungnya membuat orang-orang secara naluriah menepi. Ia tidak datang untuk berdebat; ia datang untuk menutup buku.

"Anda tidak diizinkan masuk ke area steril, Pak Arjuna. Ini perintah langsung dari manajemen," ujar seorang kepala staf medis dengan nada yang berusaha tegas, meski keringat dingin membasahi pelipisnya. Dua satpam berbadan besar melangkah maju, mencoba memblokir jalan Arjuna menuju kamar Citra. Arjuna berhenti tepat di depan mereka. Ia tidak menatap satpam itu, melainkan menatap layar tablet milik staf medis yang menyala, menampilkan notifikasi pembatalan akses aset yang masuk beruntun. Tanpa sepatah kata pun, Arjuna mengeluarkan ponselnya dan menekan satu tombol. Dalam hitungan detik, seluruh sistem keamanan lantai VIP berbunyi nyaring. Layar di koridor berkedip, menampilkan kode enkripsi militer yang mustahil ditembus oleh firewall rumah sakit biasa. Staf medis itu terbelalak, napasnya tercekat saat melihat otoritas aksesnya ditarik paksa. Arjuna melangkah melewati mereka tanpa menoleh, menguasai perimeter dengan ketenangan yang dingin.

Di ruang rapat direksi, suasana jauh lebih mencekam. Bramantya berdiri di ujung meja kayu mahoni, tangannya gemetar saat ia berusaha merapikan dokumen tender yang kini hanyalah tumpukan kertas tak berharga. Di hadapannya, para pemegang saham menatapnya dengan tatapan yang tidak lagi berisi rasa hormat, melainkan jijik. "Saya bisa memperbaiki ini," suara Bramantya serak, berusaha mempertahankan otoritas yang telah runtuh sejak bukti korupsi tender tersebar di sistem lelang kota. "Berikan saya waktu dua puluh empat jam untuk mengalihkan aset ke perusahaan cangkang lain."

Arjuna masuk ke ruangan tanpa mengetuk. Ia meletakkan sebuah map kulit hitam di tengah meja, tepat di depan ketua direksi. "Waktu Anda sudah habis, Bramantya," ujar Arjuna dingin. Suaranya tidak keras, namun cukup tajam untuk menghentikan napas semua orang. Bramantya tertawa sumbang, meski matanya menunjukkan kepanikan yang nyata. "Kau? Pecundang yang bahkan tidak mampu membayar biaya rawat inap istrinya sendiri? Apa yang kau bawa? Sampah?" Arjuna tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya membuka map tersebut, memaparkan data audit yang menunjukkan kebangkrutan tersembunyi Bramantya dan bukti bahwa modal yang digunakan untuk tender ini adalah dana ilegal yang sudah dibekukan. Direksi terdiam. Dalam hitungan menit, keputusan diambil: kontrak Bramantya dibatalkan, dan ia diusir dari ruang rapat dengan kehormatan yang telah hancur.

Kembali ke kamar rawat Citra, suasana berubah drastis. Staf yang sebelumnya memandang Citra dengan tatapan sinis kini menundukkan kepala sedalam mungkin. Citra duduk di tepi tempat tidur, jemarinya meremas selimut sutra yang baru saja diganti. Ia menatap Arjuna dengan kekaguman yang bercampur rasa bingung. "Arjuna... apa yang sebenarnya terjadi? Mereka memperlakukanku seperti pemilik rumah sakit ini," bisiknya. Arjuna mendekat, tatapannya melembut namun tetap waspada. "Keamananmu adalah prioritas, Citra. Tidak ada lagi yang berani menyentuhmu. Segalanya sudah berubah."

Di lobi utama yang sepi, Arjuna menemui Bramantya untuk terakhir kalinya. Bramantya berdiri dengan bahu merosot, jas mahalnya kusut. Arjuna menyodorkan dokumen pengambilalihan aset yang tersisa. Bramantya mencoba melawan, namun dua pria berjas hitam muncul di sudut lobi, memastikan tidak ada ruang untuk negosiasi. Arjuna membisikkan sesuatu—sebuah rahasia fatal mengenai faksi yang kini memburu Bramantya—yang membuat pria itu gemetar hebat. Dengan tangan gemetar, Bramantya menandatangani dokumen tersebut. Arjuna memegang lembaran itu, menatap Bramantya yang kini kehilangan segalanya. Saat ia berbalik, tatapannya bertemu dengan sosok bayangan di kejauhan yang mengawasinya, namun Arjuna hanya menatap lurus, menunjukkan identitas aslinya tanpa sepatah kata pun.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced