Pulang ke Kedamaian
Kantor pusat Sindikat Wiryawan tidak lagi berbau kepanikan. Aroma kayu cendana yang tenang menggantikan bau antiseptik rumah sakit yang selama ini menghantui. Arjuna berdiri di depan dinding kaca setinggi langit-langit, menatap metropolis yang mulai kembali berdenyut normal. Di bawah sana, lampu-lampu kota tampak seperti sirkuit yang baru saja ia perbaiki.
Citra duduk di kursi direktur utama. Ia tampak asing, namun pas, di balik meja eksekutif yang luas. Keanggunannya kini memiliki ketajaman baru—sebuah otoritas yang lahir dari badai. Ia menatap Arjuna, bukan lagi dengan tatapan lelah seorang istri yang menanggung beban utang, melainkan dengan rasa ingin tahu yang dalam.
"Hendra dan Bramantya sudah dipindahkan ke rutan pusat pagi ini," suara Citra memecah keheningan. "Aset mereka disita, dan investor mulai kembali percaya pada sindikat. Tapi, Arjuna... bagaimana kau bisa membalikkan keadaan dalam semalam? Bagaimana kau tahu setiap celah keamanan yang bahkan tidak diketahui oleh tim IT kami?"
Arjuna tidak berbalik. Ia meletakkan kunci enkripsi fisik di atas meja kayu solid. Bunyi denting logam itu terdengar final, sebuah penutup bagi babak panjang yang melelahkan. "Setiap sistem memiliki titik lemah jika kau tahu di mana harus menekan. Aku hanya memastikan kau memiliki kendali penuh sekarang. Tanpa bayang-bayang mereka, tanpa ancaman."
Citra menyentuh kunci itu, lalu menatap suaminya. "Siapa kau sebenarnya, Arjuna?"
Arjuna tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat. "Aku hanya pria yang ingin memastikan istrinya tidak lagi perlu merasa takut di koridor rumah sakit."
Ia melangkah keluar, meninggalkan kantor yang kini menjadi benteng bagi masa depan Citra. Di fasilitas penahanan, ia menemui Bramantya dan Hendra untuk terakhir kalinya. Keduanya tampak hancur, sisa-sisa kesombongan mereka telah luruh bersama aset yang dibekukan. Arjuna tidak perlu berteriak atau mengancam; tatapannya saja sudah cukup membuat mereka sadar bahwa mereka hanyalah pion yang telah dibuang oleh faksi elit yang lebih besar.
"Kalian hanyalah debu dalam permainan yang lebih besar," ucap Arjuna dingin. "Dan sekarang, kalian bahkan tidak akan diingat sebagai pemain."
Arjuna meninggalkan tempat itu, menuju pusat data terbengkalai di pinggiran kota. Sebuah sinyal asing mencoba memindai infrastruktur kota, namun Arjuna dengan satu gerakan algoritma kontra-pelacakan, mengunci akses mereka selamanya. Ia memberikan ilusi bahwa kota ini telah terhapus dari peta jaringan faksi elit tersebut. Mereka kini terkunci di luar, buta dan tidak berdaya.
Saat fajar menyingsing, Arjuna berjalan menjauh dari pusat kota. Perangkat komunikasi satelit militer di sakunya bergetar—panggilan dari markas komando yang menuntut laporan. Tanpa ragu, ia meremukkan perangkat itu hingga sirkuitnya meledak. Ia bukan lagi milik mereka. Ia bukan lagi 'Dewa Perang'.
Di balik pilar beton, sekelompok tentara bayaran mencoba mencegatnya. Arjuna hanya menghela napas. Dalam satu gerakan presisi yang tak terlihat oleh mata awam, ia melumpuhkan mereka tanpa memicu keributan. Ia menghilang ke dalam keramaian kota, meninggalkan warisan ketertiban yang baru. Untuk pertama kalinya, ia hanyalah seorang pria yang pulang ke rumah, menuju kehidupan yang ia bangun dengan tangannya sendiri.