Tender yang Dicurangi
Aroma antiseptik di koridor Rumah Sakit Medika Utama bukan sekadar bau kimia; itu adalah aroma keputusasaan yang dikomersialkan. Arjuna berdiri di depan pintu ruang arsip digital, napasnya teratur, matanya menatap tajam ke arah panel akses biometrik. Di balik pintu baja itu, Bramantya menyimpan kunci untuk menghancurkan hidup Citra—dan sekaligus, kunci untuk kehancuran Bramantya sendiri.
Arjuna tidak menggunakan kekerasan. Ia mengeluarkan perangkat dekripsi seukuran kartu kredit, sebuah peninggalan dari masa lalunya yang tak tercatat di dokumen sipil mana pun. Dalam hitungan detik, lampu indikator panel berubah dari merah menjadi hijau. Pintu berdesis terbuka.
Di dalam, deru kipas server menciptakan harmoni dingin. Arjuna duduk di kursi operator, jemarinya menari di atas keyboard. Ia tidak mencari uang; ia mencari jejak digital. Bramantya terlalu sombong untuk menyembunyikan jejaknya dengan benar. Dalam waktu kurang dari tiga menit, Arjuna menembus lapisan enkripsi yang dianggap sebagai standar emas keamanan korporat. Layar monitor menampilkan direktori tersembunyi: Proyek Ekspansi Medika - Dokumen Tender Final.
Arjuna menahan napas saat file itu terbuka. Di sana, tertulis jelas: manipulasi harga, suap kepada dewan direksi, dan skema pengambilalihan aset rumah sakit yang akan membuat Citra kehilangan akses perawatan dalam 24 jam. Ini adalah bukti korupsi yang cukup untuk menyeret Bramantya ke penjara, atau lebih baik lagi, menghancurkannya di depan para investor saat tender ditutup besok pagi.
Suara derap sepatu bot keamanan menggema di koridor. Arjuna tidak panik. Ia menyalin data tersebut ke dalam drive terenkripsi, lalu dengan satu perintah cepat, ia menanamkan backdoor yang akan mengarahkan semua jejak akses ilegal ini ke akun milik kepala staf IT—orang kepercayaan Bramantya yang paling angkuh. Arjuna melangkah keluar lewat pintu pemeliharaan tepat saat petugas keamanan mendobrak masuk ke ruang server.
Sepuluh menit kemudian, Arjuna sudah berada di kamar rawat Citra. Bramantya berdiri di sana, menatap istrinya dengan tatapan merendahkan, seolah Citra hanyalah pion yang sudah tidak berguna.
"Arjuna, kau datang tepat waktu untuk melihat akhir dari 'investasi' gagalmu ini," ucap Bramantya tanpa menoleh. Ia melirik jam tangan mahalnya. "Rumah sakit ini akan melakukan renovasi besar. Kamar kelas tiga seperti ini tidak lagi tersedia mulai besok. Jika kau tidak mampu membayar biaya operasi tambahan hari ini, Citra harus keluar."
Citra meremas sprei, wajahnya pucat pasi. "Arjuna... mereka bilang asuransiku dibatalkan sepihak."
Arjuna berdiri di ambang pintu, sosoknya tenang, namun auranya menekan ruangan itu hingga Bramantya tanpa sadar mundur selangkah. "Pemenang lelang belum diputuskan, Bramantya. Dan terkadang, apa yang kau anggap sebagai akhir hanyalah awal dari audit yang tidak kau inginkan."
Bramantya tertawa, namun tawanya terdengar sumbang. "Kau pikir kau siapa? Pecundang yang hanya bisa bicara besar? Jangan sampai aku menyeretmu keluar dari sini dengan paksa."
Setelah Bramantya pergi, Arjuna duduk di sudut koridor, membuka laptopnya. Layar menampilkan file tender yang seharusnya musnah. Ia menekan tombol 'upload' ke server lelang kota. Bukti itu kini siap terpampang di layar raksasa ruang rapat saat palu lelang diketukkan besok. Arjuna tersenyum dingin. Permainan baru saja dimulai.