Aroma Antiseptik dan Penghinaan di Koridor
Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung Arjuna, berpadu dengan kepanikan samar dari para pengunjung kelas VIP yang berjalan terburu-buru. Di koridor Rumah Sakit Medika Utama yang berlapis marmer dingin ini, kemiskinan Arjuna terasa seperti noda yang tidak bisa dihapus. Ia berdiri tegak, meski pakaiannya yang sederhana tampak seperti hinaan di mata staf administrasi yang angkuh.
"Saya sudah bilang, tagihan ini harus dilunasi hari ini, atau pasien dipindahkan ke bangsal umum," ujar staf administrasi itu tanpa menatap Arjuna, jemarinya mengetuk layar komputer dengan ritme yang merendahkan. "Rumah sakit ini bukan tempat penampungan untuk orang yang tidak mampu membayar biaya operasi."
Arjuna menatap layar tersebut. Angka tagihan yang membengkak secara tidak wajar terpampang jelas. Itu bukan sekadar biaya medis; itu adalah jebakan yang dirancang untuk memastikan istrinya, Citra, terusir dari fasilitas ini agar lahan medis yang mereka tempati bisa diserahkan kepada pihak lain. Citra, yang duduk di kursi roda dengan wajah pucat, menyentuh lengan jaket Arjuna. Suaranya bergetar, penuh ketakutan akan memperburuk keadaan.
"Arjuna, jangan... jangan cari masalah. Kita cari cara lain saja. Mungkin kita bisa pinjam ke kerabat..."
Arjuna menatap istrinya, lalu beralih kembali ke staf tersebut. "Tagihan ini salah hitung. Saya punya bukti bahwa prosedur yang kalian klaim tidak pernah dilakukan."
"Bukti?" Staf itu tertawa sinis, menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar. "Anda bicara soal bukti di depan saya? Tuan, sadar diri. Anda hanya seorang pengangguran yang beruntung bisa masuk ke lobi ini. Jangan membuat keributan sebelum satpam menyeret Anda keluar."
Belum sempat Arjuna menjawab, derap sepatu mahal memecah keheningan koridor. Bramantya muncul dengan setelan jas seharga mobil mewah, dikelilingi oleh dua asisten yang sibuk mencatat setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia adalah pemilik tender pengembangan rumah sakit ini, pria yang namanya selalu disebut-sebut di media sebagai filantropis kota—padahal, Arjuna tahu persis bahwa tangan itu berlumuran darah dari tender medis yang dimanipulasi.
Bramantya berhenti tepat di depan Arjuna. Ia melirik tumpukan tagihan yang berserakan di meja administrasi, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya.
"Ah, Arjuna. Masih berkeliaran di sini?" Bramantya menepuk bahu Arjuna dengan kasar, seolah sedang membersihkan debu dari pakaian seorang pelayan. "Aku dengar kau masih mencoba mencari keajaiban untuk istrimu. Tapi, apa gunanya? Di dunia ini, nyawa punya harga, dan kau tidak punya cukup uang untuk membelinya. Lebih baik kau bawa istrimu pulang dan biarkan dia beristirahat di rumah, daripada membusuk di koridor ini."
Citra menunduk dalam, bahunya bergetar hebat. Arjuna tidak melawan secara fisik. Ia hanya berdiri diam, menatap Bramantya dengan ketenangan yang dingin—sebuah kontras tajam dengan ejekan yang diterimanya. Ia tahu, setiap kata yang diucapkan Bramantya hari ini adalah kuku yang akan ia cabut satu per satu nanti.
"Waktu Anda habis, Tuan," Bramantya memberi isyarat kepada satpam. "Keluarkan sampah ini dari fasilitas saya."
Saat satpam mendekat, Arjuna berbisik pelan, suaranya sedingin es yang membelah udara koridor yang panas. "Rumah sakit ini akan menjadi tempat terakhirmu merasa berkuasa, Bramantya."
Bramantya hanya tertawa, menganggapnya sebagai gumaman pecundang yang putus asa. Arjuna membiarkan dirinya digiring keluar dari lobi utama, menuju ruang tunggu staf yang sepi. Begitu pintu tertutup, topeng 'pria pengangguran' itu luruh. Ia melangkah masuk ke ruang tunggu yang kosong, meninggalkan aroma antiseptik yang menyesakkan.
Ia duduk di depan terminal komputer yang ditinggalkan oleh seorang staf. Tangannya bergerak lincah, bukan seperti pria yang dipandang rendah, melainkan seorang komandan yang memetakan medan perang. Sebuah ponsel model lama dengan casing lecet ia hubungkan ke port sistem. Protokol enkripsi militer miliknya mulai bekerja, membongkar firewall yang dibanggakan Bramantya sebagai benteng tak tertembus. Baris-baris data medis berlari kencang, hingga mencapai direktori tersembunyi. Akses Diterima.
Di layar, file tender proyek perluasan rumah sakit yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh Bramantya kini terpampang jelas. Itu adalah bukti korupsi besar yang akan menghancurkan reputasi sang filantropis dalam sekejap. Arjuna menatap layar tersebut, senyum dingin tersungging di bibirnya. Langkah pertama pembalasan telah dimulai.