Pembalikan di Depan Palu Lelang
Udara di ruang lelang Balai Kota terasa berat, dipenuhi aroma kopi mahal dan parfum yang menyengat. Di barisan depan, Bramantya duduk dengan punggung tegak, jemarinya mengetuk meja marmer dengan ritme yang angkuh. Di hadapannya, layar raksasa menampilkan angka-angka tender perluasan Rumah Sakit Medika Utama yang terus merangkak naik. Ia tidak hanya membeli aset; ia sedang membeli dominasi atas nyawa orang-orang yang ia anggap sebagai pion.
Arjuna berdiri di sudut ruangan, bayangannya menyatu dengan kegelapan di balik pilar. Ia tidak butuh kursi VIP untuk mengendalikan situasi. Di saku jasnya, ponselnya telah mengirimkan perintah eksekusi ke server pusat. Bom digital itu bukan sekadar data; itu adalah penghancur reputasi yang dirancang dengan enkripsi militer yang mustahil dilacak.
"Tuan-tuan, penawaran terakhir," suara juru lelang bergema, memecah keheningan yang tegang. "Jika tidak ada lagi yang berani melampaui angka Bramantya Group, palu akan diketuk dalam hitungan detik."
Bramantya menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok Arjuna. Ia tersenyum miring, lalu membuat gestur menggorok leher—sebuah pesan ancaman yang ditujukan pada Citra yang masih terbaring di rumah sakit. Arjuna tidak membalas dengan kemarahan. Ia hanya menatap jam digital di dinding. Tiga detik lagi.
"Tiga... dua..."
Arjuna menekan satu tombol di layar ponselnya.
Detik berikutnya, layar raksasa di depan ruangan berkedip tajam. Suara dengungan sistem yang terganggu memenuhi ruangan. Tiba-tiba, angka tender menghilang, digantikan oleh dokumen-dokumen yang terpampang jelas: catatan transfer dana gelap ke rekening pejabat kota, rekaman suara Bramantya yang memerintahkan manipulasi tender, dan bukti otentik bahwa staf IT-nya telah disuap untuk meretas sistem lelang.
Ruangan itu mendadak sunyi, sebelum meledak dalam bisikan panik. Para investor yang tadi mengelilingi Bramantya kini mundur serentak, seolah pria itu membawa wabah. Wajah Bramantya yang tadinya merah karena percaya diri, kini berubah pucat pasi. Ia berdiri dengan gemetar, mencoba meraih mikrofon, namun suaranya tenggelam oleh riuh rendah makian dari rekan bisnisnya sendiri.
Arjuna tidak menunggu drama itu berakhir. Ia melangkah keluar ruangan, langkahnya tenang dan terukur. Ia telah mengubah papan status kota ini; Bramantya bukan lagi predator, melainkan bangkai yang menunggu untuk dicabik oleh hukum dan rivalnya sendiri.
Begitu ia melangkah keluar ke lobi, ponselnya bergetar. Sebuah pesan anonim muncul di layar: “Permainan yang rapi, Arjuna. Tapi jangan merasa menang. Kamu baru saja membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci. Kami sedang mengawasi.”
Arjuna berhenti sejenak di bawah lampu lobi yang terang. Ia menghapus pesan itu tanpa ragu. Ia tahu, kejatuhan Bramantya hanyalah pembuka. Di balik bayang-bayang, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang kini mulai meliriknya. Ia tidak lagi menjadi pecundang yang dihina di koridor rumah sakit; ia kini adalah pemain yang harus diwaspadai.