Novel

Chapter 11: Kehancuran Sang Penguasa Kartel

Arjuna mengeksekusi kejatuhan akhir Bramantyo di ruang lelang melalui bukti audit forensik, menghancurkan reputasi dan aset musuhnya secara permanen. Setelah Bramantyo tersingkir, Arjuna mengungkap keberadaan organisasi bayangan 'The Syndicate' yang menjadi ancaman baru, menandai dimulainya perang yang lebih besar.

Release unitFull access availableIndonesian / Bahasa Indonesia
Full chapter open Full chapter access is active.

Kehancuran Sang Penguasa Kartel

Lampu kristal di Ruang Lelang Plaza Kota memantul tajam di atas meja mahoni, menyinari wajah Bramantyo yang pucat pasi. Pria yang dulu mendikte harga pasar itu kini berdiri di depan mimbar dengan tangan gemetar. Di depannya, para investor kelas kakap yang biasanya menjilat kakinya, kini menatap dengan tatapan dingin dan berjarak. Mereka tidak lagi melihat seorang penguasa, melainkan bangkai bisnis yang menunggu untuk dibuang.

“Tuan-tuan, ini hanya kesalahan administrasi teknis,” suara Bramantyo parau, berusaha menutupi keputusasaan yang merayap di setiap kalimatnya. “Saya menjamin dana akuisisi rumah sakit akan cair dalam hitungan jam.”

Arjuna melangkah masuk ke ruangan, langkahnya tenang namun memberikan tekanan yang membuat atmosfer mendadak beku. Ia tidak mengenakan setelan mahal, namun kehadirannya mereduksi kemewahan ruangan itu menjadi latar belakang yang tidak relevan. Di belakangnya, Maya berdiri dengan kepala tegak, matanya kini penuh dengan keyakinan yang dulu sempat hilang.

“Kesalahan administrasi?” suara Arjuna memecah keheningan, tajam dan tanpa emosi. Ia meletakkan sebuah map biru di atas meja lelang—bukti final dari audit forensik yang ia eksekusi semalam. “Bramantyo, rekening penampung yang kau gunakan untuk menyuap panitia tender telah dibekukan oleh otoritas pusat sejam yang lalu. Kau tidak sedang mengurus administrasi. Kau sedang mengurus kebangkrutanmu sendiri.”

Seketika, ruang lelang gempar. Para investor yang tadi ragu kini berbisik kencang, menarik diri dari Bramantyo seolah ia membawa wabah. Bramantyo berusaha menggapai mikrofon, namun petugas keamanan gedung—yang kini berada di bawah instruksi pihak yang disewa Arjuna—mengiringnya keluar. Statusnya runtuh menjadi nol dalam hitungan detik.

Di lobi Plaza Kota yang masih menyisakan keriuhan, Maya mendekati Arjuna di balik pilar pualam yang dingin. Napasnya memburu, namun matanya menyiratkan kejernihan baru. “Kau sudah tahu semuanya sejak awal, bukan? Semua bukti itu... itu bukan kebetulan.”

Arjuna berbalik perlahan. Tatapannya sedingin baja. “Keberuntungan tidak punya tempat di ruang lelang, Maya. Yang ada hanyalah persiapan dan harga yang harus dibayar.” Arjuna menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal. Di dalamnya terdapat salinan dokumen yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar bukti korupsi tender. Itu adalah jejak aliran dana gelap yang mengarah ke atas, jauh melampaui jangkauan Bramantyo. Sebuah nama tercetak tebal di sana: The Syndicate.

“Ini bukan akhir,” suara Arjuna rendah namun penuh otoritas. “Ini adalah pembuka kotak pandora. Bramantyo hanyalah pion yang rusak. Syndicate tidak mentoleransi kegagalan.”

Di basement gedung tua yang lembap, Arjuna menemui Rian. Pria itu gemetar, jemarinya tak henti mengetuk layar tablet yang menampilkan grafik anjloknya saham perusahaan Bramantyo. “Semua aset sudah dibekukan, Tuan. Bramantyo bahkan tidak bisa menyewa pengacara kelas teri sekarang,” ujar Rian dengan suara parau.

Arjuna melempar laporan audit internal ke meja besi. “Siapa yang mengirimkan ini ke emailku kemarin malam?”

“Saya tidak tahu, Tuan! Saya hanya pion,” pekik Rian. “Ada ‘orang dalam’ di jajaran direksi Syndicate yang membocorkan ini! Tapi enkripsinya unik. Mereka menggunakan kode yang hanya bisa diakses oleh mereka yang berada di puncak hierarki. Jika mereka tahu saya bicara, saya akan lenyap.”

Arjuna menatap layar tablet Rian. Di sana, sebuah pesan dari nomor anonim muncul: “Bramantyo hanyalah awal. Kami mengawasi setiap langkahmu, Arjuna.”

Arjuna berdiri di balkon lantai empat puluh gedung pencakar langit milik Bramantyo yang kini ia kuasai. Lampu kota Jakarta tampak seperti hamparan permata yang dingin di bawah sana. Ia menghapus pesan tersebut, namun ancamannya telah terpatri dalam memori. Musuh utama telah jatuh, namun sebuah nama organisasi rahasia kini muncul di balik layar, menantang dominasinya. Arjuna menatap cakrawala kota, menyadari bahwa perang yang sebenarnya baru saja dimulai.

Member Access

Unlock the full catalog

Free preview gets people in. Membership keeps the story moving.

  • Monthly and yearly membership
  • Comic pages, novels, and screen catalog
  • Resume progress and keep favorites synced