Konfrontasi Terakhir yang Tertunda
Plaza Kota tidak pernah terasa sedingin ini. Di bawah lampu neon yang berkedip, Arjuna berdiri dengan tangan terlipat di balik punggung, menatap Bramantyo yang kini tampak seperti sisa-sisa kejayaan yang membusuk. Jas sutra pria itu kusut, dasinya miring, dan matanya yang dulu memancarkan arogansi penguasa kini hanya menyisakan ketakutan akan kehampaan.
"Kau pikir kau sudah menang, bajingan?" suara Bramantyo parau, pecah oleh amarah yang tak lagi memiliki taring. Dua pengawal di belakangnya tetap mematung, otot mereka menegang, namun mereka tidak berani melangkah maju. Mereka telah menyaksikan bagaimana Arjuna melumpuhkan reputasi Bramantyo di ruang lelang pagi tadi. Melawan pria di depan mereka bukan lagi soal keberanian, melainkan bunuh diri.
Arjuna tidak membuang napas untuk membalas teriakan itu. Ia melangkah maju, setiap derap sepatunya di atas lantai plaza terdengar seperti lonceng kematian bagi kekuasaan Bramantyo. "Kota ini tidak pernah menjadi milikmu, Bramantyo. Kau hanya penyewa yang lupa membayar biaya sewa. Dan sekarang, pemilik aslinya sudah kembali untuk menagih semuanya."
Bramantyo tertawa sumbang, sebuah usaha menyedihkan untuk mempertahankan sisa harga diri. "Omong kosong. Aku masih memegang kendali atas aset properti di distrik pusat. Aku punya dana cadangan yang tidak bisa disentuh siapa pun!"
Arjuna berhenti tepat di depan Bramantyo. Ia mengeluarkan sebuah tablet tipis dari balik jaketnya, menampilkan deretan angka merah yang terus bergerak turun. "Periksa ponselmu. Bukan dana cadangan yang kau miliki, melainkan utang yang sudah kubeli melalui pihak ketiga. Semua asetmu, properti di distrik pusat, hingga rekening operasional yang kau banggakan, sekarang berada di bawah kendaliku. Kau bukan lagi penguasa. Kau hanyalah pion yang sedang menunggu waktu untuk disingkirkan."
Bramantyo merogoh saku dengan tangan gemetar. Saat ia melihat notifikasi pembekuan aset dari bank sentral, wajahnya berubah pucat pasi. Ia jatuh terduduk, dunianya runtuh dalam hitungan detik. Kehancuran finansialnya bukan lagi ancaman, melainkan fakta yang tak terbantahkan.
Di koridor VIP Rumah Sakit Medika, Maya menunggu dengan napas tertahan. Bau disinfektan yang tajam seolah menusuk kesadarannya, namun ia tidak bisa berpaling dari pintu masuk. Ketika Arjuna muncul dari balik tikungan, Maya segera mencegatnya. "Siapa kamu sebenarnya, Arjuna?" tanyanya, suaranya bergetar namun menuntut jawaban.
Arjuna berhenti, menatap Maya dengan ketenangan yang dingin. "Aku hanya seseorang yang tidak suka melihat tatanan yang rusak, Maya."
"Tapi kau ada di setiap titik balik itu! Bramantyo jatuh, Pak Surya ditangkap... kau memegang kendali atas nasib mereka semua," sahut Maya, matanya mencari kebenaran di balik tatapan Arjuna.
Arjuna menyerahkan tablet berisi bukti keterlibatan organisasi misterius yang selama ini mendanai kartel Bramantyo. "Bramantyo hanyalah cangkang. Ada kekuatan yang lebih besar di balik ini semua, dan mereka sekarang mengincar kita. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kau butuh benteng yang kuat."
Kembali ke ruang kerjanya yang dingin, Arjuna menatap layar ponselnya. Rian berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi setelah menyerahkan laporan akhir pembekuan aset Bramantyo. Arjuna menyesap kopinya, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang menghadap kota. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul—sebuah nama organisasi: 'The Syndicate'.
Musuh utama telah jatuh, tetapi saat Arjuna membaca pesan itu, ia tahu bahwa permainan ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya. Ia tidak tersenyum, namun matanya berkilat tajam. Perburuan baru saja dimulai.