Pembalikan Status Publik
Bau disinfektan rumah sakit yang biasanya menyengat di koridor kini telah berganti menjadi aroma parfum mahal yang bercampur dengan keringat dingin para investor. Di dalam ruang lelang utama yang megah, keheningan terasa lebih mencekam daripada teriakan. Arjuna berdiri tegak di dekat podium, tatapannya dingin, mengunci pergerakan Bramantyo yang kini tampak seperti hewan buruan yang terpojok.
"Ini fitnah! Dokumen ini palsu!" raung Bramantyo. Wajahnya yang biasanya dipoles dengan citra filantropis kini memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat ia mencoba merampas map yang dipegang oleh Haryo. Namun, Haryo, yang kini telah sepenuhnya berbalik arah di bawah tekanan bukti transfer ilegal yang dipegang Arjuna, menarik map itu dengan gerakan tegas.
Arjuna melangkah maju, memutus jarak di antara mereka. "Bukti transfer ke rekening Pak Surya tidak pernah berbohong, Bramantyo. Begitu pula dengan catatan audit yang baru saja dikirimkan ke dewan pengawas sepuluh menit lalu," suaranya rendah, namun bergema ke seluruh ruangan. Di barisan depan, para investor yang dulunya memuja Bramantyo kini saling berbisik, menjauhkan kursi mereka dari pria yang baru saja kehormatannya dilucuti. Maya, yang berdiri tidak jauh dari Arjuna, menatap pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia baru menyadari bahwa pria yang dianggapnya sebagai pesuruh rendahan ini adalah arsitek di balik kehancuran kartel yang selama ini mencekik rumah sakitnya.
Beberapa jam kemudian, di koridor VIP rumah sakit, Maya mencegat Arjuna. Napasnya memburu, matanya memancarkan campuran antara kelegaan yang luar biasa dan ketakutan yang mendalam. "Pak Surya ditangkap, Bramantyo dipermalukan di depan publik... dan semua bukti itu muncul tepat saat aku hampir kehilangan segalanya," ucap Maya pelan. Ia menatap punggung Arjuna, mencoba membedah isi kepala pria yang selama ini ia anggap hanya pesuruh tak berarti.
Arjuna tidak menoleh. Ia tetap menatap ke arah parkiran di mana mobil-mobil mewah mulai berhamburan meninggalkan area rumah sakit. "Dunia lelang memang kejam, Maya. Terkadang, kebenaran hanya butuh sedikit dorongan untuk keluar dari persembunyiannya," jawab Arjuna tenang. "Siapa kamu sebenarnya, Arjuna? Orang biasa tidak memiliki akses ke transfer ilegal Bramantyo. Orang biasa tidak bisa memanipulasi tender sebesar ini."
Arjuna berbalik, menatap Maya dengan intensitas yang membuat wanita itu terdiam. "Aku adalah orang yang memastikan rumah sakitmu tetap berdiri. Fokuslah pada operasionalmu, Maya. Pertempuran yang sebenarnya baru saja dimulai."
Saat Arjuna kembali ke ruang kerjanya yang remang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan terenkripsi muncul: 'Dewa Perang tidak seharusnya bermain di kolam ikan kecil. Kami mengawasi langkahmu.' Rian, sekretaris Maya yang kini menjadi pionnya, berdiri mematung di depan pintu dengan wajah pucat. "Mereka tahu, Tuan Arjuna. Bukan hanya Bramantyo. Dewan Pengawas mulai bergerak."
Arjuna meletakkan ponsel itu di atas meja kayu solid. "Bramantyo hanyalah pion yang sudah habis masa pakainya. Jika Dewan Pengawas ingin turun tangan, biarkan mereka datang."
Keesokan sore, Plaza Kota dipenuhi oleh kerumunan wartawan yang haus akan darah korporasi. Bramantyo muncul dengan jas yang tampak kusut, sebuah pemandangan yang tak terbayangkan. Ia menunjuk Arjuna yang baru saja keluar dari mobil hitamnya. "Arjuna! Kau pikir kau sudah menang? Kau hanya tikus got yang beruntung menemukan dokumen curian!"
Arjuna berhenti tepat lima langkah di depan Bramantyo. Ia mengeluarkan sebuah map kulit tipis—bukti final yang mengunci nasib Bramantyo di hadapan publik. "Permainan sudah berakhir, Bramantyo. Dan kau baru saja kehilangan segalanya," bisik Arjuna, suaranya dingin, menetapkan panggung bagi konfrontasi klimaks yang akan menghancurkan sisa-sisa pengaruh musuhnya.