Konspirasi di Balik Tender Publik
Bau disinfektan di ruang tunggu Medika Sentral biasanya menenangkan, namun bagi Maya, aroma itu kini terasa seperti bau bangkai bisnis yang membusuk. Di hadapannya, Arjuna berdiri tenang, membelakangi jendela yang menampilkan pemandangan kota yang mulai sibuk. Di atas meja kayu mahoni, sebuah map kulit hitam tergeletak—bukan berisi proposal tender, melainkan bukti transfer ilegal antara Bramantyo dan Haryo, pejabat tinggi yang memegang kunci tender publik pagi ini.
"Rian sudah menyerahkan proposal palsu itu kepada orang-orang Bramantyo," suara Arjuna datar, tanpa emosi. "Mereka akan masuk ke ruang lelang dengan penuh percaya diri, membawa data yang sudah kita manipulasi agar terlihat seperti kesepakatan suap yang sangat menguntungkan. Begitu mereka membukanya di depan komite, mereka tidak hanya kalah, mereka akan terseret dalam skandal hukum."
Maya menatap map itu dengan tangan gemetar. "Jika ini gagal, kita kehilangan segalanya, Arjuna. Bramantyo punya koneksi di kepolisian."
"Bramantyo punya koneksi di kepolisian, tapi aku punya bukti yang membuat koneksinya tidak berguna," potong Arjuna. Ia menatap Maya, tatapannya tajam, menuntut kepatuhan. "Pukul 08.00, kau akan berjalan ke ruang lelang sebagai pemenang. Jangan tunjukkan keraguan sedikit pun."
Pukul 07.50. Gedung Pusat Tender Kota dipenuhi oleh para elit yang haus akan kekuasaan. Bramantyo melangkah masuk dengan setelan jas mahal, dikelilingi oleh pengawal dan beberapa rekan bisnis. Ia berhenti tepat di depan Arjuna yang berdiri di sudut ruangan, menyeringai sombong.
"Arjuna, kau masih berani menunjukkan wajahmu di sini?" Bramantyo tertawa, suaranya bergema di aula. "Proposal ini adalah kunci kehancuran bosmu. Pak Surya sudah menjamin tender ini jatuh ke tanganku. Kau hanyalah sampah yang akan segera disapu keluar dari kota ini."
Arjuna tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menatap jam dinding yang berdetak mendekati angka delapan. "Waktumu habis, Bramantyo."
Tepat pukul 08.00, moderator membuka sesi. Bramantyo dengan angkuh memerintahkan kurirnya untuk menyerahkan map cokelat tersebut. Namun, saat Pak Surya—pejabat tinggi yang duduk di kursi kehormatan—membuka dokumen tersebut, wajahnya berubah pucat pasi. Itu bukan proposal tender. Itu adalah salinan kontrak kerja sama ilegal yang menghubungkan firma Bramantyo dengan akun rahasia miliknya, lengkap dengan bukti transfer yang Arjuna peroleh dari Rian.
"Apa ini?" suara moderator bergetar saat membacakan rincian aliran dana yang terpampang di layar proyektor besar. Keheningan mencekam menyelimuti ruangan, sebelum akhirnya pecah menjadi riuh rendah. Arjuna melangkah maju, membiarkan ponselnya memutar rekaman suara jernih—percakapan antara Rian dan Bramantyo mengenai suap tender.
Bramantyo terhuyung, wajahnya memerah padam. Pak Surya, yang mencoba berdiri untuk membela diri, justru diseret keluar oleh petugas keamanan yang telah Arjuna siapkan sejak subuh. Di tengah kekacauan itu, Arjuna menatap Bramantyo yang kini kehilangan segalanya di mata para investor. Ini bukan sekadar kemenangan tender; ini adalah eksekusi reputasi yang mengubah hierarki kota secara permanen.